
Seminggu berlalu kini Daffa telah pulih seperti sedia kala. Dia makin aktif dan ceria membuat para pengasuh terkadang sedikit was-was dengan tingkahnya.
"Dek, Mami kan tidur, Abang mau bikin balon dari sabun. Adek mau ikutan?" Vano turun dari kasur Maminya diikuti oleh Daffa
"Mau" mereka berjalan melewati walk in closet menuju toilet.
"Tapi nanti kalau Mami marah, bilangnya kamu yang main ya?"
"Iya"
"Awas jangan bilang Abang!" ancam Vano.
Keduanya masuk ke dalam toilet di kamar orangtuanya. Vano mengisi bathup dengan air kemudian menuangkan sabun mandi milik orangtuanya. Dia membuat busa sabun sangat banyak kemudian bermain bersama adiknya.
"Banyaak deek busanya tapi gak bisa jadi balon" ucap Vano
"Huum" mereka terus mengobok-obok air busa tersebut sambil tertawa senang hingga baju mereka basah.
"Dek..jangan di buang ke lantai, nanti lantainya licin." Vano melarang Daffa yang sibuk membuang busa sabun ke lantai kamar mandi.
Daffa tak hentinya memukul-mukul air dan busanya hingga berhamburan. Mereka tertawa senang. Tiba-tiba cipratan air sabun mengenai mata Vano.
"Aww.... Peerriiiihhhh..periiiihhh..." Vano menangis kencang sambil menutup matanya.
"Mamiiiiiii perih Miiiiii"
"Mamiiiiiiii" teriak Vano dan Daffa bersamaan membuat Tasya tersentak kaget.
"Abang?" Tasya segera bangkit
"Miiii mata aku periiihhh"
Tasya setengah berlari menuju kamar mandi.
"Astaghfirullah..." dengan tergesa Tasya masuk ke dalam toilet. Dia terpeleset hingga jatuh terduduk dan segera bangkit.
Tasya menyalakan shower, membilas mata Vano hingga bajunya ikutan basah.
"Udah. Udah buka matanya." ucap Tasya
Tasya nampak kaget melihat mata Vano yang memerah.
"Ya Allah.. Kedip-kedip lagi. Sini Mami bilas lagi"
Vano patuh sambil menangis sementara Daffa hanya melongo ketakutan.
"Abang kenapa malah main sabun kayak gini." Tasya melirik botol sabun miliknya yang telah kosong.
"Ya Allah Baaaang... "
"Bukan aku Mi. Tapi adekk yang mainin."
"Gak mungkin adek ngajakin. Pasti Abang yang mulai!"
"Iya Adek yang tuangin semuanya. Bukan aku!" ucap Vano sembari menangis.
Matanya masih terlihat memerah.
"Kalian diam dulu disini. Mami panggil Mbak."
Tasya segera keluar dari kamar mandi setelah menyiram lantai toilet.
"Mbaaakkk.. Mbaaakkk" Tasya berteriak kencang.
Kedua pengasuh mereka menghampiri Tasya yang panik.
"Tolong urus anak-anak di kamar mandi. Vano kena busa sabun matanya. Aku mau telepon A Reza dulu."
Tasya segera menghubungi suaminya. Lama tak ada jawaban disana hingga Tasya menghubunginya berkali-kali sambil tak tenang.
"Papi lagi meeting Mi. Kenapa?"
"Vano kena sabun matanya Pi. Itu gimana? Pak Budi gak ada sama Papa." ucap Tasya panik.
"Mami duluan aja ke dokter pakai g-car Mi. Nanti Papi nyusul."
Tasya mematikan sambungan teleponnya. Dia segera mengambil handuk dan juga baju anak-anaknya.
"Masih merah? Sini Mami lihat" Tasya menarik lengan anaknya.
"Mata aku gak enak Mi. Masih perih."
"Yuk kita ke dokter aja."
"Adek gak apa-apa?" kini Tasya menarik Daffa.
"Sama Daffa airnya dipukul-pukul Mi jadi kena mata aku" suara lantang Vano membuat Daffa menciut.
"Abang gak mau lagi main sama Daffa!" Vano menatapnya marah.
"Main!" Daffa berteriak
"Enggak!"
"Maiin!" Daffa menangis.
"Stop!" keduanya terdiam menahan tangis.
"Mbak, aku bawa Vano ke dokter dulu ya. Titip Daffa." ucap Tasya.
"Abang tunggu Mami. Mami ganti baju dulu."
Tasya segera mengganti bajunya setelah mereka keluar dari kamarnya. Dengan tergesa Tasya menuju g-car yang menunggunya.
Vano nampak tertidur setelah tiba di rumah sakit. Tasya yang tak tega menggendong putranya masuk ke dalam rumah sakit. Vano terbangun saat Tasya duduk di loket pendaftaran.
"Aku turun Mi." ucap Vano.
Mereka kini berjalan menuju poliklinik mata.
"Dokternya masih visit ke ruang rawat inap. Ditunggu saja ya Bu" ucap perawat.
Hampir satu jam Tasya dan Vano menunggu dokter tersebut.
"Mami dimana? Papi udah di parkiran Mi." ucap Reza saat sambungan teleponnya terhubung.
"Masih di poli mata Pi."
"Ya udah tunggu. Papi kesana sekarang." Reza mematikan sambungan teleponnya.
"Papi kesini Mi?" tanya vano
"Iya Bang."
"Aku haus Mi."
"Tunggu Papi aja dulu."
Tak berapa lama Reza tiba. "Piiii" Vano berlari ka arah Reza. Reza segera menangkap wajah anaknya melihat mata sang anak yang memerah.
__ADS_1
"Kok bisa sih Mi?" Tanya Reza menghampiri istrinya
"Pi, aku ke toilet dulu deh." Tasya tak menghiraukan Reza.
"Mami mau kemana Mi?" tanya Vano
"Ke toilet sebentar." Tasya meninggalkan kedua lelakinya menuju kamar mandi. Raut wajahnya berubah seketika. "Astaghfirullah.."
Dia bergegas menuju poli mata kembali, namun tak ada Reza dan Vano disana.
"Sudah masuk Bu." ucap salah satu pasien pada Tasya
"Oh. Terima kasih." Tasya masuk ke dalam ruangan. Mereka telah selesai di periksa.
"Jadi gimana dok?"
"Gak apa-apa bu. Nanti kita kasih tetes mata saja."
"Alhamdulillah.. Saya sudah panik, Dok."
"Gak apa-apa Bu. Karena sudah di bilas langsung kan sama air bersih."
"Iya dok."
Keduanya pamit meninggalkan ruangan dokter tersebut.
"Pi.. "
"Mami keluar darah, Pi." Reza sedikit tersentak.
"Kok bisa? Langsung aja ke poli kandungan Mi, mumpung disini."
Reza mengurus pendaftaran Tasya. Sementara Tasya dan Vano menunggunya.
"Bukan dokter Felly. Tapi gak apa-apa. Urgent soalnya." ucap Reza
"Mudah-mudahan anak kita gak apa-apa Mi." Reza mengelus punggung tangan istrinya.
"Makanya kamu jangan nakal! Bisa gak sih gak berulah, Van!" Reza menatap anaknya
"Bukan aku, Pi! Daffa yang masukin sabunnya sama buang-buang ke lantai! Jadi Maminya kepleset!" Vano emosi.
"Mami jatuh?" Reza sedikit terkejut.
"Kepleset sampai duduk, Pi. Kayak gini nih" Vano memperagakan.
"Bangun. kotor, Bang."
"Astaghfirullah.. Mudah-mudahan kuat Mi." Reza sedikit resah.
"Kok Mami gak bilang?"
"Aku pikir gak apa-apa Pi."
"Bisa gak sih kamu jadi contoh yang baik Bang?" Reza kembali memarahi anaknya.
"Malu sama orang Pi, jangan marah-marah disini" Tasya memegang tangan suaminya.
Reza terdiam. Mengatur emosinya.
"Pi, ini rasanya makin banyak keluarnya. Papi beliin dulu pembalut coba Pi." pinta Tasya
Tak banyak bicara, Reza segera pergi meninggalkan mereka.
***
Reza dan Tasya nampak terdiam. Raut wajah Reza teelihat sangat bersedih.
"Baru 5 minggu lebih kan ya?" Tanya dokter seraya duduk kembali di kursinya.
"Iya dok." ucap Reza lemah
"Ya memang rawan. Apalagi ada riwayat keguguran ditambah tadi katanya jatuh di kamar mandi juga. Mau gak mau ya kita harus bersihkan."
Tasya dan Reza masih membisu.
"Sudah tahu kan ya prosedur kuret seperti apa." doketrelirik keduanya bergantian.
"Iya dok."
"Kalau mau, kita jadwalkan saja untuk besok pagi."
"Baik dok."
Reza nampak terpukul dengan kejadian yang dialami Tasya. Anak yang dia idamkan harus gugur begitu saja. Mereka pulang tanpa banyak bicara. Sementara Vano masih mengoceh mengajaknya bicara.
" Berisik tahu gak! Banyak bicara kamu!" bentak Reza yang membuat Tasya dan Vano kaget.
Seketika Vano terdiam menahan tangisnya.
"Bisa gak sih kamu jadi anak baik! Lihat! Adek kamu harus gugur begitu gara-gara kamu!" Reza menampakan raut wajah menyeramkan untuk Vano.
"Maaf Pi, Mami yang gak bisa jaga diri bukan anak-anak"
"Bukan salah Mami. Dia tuh berulah terus!"
"Bukan aku! Daffa yang buang-buang busa sabun ke lantai! Papi jahat nyalahin aku terus!"
"Sama aja! Dia gak akan berulah kalau kamu gak ngajarin!" ketus Reza
"Papi nyalahin Abang terus!" Vano menangis
"Udah. Udah. Mami mules tahu gak! Papi gak usah nyalahin anak. Udah takdirnya begini!"
"Kalau dia gak nakal, Mami gak bakalan jatuh di toilet." ketus Reza
"Lagian buat apa punya pengasuh kalau gak becus jaga mereka!" Reza nampak meluap-luap
"Mereka main di kamar kita Papi. Pengasuh juga gak berani kalau anak-anak lagi di kamar kita. Papi kan tahu sendiri!" Tasya membela pengasuhnya.
Reza terdiam.
Mereka membisu hingga tiba di rumah. Reza nampak emosi, dia masuk ke dalam kamarnya. Tak lama, dia keluar kembali.
"Mbaaakk.. Bersihin kamar mandi saya!" Reza berteriak
"Papi!"
"Diem Mi!" Reza berkacak pinggang.
"Sudah dibersihkan Pak tadi begitu Ibu pergi ke rumah sakit." ucap Mbak Diah.
"Mbak Uji mana?" tanya Reza kemudian
"Ada sama Daffa. Biar saya panggilkan Pak." ucap Mbak Diah gugup.
Uji datang dengan sedikit takut melihat raut wajah Reza.
"Mbak! Jaga anak-anak yang betul dong! Jangan di tinggal-tinggal! Mbak udah saya bebaskan melakukan apapun! tapi tolong, Jaga anak-anak yang bener!" ketus Reza
__ADS_1
"Papi! Bisa gak sih gak usah marah-marah!"
"Mbak tinggalin aja Mbak." titah Tasya membuat Mbak Uji nampak bingung dan ketakutan. Baru kali ini Reza semarah ini pada mereka.
"Lihat! Fatal kan akibatnya! Kalau mereka di jaga, itu anak-anak gak mungkin main sabun!"
"Mami yang salah Pi. Mami ketiduran saat jaga mereka."
"Ya tapi gak bisa gitu dong Mi! Tetep aja mereka punya tugas dan tanggung jawab!"
"Maafkan saya Pak. Saya salah." MBak Uji membuka suara.
"Lain kali saya gak mau lagi ada kejadian kayak begini!" ucap Reza.
"Udah Mbak. Tinggalin aja." ucap Tasya
Tasya masuk ke dalam kamarnya merebahkan diri di atas kasurnya dengan perut yang sedikit mulas.
Reza yang melihat istrinya sedikit tak tega.
"Sakit Mi?" Reza mendekati istrinya
"Mules doang. Kayak menstr*asi kok"
"Iya karena belum aja janinnya"
"Papi, Mami gak suka Papi bersikap kayak begitu ke semua orang."
"Kalau gak di gituin mereka keenakan Mi! Kurang apa coba kita sama mereka? Harusnya mereka tuh lebih bener-bener kerjanya!" Reza masih emosi
"Pi, Mami lagi mules. Denger Papi marah-marah kayak begitu tuh kesel tahu gak!" Tasya memarahi suaminya.
Reza terdiam. Mereka menghabiskan waktunya di kamar. Tasya sengaja tak banyak bergerak karena merasa tak nyaman. Anak-anak mereka tak berani menghampiri setelah mendengar Papinya marah besar.
"Pi, lihat anak-anak dong. Kok gak ada kesini mereka."
"Biarkan saja Mi. Biar jera mereka."
"Pi, kok gitu?"
"Ya Mami kalau mau lihat saja sendiri." ketusnya
"Iya mau!" Tasya segera turun dari kasurnya. Dia menghampiri sang anak dan kedua pengasuhnya di kamar.
"Mbak maaf ya, A Reza udah marah-marah.
"Kita yang minta maaf Bu. Kita gak tahu. Maafkan kami." ucap mbak Diah penuh sesal
"Gak apa-apa Mbak. Sudah takdirnya harus begini."
"mi, maafkan abang ya" Vano menangis. Daffa ikut menangis dengan suara kencang. "Mamiiii" Tasya memeluk kedua anaknya.
Mbak Uji yang menyesalpun ikut meneteskan air mata. "Aku juga minta maaf, Bu." ucapnya terisak.
"Udah aku gak apa-apa" Tasya menghibur mereka.
Mbak Diah nampak berkaca-kaca.
"Aku besok pagi berangkat ya, titip anak-anak ya Mbak. Besok paling telat juga sore baru pulang." ucap Tasya
"Iya Bu."
"ya udah, anak-anak biar sama aku aja Mbak. Kayaknya udah pada ngantuk juga. Mbak istirahat aja." titah Tasya
Tasya menidurkan kedua anaknya. Dia ikut pulas di samping Daffa semetara Vano tidur di kasur bawah.
Reza masuk ke dalam kamar. Dia melihat Tasya dan kedua anaknya tengah terlelap.
Reza duduk di bibir kasur milik Vano. Dia menatap anaknya. Mengusapnya lembut. Kini dia membangunkan istrinya.
"Mi.. Pindah yuk? Sempit disitu."
"Gak apa-apa." Tasya memalingkan tubuhnya
"Mi.. Ayo pindah." Reza memaksanya. Tasya segera bangkit agar anak-anaknya tidak terganggu oleh suara mereka.
Reza menuntun Tasya keluar dari kamar anaknya.
"Masih mules sayang?"
"Huum." Tasya duduk di bibir kasur sementara Reza bersimpuh dihadapannya. Dia mengelus perut Tasya membuat Tasya terenyuh.
"Maaf ya Pi." Tasya meneteskan air matanya.
"Hhh.. Moga kita bisa dipercaya lagi ya Mi." kini Reza bangun. Duduk disebelah Tasya.
Tasya bersandar di lengan Reza. "Maaf Mami gak bisa jaga" ucapnya
"Gak apa-apa sayang. Kita bisa ikhtiar lagi." Reza mencoba menghibur walau sebenarnya dia sangat terpukul.
"tidur yuk? Besok kita harus ke rumah sakit." ajak Reza.
Keesokan harinya Tasya menjalani pembersihan rahim ditemani oleh Reza. Reza menunggunya dengan sabar sambil sesekali membuka ponsel dan menerima laporan dari Sekretarisnya.
Lama menanti akhirnya Tasya keluar ruangan masih tertidur pulas.
"Bangunkan saja, Pak" ucap Perawat
"Mi.. Mami.. Bangun Mi.. " Reza mencoba membangunkannya.
***
Reza menuntun istrinya masuk ke dalam rumah. Disana anak-anak menyambutnya pulang.
" Gimana Sya?" tanya Papa Mertua
"Alhamdulillah lancar Pa."
"sudah istirahat dulu aja" ucap Pak Danu
Reza membawa Tasya naik ke kamar mereka. Tasya segera merebahkan tubuhnya. Tak berapa lama, Vano dan Daffa ikut masuk ke dalam kamar mereka.
"Mi.. Ini buat Mami." Vano memberikan kertas yang telah di lipat-lipat olehnya.
"Buka Mi" Vano menatap tangan Tasya sementara Reza hanya meliriknya.
Tasya menatap tulisan dari anaknya yang masih acak-acakan.
"I love you Mami" Tasya merasa terharu melihat deretan huruf tersebut. Kertas gang tadi dilipatnya tadi membentuk sebuah hati. Dia menatap anaknya kemudian memeluk mereka.
"Love you too jagoan-jagoan Mami" ucap Tasya seraya mengecup mereka satu persatu.
.
.
.
Maaf ya, aku jarang up BSN. Kemungkinan BSN akan berakhir. Tolong bantu like, komen dan vote juga yaaa.. Terima kasih ^^
__ADS_1