BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Perhatian Reza


__ADS_3

"Sya, Ayo bangun" ucap Reza yang melihat sang istri masih terlelap.


"Sayang kita harus ke dokter" ajak Reza. Dia memegang tangan Tasya.


"Eh.. " tangannya kini beralih memegang kening sang istri.


"Panas" ucapnya


"Sya, ayo ke dokter sayang. Kamu panas begitu." ajak Reza


Tasya masih memejamkan matanya. Dia sebenarnya tidak tidur. Tapi rasa pusing yang membuatnya enggan membuka mata.


Reza segera mandi, dia sangat mengkhwatirkan istrinya. Selama hamil, baru kali ini Tasya sakit.


Reza segera keluar kamar. Dia menghampiri Bi Tinah.


"Bi, boleh minta tolong belikan bubur untuk Tasya?" tanya Reza


"Tentu Za. Tasya kenapa?" tanya Bi Tinah


"Sakit bi. Badannya panas. Reza mau bawa dia ke dokter hari ini" ucap Reza


"Iya. Bawa saja ke dokter, kalau lagi hamil tidak boleh minum sembarang obat" ucap Bi Tinah


"Ya sudah, bibi belikan dulu buburnya"


"Terimakasih bi" ucapnya


Reza masuk kembali ke dalam kamar. Dia melihat Tasya masih merebahkan badannya.


"Pusing sayang?" tanya Reza


Tasya mengangguk.


"Sabar ya sayang. Sebentar lagi kita ke dokter" ucap Reza seraya mendekat kemudian mengelus rambut sang istri.


"Aku mau minum A" ucap Tasya dengan suara yang hampir tak terdengar.


Reza segera mengambil air minum untuk istrinya. Kemudian memberikannya kepada sang istri.


"Aa lap saja ya, gak usah ke kamar mandi" ucap Reza


"Aku mau buang air kecil A" ucap Tasya


Rasa ngilu menjalar saat Tasya menginjakan kakinya ke lantai. Dia bergegas ke kamar mandi dengan kepala berat.


Tak lama dia keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka.


"Ganti bajunya sekian sayang" ucap Reza


Tasya patuh. Dia segera mengganti bajunya. Tak lama suara pintu kamar mereka di ketuk. Reza segera membukanya dan bicara dengan bi Tinah yang membawakan bubur ke kamar mereka.


"Makan dulu sayang" pinta Reza


"Aku gak lapar a" ucap Tasya


"Makan dulu, semalam kamu gak makan Sya. Sedikit saja ya" bujuk Reza


Reza menyendokan bubur kemudian meniupnya pelan dan mengarahkannya ke mulut sang istri. Tapi Tasya enggan membuka mulutnya.

__ADS_1


"Sayang, biar ada tenaganya ya. Biar Mami dan Dedek cepat pulih sayang" ucap Reza


Tasya membuka sedikit mulutnya. Dia memakan hanya setengah sendok yang diberikan Reza.


"Sudah" tolak Tasya yang merasa sangat pahit mulutnya


"sepuluh suap lagi ya sayang" bujuk Reza


"Gak mau" tolak Tasya


"Ya sudah sembilan suap lagi" bujuk Reza lagi


"satu suap lagi" tawar Tasya


"Lima suap ya. Gak boleh nolak" Ucap Reza tegas.


Tasya tak membantah. Dia segera memakannya dengan enggan. Rasanya sangat sulit untuk menelan makanan.


Sisa buburnya masih sangat banyak sehingga memgharuskan Reza menghabiskan sisa bubur istrinya. Tasya hanya menyaksikan Reza yang memakan bubur dengan lahap sampai tak tersisa.


"Nanti setelah Aa mandi kita berangkat ya sayang" ucap Reza yang membereskan bekas makannya.


Tasya hanya mengangguk pelan.


***


"Kamu kenapa Sya?" tanya Pak Danu yang melihat raut wajah Tasya saat Reza menuntunnya keluar kamar


"Tasya demam Pa, kita sekarang mau ke dokter" ucap Reza


"Ya sudah hati-hatu dijalan. Jaga istrimu Za" pinta Pak Danu yang nampak khawatir


"Sehat ya sayang, Aa kesepian. Biasanya kamu cerewet sayang" ucap Reza seraya mengelus perut sang istri kemudian menggenggam tangannya. Dia memegang stir mobil dengan sebelah tangannya.


Setibanya di rumah sakit, Reza mengajaknya langsung ke lantai dua agar Tasya bisa langsung istirahat. Tapi Tasya menolaknya, dia tidak mau ditinggal oleh Reza yang hendak melakukan pendaftaran ulang. Dengan terpaksa Reza mengajaknya.


Setelah semuanya selesai, mereka menunggu giliran untuk masuk ke ruangan. Hari itu nampak tidak terlalu ramai, sehingga membuat mereka tak lama menunggu. Mereka masuk ruangan setelah dipanggil oleh perawat.


"Istri saya demam dok" ucap Reza membuka percakapan.


"Sudah berapa hari?" tabya dokter


"Baru hari ini Dok" ucapnya


"Silahkan berbaring disana" ucap sang dokter


Tasya segera berbaring. Dokter memeriksanya dengan stetoskop sambil bertanya pada Taysa. Setelah selesai, seperti biasa mereka melihat kandungan Tasya dengan USG.


"Ini sudah terlihatkan. Tu dia bergerak"ucap Dokter sambil menggerakan transducer.


"Apa bayinya sehat dok?" tanya Reza cemas


"Bayinya aktif. Tapi ibu yang harus segera pulih" ucapnya kemudian


"Kita lihat, dia laki-laki atau perempuan" ucap dokter tersebut masih menggerakan transducer


"Yaaa..Dia malu. Kakinya di tutup begitu" ucap Dokter yang membuat seisi ruangan tersenyum


Dokter masih memutar transducer, tapi janinnya masih tetap di posisi yang sama.

__ADS_1


"Masih rahasia Papa, mama" ucap dokter tersebut


"Eh Papa Mama, ayah ibu panggilannya" goda dokter tersebut


"Papi Mami Dok" ucap Reza sambil malu dan dokter tersebut hanya tersenyum


"Nanti saya berikan obat demam yang aman untuk ibu hamil" ucap Dokter


Dokter tersebut menuliskan resep. Mereka nampak tak banyak bicara. Setelah selesai, seperti biasa mereka langsung menebus resep obat yang diberikan dokter.


***


"Kamu mau apa sayang?" tanya Reza saat diperjalanan menuju rumah


"Gak mau apa-apa A" ucapnya lemah. Tasya merasakan sekujur tubuhnya panas.


Reza menggenggam tangannya, dia mencium tanga Tasya.


"Jangan stres ya sayang. Semalam gak apa-apa. Jangan takut. Mereka gak ngancam kita. Hanya minta uang" ucap Reza menenangkannya


"Tapi aku takut A. Lihat dandannya saja begitu" ucap Tasya


"Gak apa-apa sayang. Semua sudah berlalu. Anggap saja mimpi buruk, oke?" hibur Reza


Tasya terdiam


Setibanya dirumah, Tasya membaringkan tubuhnya. Reza bergegas ke dapur.


"Makan sayur bayam dulu sayang, habis itu minum obat" bujur Reza saat masuk ke dalam kamar.


"Gak mau A" ucap Tasya


"Ayolah. Kasihan Dedek juga sayang. Kalau Mami demam, Dedek juga gak nyaman" bujuknya


Tasya makan dengan perlahan setelah mendapat bujukan dari Reza. Setelah itu, Reza memberikan obat untuknya.


"Tidur sayang" ucap Reza seraya mengecup kening Tasya


Reza mengambil topinya, sementara Tasya memperhatikannya.


"Aa mau kemana?" tanya Taysa saat melihat Reza hendak mengambil kunci mobil.


"Aa mau cari kelapa ijo buat kamu sayang. Tunggu ya sayang. Aa gak akan lama" pinta Reza


"Hati-hati A" ucap Tasya


Reza segera berlalu. Dia melajukan mobilnya seraya menelpon seseorang.


"Hallo. Dimana kamu?" tanya Reza begitu sambungan teleponnya terhubung.


Mereka berbicara singkat di telepon. Reza segara melajukan mobilnya ke arah perumahan yang tak jauh dari kantornya.


Reza memencet bel rumah bercat putih lantai dua dengan pilar yang kokoh di kedua sisinya. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintunya.


Reza masuk ke dalam rumah tersebut. Dia menunggu agak lama.


Saat Reza memainkan ponselnya seseorang memanggil namanya saat menuruni tangga rumahnya.


"Za.." ucapnya. Seketika Reza berbalik ke arahnya

__ADS_1


__ADS_2