BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Kebohongan Reza


__ADS_3

Temans, aku update untuk saat ini satu kali sehari, itupun 2 bab aku buat menjadi 1 supaya episodenya gak terlalu banyak.


Tolong tetap bantu VOTEnya yaa.. Tinggalkan jejak dengan Like dan komentar.


Jangan lupa, ikuti keseruan Lala dan Keenan di My Enemy, My Love! Terima kasih ^^


--------


"Eng.. Enggak Bu" Mbak Diah melirik Reza


Tasya nampak faham melihat lirikannya.


'Generasi Lala ini mah' batin Tasya


"Gak perlu gugup Mbak, kita berdua gak gigit kok" ucap Tasya seraya tersenyum mencairkan suasana.


Mbak Diah tersenyum canggung sambil meninggalkan mereka kembali ke halaman belakang, menyusul Bi Tinah yang lebih dulu keluar. Sementara Reza menatap Tasya dengan senyuman menggoda. Mereka mengerti satu sama lain.


Tasya menggerakan dua jarinya sambil melotot, jari tersebut di arahkan pada matanya dan mata Reza. Percis seperti Reza saat menakuti Lala. Seketika Reza tertawa hingga tersedak.


Uhuk.. Uhuk.. Reza segera mengambil minumnya.


"Belum apa-apa sudah dosa kan" ucap Tasya santai


"Aduh.. Mami.. " Reza masih tertawa


"Fans serumah nih. Gimana dong?" goda Reza


"Silahkan kalau mau sama dia. Aku tinggal angkat kaki ajak Vano pulang kampung!" ancam Tasya


"Padahal bukan salah Papi" ucapnya


"Iya, bukan salah Papi, tapi bangga. Gitu maksudnya?" Tasya kesal.


Reza tertawa kembali.


"Sana ke kantor lagi" usir Tasya


"Eh di kantor ada Rosa" Reza menggodanya


"Astaghfirullah.. Terserah" Taysa beranjak dari kursinya hendak meninggalkan Reza. Reza menarik tangannya hingga Tasya jatuh menimpa tubuhnya.


"Aw.. Diamond" pekik Reza saat Tasya menimpa tubuhnya cukup keras


"Sukurin" Tasya puas


Reza melingkarkan tangannya sementara Taysa berontak. Tasya menjerit sambil tertawa saat Reza menggelitiknya masih dalam pangkuannya.


Bi Tinah segera masuk ke dalam rumah saat mendengar suara jeritan Tasya. Setelah mendekat, Bi Tinah merasa malu sendiri menyaksikan majikannya sedang becanda. Dia keluar lagi sambil tersenyum.


"Lepas. Ada Bi Tinah kan!" Tasya mencubit keras lengan Reza


"Aw.. Sakit Mam" ucapnya


"Makanya jangan macam-macam. Baru makan sudah di kelitikin. Gimana kalau aku muntah"


"Papi pijat tengkuknya, terus diolesi minyak angin perutnya" jawab Reza enteng.


"Ih Papi menyebalkan tahu gak?" Tasya kesal. Dia beranjak masuk ke dalam kamar.


"Duh, malas kerja lagi. Lebih senang goda Mami dirumah" Reza mengekor.


"Sana ah berangkat" usir Tasya saat mereka masuk ke dalam kamar.


"Baru juga makan sayang. Sebentar lagi" Reza merebahkan tubuhnya.


"Baru makan sudah tiduran."


"Sebentar saja" ucap Reza


Tasya membiarkan Reza berbaring dengan kaki menggantung. Sementara dia duduk sambil memainkan ponselnya.


Setelah beberapa lama, Reza bangkit kemudian mencuci mukanya.


"Nanti lagi gak usah pulang, jadinya males lagi kan ke kantornya" ucap Tasya


"Demi siapa coba pulang ke rumah?"


Tasya tersipu.


"Suka juga protes terus" Reza mencibir.


"Sudah sana berangkat lagi. Biar pulangnya gak kemalaman" ucap Tasya


"Sun dulu" pinta Reza seraya merentangkan tangannya


Tasya memeluknya erat kemudian mengecup kilat berkali-kali


"Love you Mami"


Tasya tersenyum


"Gak dijawab" Reza cemberut


"Iya, love you too Papi Elvano" seraya memeluk lengan suaminya mengajaknya keluar.


Tasya mengantarkan Reza sampai diambang pintu. Kemudian masuk kembali ke kamarnya. Dia kini duduk dengan bersandar di headboard sambil memainkan ponselnya.


Ditinggal seorang diri, pikirannya jauh melayang. Memikirkan sang buah hati yang tak kunjung pulang, mengkhawatirkan biaya rumah sakit yang pastinya membengkak. Reza sengaja merahasiakan biaya-biaya yang mereka keluarkan agar tak jadi beban pikiran istrinya. Seketika dia merindukan Reza.


"Apa semua suami seperti Papi?" gumamnya


"Tapi suami Mbak Diah tadi.. " Dia teringat akan cerita Bi Tinah.


"Beruntungnya aku punya suami seperti dia" Tasya berkaca-kaca mengingat semuanya. Panjatan doa tak henti dia ucapkan dalam hati untuk keluargaku kecilnya.


'Papi kangen' Tasya mengirimkan pesan pada suaminya


Lama tak di balas Reza. Dia menunggu sambil memainkan sosial media miliknya. Tak lama, Reza melakukan video call. Tasya sedikit gugup. Dia malu karena Reza pasti nengolok dirinya.


Dia menarik layar ponselnya keatas. Disana terlihat wajah Reza yang sedang tersenyum.


"Jangan bicara" ucap Tasya yang tahu Reza akan menggodanya


"Kenapa jangan?" Reza tersenyum


"Tadi Papi di usir, sekarang kangen. Tanggung sendiri akibatnya kan" ucap Reza seraya tersenyum


"Papi mau kemana?" dia melihat Reza berjalan.


"Ngambil tagihan sayang."


"Ikut.."


"Ngobrol lagi sana sama Mbak Diah" Reza kemudian tertawa


"Senang?" Tasya menekuk wajahnya


"Enggak. Cuma senang menggoda Maminya Vano" Reza tersenyum


"Gak usah senyum"


"Kenapa?"


"Jadi makin kangen" Tasya jujur sementara Reza terbahak.


Reza kini duduk di mobilnya.

__ADS_1


"Habis ngambil tagihan, Papi pulang deh" ucapnya


"Serius?"


"Iya"


"Ya sudah, matiin deh. Hati-hati ya Pap" Tasya tersenyum


"Sun nya mana?" pinta Reza


Tasya mengerucutkan bibirnya mengarahkan ke lensa kamera.


"Idih itu bibir" keduanya tertawa.


"Bye Mami"


"Assalamualaikum Papi"


"Oh iya, waalaikumsalam."


Klik. Sambungan terputus.


Mereka seperti pengantin baru yang dimabuk asmara. Semua amarah dan kekesalannya tempo lalu meluntur begitu saja karena perlakukan Reza yang begitu lembut kepadanya.


Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Tasya membukanya.


"Mbak Diah" ucap Tasya


"Ini Bu, baju Vano sudah saya gosok" ucapnya


"Ih cepat kering ya Mbak. Sini masuk"


"Iya karena kecil kan Bu. Lagipula panas sekali cuacanya" ucapnya


"Masukan kembali saja ke lemarinya Mbak. Tolong yang belum di cucinya dikeluarkan biar gak kena yang bersih" ucap Tasya


"Baik Bu"


"Mbak Diah, sebelumnya pernah bekerja juga?" tanya Tasya


"Iya Bu, saya dulu kerja seperti Lik Tinah."


"Oh"


"Terus gak apa-apa pindah kesini?" tanyanya kemudian


"Enggak Bu. Memang niat awalnya juga saya mau pindah dari majikan saya yang dulu"


"Oh"


"Rumahnya dekat dengan Bi Tinah, Mbak?" tanya Taysa lagi


"Enggak. Saya dikampung, terus ikut tinggal sama majikan saya, terus ya sekarang pindah kesini"


"Vano kapan pulangnya Bu?" Mbak Diah mulai berani bertanya


"Doakan saja biar lekas pulang ya Mbak. Aku juga sudah kangen banget. Disini kepikiran terus" ucap Tasya jujur


"Kalau tentang anak, memang gak ada habisnya Bu. Saya saja yang di tinggal selamanya masih suka kepikiran"


"Iya Mbak."


"Eh maaf, Mbak Diah belum nikah lagi kan?" tanya Tasya


"Belum Bu, saya masih takut"


"Saya lebih enak begini saja Bu." tambahnya kemudian


"Kalau boleh tahu KDRT bagaimana Mbak? Kok bisa ya ada lelaki tega seperti itu" ucap Tasya


"Hmm.. Ya setiap dia marah, saya di pukul Bu sampai biru-biru. Di tendang, di jambak. Sshh.. Saya kalau ingat kejadian dulu, rasanya mimpi buruk Bu"


"Saya pikir hanya ada di tv cerita KDRT begitu" ucap Tasya. Mengingat Ayah, Rasya, Pak Danu dan Suaminya bersikap lemah lembut.


"Untungnya semua sudah berlalu ya Mbak" ucap Tasya


"Iya Bu. Saya jadi sedikit kapok" ucapnya


"Tapi lihat bapak mah beda" ucapnya


"Siapa?" tanya Tasya


"Pak Reza. Sepertinya sayang banget sama Ibu" pujinya malu-malu


"Hehe.. Alhamdulillah. Dari awal nikah sampai sekarang gak pernah berubah"


"Iya. Ibu beruntung."


"Sudah selesai bu, saya permisi" ucapnya mengakhiri pembicaraan mereka.


"Terima kasih Mbak"


"Ngapain lagi aku? Bosan sekali" Taysa merebahkan badannya.


"Andaikan Vano pulang pasti aku gak kesepian" ucapnya


***


Reza melajukan mobilnya mengarungi teriknya matahari. Dia menautkan kacamata pada daun telinganya. Sesekali pandangannya melirik ke arah kaca spion.


Reza menyetel musik untuk mengusir kesepian. Sesekali dia mengetuk-ngetuk kemudi mengikuti irama melodi lagu yang sedang diputar.


Hati dan pikirannya terasa sangat damai, walau beban berat dipundaknya masih belum berkurang. Dia harus bekerja lebih ekstra untuk menghasilkan pundi rupiah setelah semuanya terkuras habis.


Kali ini dia tidak meratapi nasibnya, dia juga tidak putus asa. Melihat istrinya berangsur membaik dan anaknya yang menjadi pacuan semangat dirinya.


Asyik mengikuti alunan lagu kesukaannya, tak terasa dia tiba ditempat tujuan. Sebuah bangunan besar dengan lalu lalang kesibukan orang-orang didalamnya.


Dia masuk ke dalam sebuah swalayan syariah, setelah beberapa lama disana, akhirnya dia keluar dan masuk kembali kedalam mobil. Sesaat dia terdiam. Dia berpikir untuk keuangan rumah tangganya. Kini sedikit rasa takut terselip dibenaknya. Tak dipungkiri, biaya rumah sakit yang besar membuatnya sedikit berpikir lebih keras.


"Dek, cepat pulang ya.. Kamu harus kasihan sama Papi, Dek" gumamnya yang mengingat sang anak yang masih berjuang menambah berat badannya di Rumah Sakit.


Reza melajukan mobilnya kembali ke kantor. Dia lupa akan janjinya pada sang istri untuk pulang lebih cepat. Sepanjang perjalanan kini dia nampak melamun. Tak ada raut keceriaan seperti tadi diwajahnya.


Setelah beberapa lama, dia tiba dikantor. Dia masuk ke dalam ruangannya. Pak Danu sedang menulis disana. Pak Danu melihat ke arahnya sepintas kemudian melanjutkan kegiatannya.


"Pa"


"Papa ada simpanan gak?" tanya Reza tanpa basa basi


"Istri baru saja gak punya, apalagi simpanan" sahut Pak Danu


Reza tersenyum kecut.


"Iya karena Papa gak laku-laku" sindirnya.


Pak Danu menyunggingkan sebelah bibirnya.


"Tagihan dari Swalayan Syariah belum keluar" ucap Reza tiba-tiba


"Lantas?"


Pak Danu masih melanjutkan nulisnya.


"Kalau Papa ada simpanan, aku pinjam dulu Pa" ucapnya dengan rasa malu.


"Uangmu habis?" tanyanya

__ADS_1


"Gak usah nanya. Kalau ada aku gak akan minta tolong" ucap Reza


Pak Danu kini menatapnya.


"Bagaimana keadaan cucu Papa?"


"Masih berjuang menaikan berat badannya" ucapnya singkat. Kini Reza beranjak pindah ke sofa. Meregangkan badannya disana.


Pak Danu tahu betul biaya rumah sakit tidak sedikit. Tapi tak sedikitpun dia membantu Reza. Dengan sedikit tega, dia ingin mendidik anaknya lebih keras.


"Kelihatan sekali sekarang kamu punya anak istri" Pak Danu tersenyum simpul


"Kenapa memangnya?"


"Mukamu kusut" kini Pak Danu tertawa


"Gimana gak kusut, mikirin anak istri tiap hari" ucapnya


Pak Danu tertawa kembali. Dia mengeluarkan dompetnya kemudian mengambil sebuah kartu sakti dari dalam dompetnya.


"Buat cucu Papa" ucapnya seraya memberikannya pada Reza.


"Gak usah Pa. Aku pinjam saja" ucap Reza


"Sepuluh persen tiap bulan"


"Papa baca berita tadi pagi?"


"Apa?"


"Azab seorang ayah yang jadi rentenir pada anaknya" ucap Reza datar


Pak Danu terbahak mendengarnya.


Reza membuka ponselnya. Seketika dia teringat pada Tasya.


"Aku pulang duluan Pa. Kasihan Tasya dirumah" ucapnya


"Dia ada Bi Tinah sama pengasuh Vano bukan?" tanya Pak Danu


"Iya, tapi gak setiap saat temani dia. Aku takut dia banyak pikiran, makin lama sembuhnya, yang kena imbasnya aku juga" ucap Reza


Pak Danu mengangguk tanda mengerti.


"Pa tolong jangan kasih tahu Tasya ya, aku pinjam ke Papa. Aku gak mau dia makin terbebani dan merasa bersalah" pinta Reza


"Papa tahu mana yang harus Papa tutupi. Kamu tenang saja"


"Assalamualaikum Pa. Aku pinjam ya" Reza mengacungkan kartu sakti seraya keluar ruangan.


Reza melewati Rosa dan Izam disana. Dia bertegur sapa sebentar kemudian berjalan kembali menuju mobilnya.


***


Reza masuk ke dalam kamar, disana Tasya sedang menonton film dari ponselnya.


"Pap.." Tasya menghentikan film yang sedang diputar. Dia segera mengambil air putih dan memberikannya pada Reza


"Cape sayang?" tanya Tasya


"Enggak"


"Gimana? Sudah turun tagihannya?" tanyanya lagi


"Hmm, iya sudah Mam. Tenang saja" bohongnya


"Sana ke kamar mandi dulu sayang" pinta Tasya


"Iya"


Reza segera membuka bajunya. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Tasya mengambil kemeja yang dilepaskan Reza kemudian menyiapkan baju untuk ganti Reza. Tak lama dia keluar kamar menuju lemari es.


"Mau apa Bu?" tanya Mbak Diah


"Aku mau kupas mangga Mbak buat A Reza" ucapnya


"Oh, saya bantu Bu, dari pada saya diam saja" ucapnya


Tasya duduk memperhatikan Mbak Diah.


"Mbak Diah kalau mau, ambil sendiri ya. Jangan sungkan-sungkan disini" ucap Tasya


"Iya Bu. Terima kasih."


"Terima kasih sudah mau terima saya disini Bu" ucapnya


"Ya sama-sama Mbak. Aku juga nanti kedepannya bakal selalu bergantung sama Mbak Diah" ucap Taysa


Setelah selesai, Mbak Diah memberikan buahnya kepada Tasya. Tak lama dia membawa buah tersebut masuk ke dalam kamar.


Dia melihat Reza yang sedang memakai kaosnya.


"Papi, sini makan buah" ajak Tasya


"Enggak ah. Papi sudah sikat gigi." tolak Tasya


"Padahal aku sengaja kupas buat Papi" Tasya kecewa


"Tolong buatkan cokelat panas saja sayang" pinta Reza


Tasya menaruh buah mangganya diatas nakas. Dia segera keluar kamar. Tak lama, dia membawa segelas cokelat panas untuk Reza.


"Vano belum ada kabar ya Pap?" tanya Tasya


"Iya."


"Biayanya pasti makin besar. Apalagi ruang NICU" keluh Tasya


"Hmm.. Tenang saja sayang. Mami gak usah mikirin biaya apapun." ucapnya seraya menyeruput cokelat panas miliknya.


Tasya kembali merebahkan tubuhnya, dia memutar kembali film yang sempat terjeda sementara Reza duduk sambil membuka laptopnya.


***


Dua Minggu kemudian


Tasya duduk di depan cermin hias miliknya. Dia dengan semangat sedikit memoles wajahnya dengan riasan agar terlihat lebih segar.


Hari ini jadwal dia check up bersama dokter yang menanganinya. Tentu saja dia sangat senang karena dia bisa bertemu dengan Elvano sang buah hati yang telah lama dirindukannya.


Reza keluar kamar mandi. Tak lama suara ketukan pintu terdengar. Tanpa ragu, Reza segera membuka pintu kamarnya.


"Kenapa Mbak?" tanya Reza


Mbak Diah gelagapan melihat Reza bertelanjang dada dengan sisa-sisa air di tubuhnya.


"Mm.. Ini ada paket Pak" ucapnya gugup sambil memberikan kotak paket berbalut plastik kepada Reza


"Paket? Oh sudah sampai" ucap Tasya yang membuat Reza menoleh ke arahnya.


"Makasih ya Mbak" ucap Reza menerimanya.


"Mbaaak, ikut saya yaa" Tasya sedikit menaikan suaranya agar terdengar oleh Mbak Diah


Sementara Reza menaruh paket tersebut.


"Iya Bu. Saya sudah siap" ucapnya.

__ADS_1


"Ya sudah saya permisi Bu" ucapnya seraya menutup pintu.


"Paket apa sih Mam?" tanya Reza penasaran


__ADS_2