
Bram saat ini kembali bekerja dengan Zahfran,bukan sebagai bodyguardnya. Ia di tugaskan mengantar jemput Abiyu dan Kisya ke sekolah,dan menemani kemanapun putranya pergi. Bisa di bilang sebagai Bodyguard Abiyu dan Kisya.
Begitu sampai di Perpustakaan,Bram langsung masuk ke dalam mencari keberadaan Abiyu dan Kisya,Tidak sulit mencari mereka.
Nampak Abiyu sedang berdiri di dekat rak buku bertuliskan Sastra. Ia berdiri bersama Radit,dan Kisya berdiri di belakang punggung Abiyu.
Bram berlari menghampiri mereka. "Assalamualikum." Ucap salam Bram yang baru saja sampai.
"Waalaikumsalam." Saut mereka bersamaan.
"Abyyy...." Bram mendengus kesal.
Abiyu memberikan kode dengan matanya,seolah meminta Bram untuk menahan emosinya di depan Radit.
Bram mengerti,ia pun diam dan bersikap sebagaimana mestinya. "Maaf." Ia membungkukkan badan.
"Abiyu.. om di perintahkan ayah mu,untuk terus berada di samping mu,jadi..tolong..."
"Iya..iya..gak usah di terusin om,aku tau." "Jangan seperti itu dong om,harga diri ku mau di taro di mana di depan Radit,bisa-bisa dia beranggapan aku ini anak manja yang harus terus di awasi." Bergumam dalam hati.
"Oh..jadi..om ini di tugaskan ayahnya untuk menjaga putranya?" Tukas Radit dengan nada meledek. "Seperti anak bayi ya om."
Bram menahan mulutnya untuk tidak tertawa.
"Om..." Abiyu mendengus kesal.
"Jaga bicara kamu ya Raditya wira." Kata Abiyu.
"Kenapa? kamu malu?"
Abiyu mengepalkan tangannya menahan emosi. "Udah..udah... gak usah ribut,kalian itu sama-sama kayak anak kecil tau gak." Kisya berkata sambil memegang tangan Abiyu.
"Tau..bukannya belajar malah rebutan cewek,di sini tempat kalian belajar."
"Kita ke sini memang mau belajar om,dianya aja yang ngikutin,gak jelas maunya apa." ujar Aditya
"Aby..kamu tunggu di luar aja ya,aku sama kak Radit banyak tugas,kita cuma punya kesempatan satu hari buat belajar,besok kan lombanya."
"Kalian mau berduaan?"
"Iya berdua,kan yang ikut lomba juga berdua."
"Tapi..."
Meladeni Abiyu tidak ada habisnya,Radit meraih tangan Kisya lalu menariknya. "Ayo Kisya,kita sudah kehabisan waktu." Tak perfikir panjang lagi,Radit membawa Kisya masuk ke dalam,dan Bram menahan tangan Abiyu untuk tidak ikut bersama mereka.
"Kisya.."
"Abiyu..berisik."
"Om..ngapain sih pegang tangan aku,Kisya itu istri ku."
"Jaga ucapan kamu,kalau ada yang mendengarnya bagaimana?" Tukas bram memperingatkan,karna bukan tidak mungkin ada murid sekolahnya yang juga berada di sana.
Dan benar saja,orang yang pernah menjebak Abiyu dan Kisya sedang berada di sana?dan ia mendengar apa yang Abiyu katakan tadi. "Kalian dengar kan?" Alesha bicara pada temannya.
"Iya.. aku dengar."
"Berita bagus,aku akan menghancurkan mereka berdua,lihat saja Abiyu malique. Ucapnya dengan senyum menyeringai.
Butik..
Setelah pertemuannya dengan Bram,Khadijah kembali ke butik dengan senyum semeringah,ia bahkan menyapa beberapa karyawan dengan ramah sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya.
Dia lupa sesuatu... kembali membuka pintu lalu memanggil Shifa. "Shifa..." panggilnya.
Yang di panggil pun menoleh. "kenapa?" Saut Shifa yang saat ini sedang menata beberapa letak bunga yang baru saja ia ganti.
__ADS_1
"Sini.." Khadijah melambaikan tangannya.
Karna ia di panggil,Shifa menghentikan sejenak aktifitasnya,dan memita orang terdekat untuk menggantikannya.
Pintu itu tertutup,saat ia membuka pintu,tiba-tiba Khadijah memeluknya sambil teriak kegirangan. "Shifa... hari ini aku seneeeng banget.." Ia masih memeluk Shifa dengan sangat erat.
"Aduh.. Jia,tangan kamu tulang semua apa gimana sih? Sakit tau.."
"Maaf..maaf.." ia melepaskan pelukannya.
"Seneng banget sih kayaknya."
"Seneng dong,tadi aku ketemu mas Bram." Ucapnya sambil berjalan melewati Shifa,ia berdiri di depan meja kerjanya,menatap sebuah bingkai foto yang ia letakan di sana.
"Mas Bram?"
"Iya." Jawabnya singkat.
"Mau ngapain dia?"
"Dia bilang kangen sama aku." Khadijah duduk di atas kursi kebesarannya lalu meraih foto itu,dan memeluknya. "Mmm..aku juga kangen sama kamu mas."
"Gak ada,dia cuma bilang.. kalau nanti dia akan menemui ku lagi."
"Yaelah Jia,kirain dia nembak kamu."
"Gak apa-apa,yang penting aku bisa ketemu sama dia." Puas memeluk foto pujaan hati,ia kembali menyimpan foto itu ke atas meja.
"Tapi.. bukannya waktu itu dia bilang punya pacar?"
"Iya,mungkin udah putus."
"Kalau belum?"
"Kalau belum... " Jia terlihat kebingungan. "Ko kamu malah nakutin aku sih?"
"Aku gak nakutin,itu kan kalau belum." Ucapnya sambiil menahan tawa.
__ADS_1
"Pasti udah."
"Iya..terserah kamu lah."
"Aku penasaran,mas Bram mau bicara apa ya sama aku?"
"Awas..jangn-jangan dia mau ngasih undangan pernikahan sama kamu."
"Shifaa...."
Ha..ha..ha..
Hari berganti malam,Fatih yang saat ini sedang menghadiri sebuh pesta,tengah asik berbincang dengan rekan bisnisnya,tiba-tiba terdengar suara gelas pecah dan susana riuh di sana seketika menjadi hening.
Penasaran dengan apa yang terjadi,ia menghampiri arah sumber suara,ia melihat dua orang sedang di kerumuni oleh para tamu undangan.
"Plak.." Pria itu menampar wanitanya. "Kenapa kamu tidak mau kembali pada ku." ia berteriak di hadapan para tamu undangan.
"Aku tidak mau,aku sudah punya pacar Leo." Saut wanita itu dengan berurai air mata. Ia menahan malu sekaligus sakit di pipinya.
"Aku tau kamu berbohong,kalau memang benar kamu sudah punya pacar,tunjukan pada ku."
Wanita itu nampak kebingungan,kalau sampai ia tidak bisa mengenalkan pada pacaranya,pria ini tidak akan berhenti mengejarnya.
Hingga ia menangkap sosok pria yang ia kenal dari kejauhan. "Fatih...?" Bergumam dalam hati.
Seolah mendapatkan jalan keluar,wanita itu berjalan setengah berlari menghampiri Fatih dan langsung memeluknya. "Beugh..."
"Hei... Tania,apa-apan ini?" Fatih berusaha melepaskan pelukan itu,namun Tania menahannya.
"Tolong aku. hiks..hiks.." ia menangis dalam pelukan Fatih. "Tolong katakan pada pria itu kalu kamu pacar ku,dan kita akan segera menikah."
"Maksud kamu apa?" Ia mengernyitkan dahinya.
"Nanti aku jelaskan."
"Tania..." Pria itu kembali berteriak,setengah berlari ia menghampiri Tania dan langsung menarik tangannya,bukan hanya itu,ia pun kembali menampar tepat di pipinya. "Plak."
Fatih terkejut dengan pemandangan di depannya,dan ia pun spontan membelanya,dan mengatakan kalau dia adalah calon suaminya. "Hentikan kekerasan ini,dia calon istri ku,dan berhentilah mengejarnya." Fatih memegang tangan pria itu,tangan yang sudah melayang di udara dan siap akan menampar Tania untuk kesekian kalinya.
"Apa?" Pria itu menatap tak percaya,ia menarik paksa tangan Tania yang saat ini ada dalam dekapan Fatih,keributan kembali terjadi saat Fatih melayangkan satu pukulan tepat di wajahnya.
Tak lama setelah itu,datang security membawa paksa pria itu keluar dari pesta,sedangkan Tania masih menangis dalam pelukan Fatih. "Kamu gak apa-apa kan?" Fatih melihat ada darah segar mengalir di sudut bibir Tania,ia mengusap darah itu dengan sapu tangannya.
"Aw..sakit mas.." Ia meringis kesakitan.
"Maaf."
Dan kejadian malam ini,di abadikan oleh beberapa tamu undangan,dan mereka membagikan Vidio itu ke dalam group Sosialitanya. Share.
Aku kasih yang tegang-tegang dulu ya,beberapa hari ini gak ada ketegangan,itung-iting terapi jantung 🤭🤭.
Berikan apresiasi kalian untuk karya Othor dengan meninggalkan jekak di setiap episodenya.
LIKE
KOMEN
VOTE
GRATIS...
__ADS_1
Karna itu lah penyemangat Author untuk selalu UP dan berkarya 💝🙏😍