
Adlan memesan satu porsi nasi uduk dengan lauk ayam bakar, sambal goreng, tempe, tahu, juga lalapan. Kiran menggigit ayamnya sambil tersenyum melihat Adlan yang terus memperhatiakan cara makannya yang mungkin terkesan norak bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi Adlan. Dia terlihat menggemasakan.
"Malu-maluin ya Om?" katanya sambil tersipu malu.
"Nggak ko. seneng malah liat kamu makan banyak kayak gini," kata Adlan sambil meletakan kedua tangannya di atas meja.
"Ayo habisin!"
Kiran memang sedang kelaparan, ia kembali menyantap makanannya sangat lahap, sampai habis tak berisisa.
Setelah menghabiskan satu porsi nasi uduk, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Suasana di dalam mobil sempat hening karna Adlan sedang sibuk menyusun kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaannya.
Adlan terus bergelut dengan pikirannya sambil membawa Kiran berkeliling mencari akses terjauh menuju tempat tujuan.
"Om. Kita ko gak nyampe-nyampe ya?" tanyanya terheran. Pasalnya, saat mengantar Shifa hanya membutuhkan waktu 15 menit. Ini sudah lebih dari 15 menit mobil Adlan masih saja berkeliling kota Jakarta, yang ia sendiri tidak tau berada di mana, malah semakin jauh dari kontrakannya.
"Jalan yang kita lewatin tadi, macet," kata Adlan mencari alasan.
Kiran cuma bisa mengangguk percaya dengan perkataan Adlan. Ia kembali duduk bersandar sambil menatap keramaian kota Jakarta di malam hari.
"Belum satu tahun aku tinggal di Jakarta," suara Kiran tiba-tiba memecah keheningan. Adlan menoleh ke arahnya yang masih menatap ke arah jendela.
"Sebelumnya tinggal di mana?" tanya Adlan yang tiba-tiba saja penasaran dari mana asal tinggalnya.
"Bandung," Kiran menjawab sambil menoleh ke arah Adlan.
"Oh," jawabnya sambil menganggukan kepala.
"Dan aku beruntung bisa kenal dengan keluarga besar kak Abiyu. Mereka baik, sekalipun aku pembantu di rumah itu, mereka sangat menyayangi ku, aku beruntung bisa bertemu mereka, juga Om Adlan," katanya sambil menatap Adlan dengan senyum.
Melihat senyum Kiran, Adlan semakin yakin dengan perasaannya. Tekadnya sudah bulat, Adlan akan menyatakan perasaannya sekarang, tidak perduli sekalipun harus mendapat penolakan, setidaknya dia sudah mengutarakan perasaannya.
Melihat kondisi jalan yang tidak terlalu ramai, juga tidak terlalu sepi, Adlan menepikan mobilnya di bahu jalan dekat stasiun pengisian bahan bakar minyak.
"Ko berhenti Om?" tanya Kiran sambil celingak-celinguk.
"Ran. Om mau ngomong sesuatu," Adlan merubah posisi duduknya menyamping menghadap Kiran, dengan satu tangan kanan berada di atas stir mobil, sedang tangan kiri meremas sandaran jok, demi menghilangkan perasaan gugupnya.
"Ngomong apa?" tanya Kiran biasa saja.
Tanpa basa-basi lagi, Adlan langsung menyatakan perasaannya dengan sangat lugas. "Om suka sama Kiran. Kiran mau jadi pacar Om?"
Seperti orang yang sudah lari maraton sejauh 5 kilo meter, jantung Kiran berdetak sangat cepat dalam sekejap. Ia mencoba menarik nafas dalam, demi menetralkan kegugupannya di hadapan Adlan.
"Om pasti bercanda?" Kiran memberanikan diri menyahuti perkataan Adlan.
"Nggak. Om gak bercanda. Om serius."
"Tapi. mba Shifa? bukannya Om suka sama dia?"
Adlan langsung menggelengkan kepalanya. "Itu Om lakuin demi bisa makan malam sama kamu, Om terpaksa bohong, karna kalau tidak dengan cara itu, kamu gak akan mau Om ajakan makan malam. Iya kan?"
__ADS_1
"Tapi..."
"Kalu kamu masih ragu, gak perlu jawab sekarang. Om masih biasa ko nunggu sampai besok," sautnya dengan senyum.
Kiran menunduk, ia tidak tau harus menjawab apa, mungkin memang Kiran membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan Adlan. Bukan tidak suka, banyak hal yang harus ia pertimbangkan, terutama Kisya. Dia pasti berfikir kalau dirinya berpacaran dengan Adlan, karna ingin dekat kembali dengan Abiyu.
"Aku gak mau sampai hal itu terjadi, aku gak mau menambah permusuhan," Batinnya bergumam.
Karna Kiran terus diam, Adlan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kontrakan tempat tinggal Kiran. tidak ada percakapan, setelah pernyataan cintanya tadi, bahkan sampai di depan pintu kontrakan, Kiran turun tanpa berucap sepatahkatapun, membuat Adlan menjadi pesimis dengan perasaannya sendiri.
Semua langkah yang kita ambil, pasti memiliki resiko. dan resiko dari menyatakan cinta adalah diterima, atau ditolak. Adlan sedang mempersiapkan kemungkinan terburuknya, supaya tidak terlalu kecewa kalau sampai mendapat penolakan.
Hari berganti. Sudah lebih dari dua hari Kiran mendiamkan Adlan. Mereka tidak bertegur sapa, apa lagi jalan berdua. Kiran sengaja menjauhi Adlan demi memastikan perasaannya sendiri, juga perasaan Adlan terhadap dirinya.
Apa setelah mendiamkannya selama dua hari bisa membuat Adlan marah, atau berbalik memusuhinya?
Tak ingin menggantungkan perasaan orang lain terlalu lama, Kiran mendatangi mobil Adlan saat pemiliknya masih berada di lantai atas, dan masih bekerja.
Cukup lama menunggu, akhirnya yang di nanti oun datang. Adlan melihat Kiran sedang berjongkok di dekat mobil sambil memainkan ponsel.
Tidak langsung menyapa. Kiran mendongakan kepalanya saat Adlan berdiri tepat di di depannya.
"Om."
"Kamu ngapain?"
"Mau ketemu Om," Kiran berdiri di hadapan Adlan.
"Ngasih Om kepastian."
Adlan berusaha bersikap biasa saja, karna melihat raut wajah Kiran yang tidak terlalu meyakinkan akan menerima cintanya.
"Katakan. Om siap dengan keputusan kamu, sekalipun itu sebuah penolakan."
"Ko bilangnya gitu?" Kiran berusaha melihat wajah Adlan yang sedikit menunduk.
"Om lucu tau gak."
Adlan mengangkat kepalanya, tepat saat Kiran tersenyum ke arahnya.
"Aneh kamu tuh, tadi matanya nakutin, sekarang ko nyenengin?" kata Adlan sambil melempar senyum ke arah lain. Menghindari tatapan Kiran yang membuat jantung Adlan berdetak tidak beraturan.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba Abiyu dan Kisya hadir diantara mereka berdua.
"Om," kata Abiyu menyapa, tapi matanya teralihkan oleh Kiran yang berdiri tepat di depan Adlan.
"Abiyu? tumben ke sini?"
"Kita ada janji sama seseorang." jawab Abiyu tanpa mengalihkan pandangan dari Kiran.
"Apa yang kalian lakuin di sini? berdua lagi?" wajahnya mulai mengerut tidak suka.
__ADS_1
"Om ada perlu sama Kiran. Dan ini sedikit rahasia. Iya gak Ran?"
Kiran tersenyum tersipu.
"Kalian pacaran?" kali ini Kisya yang bertanya.
"Hhmm... gak tau, mungkin akan?" saut Adlan sambil senyam-senyum.
"Jangan ngasal Om." timpa Abiyu ketus.
"Ngasal gimana?"
"Kalian gak pacaran kan?"
"Loh.. emangnya kenapa?"
"Aku gak setuju." tegas Abiyu pada Adlan.
Adlan mengerutkan keningnya, "kenapa?"
"Karna Kiran itu mencintai Abiyu, Om." saut Kisya menyambar percakapan.
"Apa?" ia menatap tak percaya.
"Lelucon macam apa ini?"
"Kisya. Aku minta kamu diam. Ini bukan masalah Kiran pernah suka sama aku atau nggak Om. Ini karna dia terlalu muda buat Om pacarin."
"Jadi. Kamu suka sama Abiyu? kamu mendiamkan Om karna masih mencintai Abiyu? benar begitu Kiran?" tanya Adlan pada Kiran.
Kiran langsung menggelengkan kepalanga keras. "Nggak sama sekali Om. Aku butuh waktu karna aku juga perlu berfikir.
"Bohong. itu pasti karna kamu masih mencintai suami ku."
"Kisya. Diam."
"Aku gak akan diam sampai dia berkata jujur di depan Om Adlan."
"Kiran.. katakan yang sejujurnya. Apa kamu benar mencintai Abiyu? dan masih mencintainya?" tanya Adlan.
"Nggak sama sekali Om. Aku udah lupain Kak Abiyu sejak lama."
"Buktikan kalau kamu sudah melupakan suami ku."
"Aku kan membuktikannya." saut Kiran menatap tajam.
Sangat lekat Kiran menatap wajah Adlan.
"Aku siap menjadi istri Om, bukan sebagai kekasih. kalau Om mau kita pacaran, sebaiknya kita berhenti sampai di sini."
"Kiran."
__ADS_1