Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 15


__ADS_3

Mobil Gilang berhenti didepan pintu gerbang utama, saat Rani akan membuka pintu, Gilang menakan tombol otomatis mengunci pintu mobil.


"Kak. Aku mau turun!"


"Besok Gue anterin sekolah," kata Gilang masih menekan kunci otomatis, agar Rani tidak bisa membuka pintu sebelum mengiyakan.


"Gak bisa, Kak. Aku di anter pak Broto."


"Bisa. Pasti bisa. Lo tinggal iyain aja."


Rani menggelengkan kepalanya, "terserah."


"Terserah, berarti iya." saut Gilang.


Karna dia sudah mendapatkan jawaban yang di inginkan, Gilangpun melepaskan kunci otomatis, lalu Rani berbegas keluar dari mobil. Tanpa menoleh lagi ke belakang, ia pun masuk ke dalam rumah.


Tidak sia-sia usahanya selama ini, akhirnya Gilang mendapatkan apa yang dia inginkan, setelah perjuangan panjang selama lima tahun melawan berbagai rintangan. Rintangan yang datang dari teman-temanya yang tidak terima dengan perubahan sikap Gilang yang menolak untuk ikut serta dalam setiap tauran.


Seperti saat dia mendapatkan piala kemenangan, seperti itu lah perasaannya saat ini. Gilang masuk ke dalam rumah sambil tersenyum semeringah, lalu menghampiri mamihnya yang saat ini sedang duduk manis membaca majalah.


"Mamih," sapa Gilang sambil mencium pipi mamihnya.


"Tumben cium pipi mamih. Pasti ada maunya?"


"Gak lah Mih. Masa cuma cium pipi aja mesti ada maunya," Gilang langsung duduk di sebelah Bu Anna, lalu bersandar di sofa terus menampakan senyum di bibirnya.


Aneh memang, tidak biasanya dia bersikap seperti itu, apa lagi senyumnya yang terus mengembang tanpa alasan. Bu Anna melipat majalahnya, lalu menatap wajah Gilang sangat lekat.


"Bagi-bagi dong kalau punya kabar baik," kata Bu Anna pada Gilang yang masih duduk di sebelahnya.


"Bagi apa mih?"


"Itu. Kamu senyum-senyum terus, kenapa coba? tumbaen loh."


Gilang duduk menyamping menghadap mamihnya.


"Gilang suka sama cewek Mih," ucapnya sedikit malu-malu.


"Suka? ko bisa?"


"Ya bisa lah Mih. Gilang kan normal. Mamih gimana sih?"


Bu Anna mengangguk-angguk sambil tersenyum? "iya, iya. satu jurusan sama kamu?"


"Nggak."


"Terus?"


"Anak SMA."


Bu Anna sedikit mengerutkan keningnya, "SMA? ko bisa?"


"Mamih nanyanya ko bisa terus. Ya bisa lah Mih. Yang penting anak SMA itu kan perempuan, bukan laki-laki."


"Gilang."


"Lagian Mamih aneh."


"Iya maksud mamih, ko bisa suka sama anak SMA, gimana ceritanya?"


"Ceritanya panjang Mih. Kalau di ceritaiin gak kelar satu hari," saut Gilang sambil membetulkan posisi duduknya.


"Sepanjang apa sih? sepanjang jalan kenangan?"


"Mungkin."


Bu Anna menggelengkan kepalanya, lalu kembali membuka majalah, "Kamu udah nyatain perasaan kamu?" tanya Bu Anna kembali membuka-buka majalahnya.


"Udah dong. Kita udah pacaran sekarang."

__ADS_1


"Oh ya?" sekilas Bu Anna melirik putranya, lalu kembali membaca majalah.


Gilang mengangguk malu-malu, "besok Gilang kenalin ya Mih?"


"Boleh. Mamih tunggu."


Hari berganti. Rani yang saat ini sedang menyisir rambutnya, dikejutkan oleh suara seseorang melempar sesuatu ke jendel kamar Rani yang terbuka. Sesuatu yang kecil terbungkus rapih itu menggelinding ke arah kakinya.


"Apa ini?" tanyanya sambil meraih sesuatu itu, lalu membukanya.


"Anggur?" keningnya mengerut. Tak lama ada lagi. Sesuatu yang kecil itu kali ini jatuh di atas tempat tidurnya, Rani pun berdiri meraih sesuatu itu, dan bisa dipastikan kau itu pasti anggur lagi.


"Benar kan?" dan kali ini terdapat tulisan di dalam kertas itu yang berisi.


"Cepatlah lihat ke jendela."


Rani pun berjalan perlahan menuju jendela. Dia membuka gorden lebar-lebar, dan melihat Gilang sudah ada di dalam halaman rumahnya.


"Udah pasti dia." gumammya sambil menatap ke bawah.


Gilang tidak berkata apapun, setelah melihat wajah Rani, dia bergegas pulang melalui gerbang utama tanpa hambatan, malah terlihat Gilang menyapa pak satpam yang berjaga.


"Dikasih mantra apa sih sama orang itu? jangan-jangan di hipnotis."


Setelah Gilang pergi, Rani juga keluar dari kamarnya menemui anggota keluarga yang lain di meja makan, sambil mengunyah anggur yang Gilang lempar tadi ke kemarnya.


"Makan apa Nak? ko sambil jalan?" tanya Fatih sesaat setelah Rani duduk di sebelahnya.


"Ini. Annggur Bi."


"Lain kali jangan makan sambil jalan ya!" kata Fatih sedikit memberikan nasehat.


"Iya Abi,"


"Latakulkoiman," sela Aisyah.


"Apa tuh artinya?" tanya Rani.


"Aku gak berdiri Kakak," bantahnya.


"Berdiri aja gak boleh. Apa lagi sambil jalan. Emng kamu kuda apa?"


"Enak aja."


"Udah. Ayo cepet makan. Nanti kesiangan," kata Azky. Merekapun langsung diam dan melanjutkan sarapannya sampai selesai.


Selesai sarapan, mereka berempat jalan menuju parkiran mobil. Terlihat Panji sedang mengeluarkan ban serep dari bagasi, lalu Fatih menghampirinya.


"Kenapa Ji?" tanya Fatih berdiri di belakangnya, sedang Azky berdiri di samping Fatih sambil menenteng tas kerja suaminya.


Panji menoleh ke belakang, "ini, Tuan. Bannya kempes."


"Ban serepnya?"


"Sama."


"Ko bisa?"


"Maaf. Kayaknya bapak lupa nambah angin, Tuan," sautnya sedikit menunduk.


"Emang dari kemaren gak ketauan kalau ban serep juga kempes? kan kamu yang nganter anak-anak ke mall."


"Nggak tuan. Maaf."


"Mas. Gak apa-apa, anak-anak naik taksi aja," sela Azky lebih mencari jalan keluar ketimbang harus menyalahkan.


"Maaf Nyonya, Tuan."


"Gak apa-apa Panji. Tapi lain kali kamu lebih teliti lagi ya!"

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


Tak lama Rani dan Aisyah pun datang.


"Ada apa Umi?" Tanya Aisyah.


"Bannya kempes, Nak."


"Kita naik apa dong?"


"Sementara naik taksi aja ya."


"Iya. Gak apa-apa kan?" saut Fatih.


Merekpun setuju, lalu berjalan keluar Gerbang mencari taksi. Dan kegiatan itu tak luput dari pengawasan Gilang melalui teropongnya.


"Sip."


Gilang segera mengeluarkan mobilnya, lalu berhenti di depan mereka yang sedang menunggi taksi di temani Azky. Sedangkan Fatih tidak ada di sana, karna metting penting, mengharuskan ia berangkat lebih awal.


Setelah menghentikan mobilnya, Gilangpun turun dari mobil menghampiri mereka, lalu menyapa ramah.


"Tante."


"Eh.. Nak Gilang. Ada di sini sekarang?"


"Iya Tante."


Rani merasa malas dengan kehadiran Gilang, ia melangkah mundur berdiri di belakang sang Kakak.


"Kapan?" tanya Azky lagi.


"Beberapa hari yang lalu, Tante."


Azky mengangguk, "oh.. Tumben ya lama. Biasanya cuma dua hari di rumah, udah gak betah."


"Ko Umi tau?" sela Aisyah, memotong percakapan.


"Tau. Mamihnya kan sering cerita."


"Kapan Umi suka ngobrol sama tante Anna?"


"Kan ada group RT sayang."


"Di group RT juga suka ngomongin anak-anaknya?"


"Ya nggak. Cuma waktu itu kebetulan aja ada yang nanyain," kata Azky sambil mengusap puncak rambut Isya yang terbungkus hijab. Aisyah pun mengangguk.


"Oh.."


"Rani. Ngapain berdiri di belakang Kakak?" tanya Azky.


"Gak apa-apa Umi," sautnya dengan menunduk tak mau melihat wajah Gilang.


"Oh iya. Ko pada berdiri di sini? kenapa?" tanya Gilang.


"Lagi nunggu taksi. Mobil di rumah kempes?"


"Oh.. Kalau gitu, ikut aku aja Tante. Kebetulan aku juga mau pergi ke arah sana?"


"Boleh gitu? nggak ngerepotin?"


"Nggak lah Tante."


"Ya udah. kalian ikut Kak Gilang aja ya! taksinya dari tadi gak ada terus. Nanti kalian kesiangan lagi."


"Tapi Umi?" kali ini Rani membuka suara, melayangkan protes.


"Gak apa-apa, nanti pulangnya baru di jemput Panji."

__ADS_1


Melihat senyum Gilang yang mengandung arti, membuat Rani baru menyadari kalau kejadian hari ini pasti ulah Gilang.


"Dasar emang. Banyak banget akalnya. akal bulus."


__ADS_2