Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 11


__ADS_3

Gilang salah tingkah saat Rani tersenyum kepadanya. Dia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Gila. manis banget. Lesungsung pipinya itu loh." bergumam dalam hati. Isya yang juga ada di sana menatap tak percaya dengan sikap ramah Gilang pada adiknya. Berbeda dengan Panji yang terus menatap tajam ke arah Gilang.


"Kak."


"Iya..?"


"Di tanya kabar malah senyam senyum."


"Oh.. iya?"


"Luka kakak udah kering?"


"Mmmm... belum. Masih basah."


"Bohong banget," saut Panji menyambar.


Gilang tidak perduli dengan sautan Panji, yang ia perdulikan cuma Rani. gadis cantik berusia 11 tahun itu mampu membuat Gilang lupa segalanya.


Rani menyenggol bahu Panji.


"Aa iih.."


"Dia mah emng gitu. Sewot terus sama gue. Cinta kayaknya."


Mereka tertawa bersama, tapi tidak dengan Panji. Panji memutar bola matanya jengah.


"Aku mau bilang terima kasih sama Kakak."


"Dan gue mau nagih janji lo," kata Gilang sangat cepat.


"Janji? janji yang mana?" tanya Rani bingung. Dia lupa perihal surat saat itu, dan Gilang kembali mengingatkannya.


"Surat yang lo kasih ke gue. Masa lupa?"


Dia masih belum mengingat, menatap Isya juga Panji secara bergantian, sambil mengangkat bahunya tidak mengerti.


"Ini loh," Gilang mengeluarkan sepucuk surat yang pernah rani berikan, dari situ lah Rani langsung mengingatnya.


"Oh.. ya ampuun. Surat ini. Maaf aku lupa."


"Tenang aja, sekarang kan udah gue ingetin."


"Surat apa sih Ran?" tanya Isya penasaran.


"Neraktir baso kan Kak?" tanya Rani pada Gilang. Gilang pun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. senyum di bibirnya pun terus mengembang, dan hal itu membuat Panji muak.


"Tapi bukan cuma bakso loh Ran. Ada yang lain," kata Gilang.


"Apa?" saut mereka bersamaan. Rani dan Isya.


"Uang," jawabnya singkat.


"Uang? uang apa Ran?" kali ini Isya mengajukan pertanyaan pada adiknya.


Rani menggelengkan kepalanya tidak tau.


Panji melangkah maju sambil mengepalkan tangannya, "lo mau malak anak kecil?" kata Panji sangat emosi.


"Sabar broo. Gue gak malak siapapun. Lo baca aja isi suratnya."

__ADS_1


Bukan Panji yang membaca. Tapi Isya, karna saat ini suratnya berada di tangan Aisyah.


"Bersedia mengganti kerugian, di cicil?" sepenggal surat yang Isya bacakan. Rani menunduk malu, pasalnya dia tidak memiliki uang selain uang jajan.


"Ini beneran kamu yang nulis dek?" tanya Isya pada adiknya yang terus menunduk. Rani pun mengangguk. Isya menggelengkan kepalanya, menatap tak percaya. Sedang Gilang terus tersenyum melihat expresi wajah Rani.


"Menggemaskan, dan kali ini gue pasti menang," Gilang bergumam dalam hati.


"Berapa biayanya?" tanya Isya.


"Dikit. Gak banyak ko. Cuma limaratus ribu," sautnya.


"Tenang Ran. Gue kasih lo keringanan. Seminggu."


Mereka berdua terkejut, "satu minggu?"


"Yang bener aja dong Kak. Kita mana punya uang sebanyak itu? dalam satu minggu?" Isya terus menyahuti perkataan Gilang.


"Tenang Ran. Nanti kita minta abi aja," kata Isya berbisik. Gilang mendengarnya samar-samar, dan langsung menyahuti.


"Gak bisa. Rani gak bisa minta sama orangtua, gue mau dia bayar pake uang dia sendiri."


"Uang kita kan dari mereka."


"Dia punya uang jajan kan?"


Mereka diam.


"Lo bisa ngumpulin dari uang jajan," kata Gilang, bicara pada Rani.


"Jadi Kakak gak ikhlas nolongin Rani?" saut Rani sedikit cemberut.


"Oh.. ya ikhlas lah. Gue kan cuma mengingatkan janji yang hampir aja lo lupain."


"Satu minggu. Kalau lo gak bisa ganti rugi," ucapannya terjeda sejenak, lalu kembali bicara sambil melangkah maju menghampiri Rani.


"Kalau lo gak bisa tepain janji, lo harus jadi pacar gue," kata Gilang dengan senyum menyeringai.


Keadaan semakin membuat Panji muak, dan pembicaraan mereka semakin tidak masuk akal. Belum sempat Rani menjawab setuju atau tidak, Panji menarik tangan Rani juga Isya untuk meninggalkan Gilang.


"A. Tunggu," kata Rani.


"Nggak Ran. Kamu jangan dengerin Gilang, dia gak waras," terus ia berjalan tanpa menoleh lagi kebelakang. Dan Rani yang tangannya terus di tarik, tak bisa lagi menahannya selain mengikuti langkah Panji, tapi ia masih bisa mendengar teriakan Gilang dari kejauhan.


"Gue tunggu minggu depan. Di sini."


Sreeet..!


Panji menutup pintu gerbang lalu menguncinya, seraya menarik tangan Rani juga Isya masuk ke dalam rumah.


Setelah kejadian itu, Rani mulai menyisihkan uang jajannya untuk mengganti uang pengobatan Gilang. Dan waktu 7 hari yang di berikan, tidak cukup untuk Rani mengumpulkan uang sebanyak lima ratus ribu.


"Gimana dong Kak? uang ku gak cukup," ucap Rani merengek pada sang Kakak, meminta bantuannya.


Aisyah sebagai kakaknya tidak bisa diam saja saat sang adik membutuhkan bantuannya.


"Udah. Kamu tenang aja, Kakak punya celengan, kita bongkar aja," kata Aisyah sambil beranjak dari tempat tidur mengambil celengan miliknya di atas meja belajar.


"Kakak yakin mau pecahin celengan Kakak?"


Aisyah mengangguk tanpa ragu, "nanti Kakak bisa ngumpulin lagi."

__ADS_1


Celengan ikan terbuat dari keramik itu sudah berada di udara, siap untuk di pecahkan, dan tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka.


"Tok


"Tok


"Tok


"Siapa?" tanya Rani.


Aisyah membuka pintu sambil memegang celengan di tangan kirinya.


"Kenapa A?" tanya Aisyah.


"Di panggil sarapan Non sama tuan."


"Oh.. iya A. Nanti kita turun."


Melihat Aisyah memegang celengan, Panji pun merasa penasaran, lalu bertanya.


"Mau di apapin celengannya Non?"


"Mau aku pecahin," saut Aisyah dengan polosnya.


"Buat?"


"Buat bantu Rani bayar kak Gilang."


"Rani menyanggupi permintaan Gilang?" tanya Panji terkejut. Isya pun mengangguk.


"Kak. Ada apa?" tanya Rani yang sama-sama turun dari ranjang menghampiri sang kakak.


"Ran. Kamu punya uang berapa sekarang?" Panji langsung bertanya begitu Rani berdiri di samping Isya.


"Baru tiga ratus ribu."


"Non. Non Isya gak perlu bongkar celengan. Aku punya uang dua ratus ribut buat nambahin uang Rani."


"Jangan A. Itu uang Aa, aku gak mau," saut Rani.


"Gak apa-apa. Aa masih punya uang ko. Mau ya pake Aa?"


Sejenak Rani terdiam menatap wajah sang kakak. Begitu Isya mengangguk setuju, Rani pun ikut setuju.


"Ya udah deh. Aku mau."


"Ok. Habis sarapan kita temuin Gilang."


"Iya A."


Celengan milik Aisyah bisa di amankan berkat bantuan Panji, Rani pun merasa lega, karna Panji selalu bisa memecahkan masalah yang menimpa pada dirinya.


Setelah selesai sarapan, mereka bertiga berjalan menuju gerbang utama hendak menemui Gilang. Tepat saat akan membuka Gerbang, Panji di panggil oleh Fatih untuk meminta bantuan dirinya. Panji tidak bisa menolak, akhirnya Aisyah dan Rani lah yang menemui Gilang.


"Gimana? udah kekumpul?" tanya Gilang dengan senyum yang sulit untuk di artikan.


Rani mengeluarkan uangnya, dan langsung menyerahkan uang itu ke tangan Gilang, dan Gilang mulai menghitungnya.


"Pas."


Gilang sepertinya mengetahui sesuatu. Ia melangkah mendekati Rani, lalu memegang bahunya.

__ADS_1


"Rani sayang. Anak kecil kan gak boleh bohong ya? ayo jujur sama Kakak, apa ini uang Rani semua? khm..?"


__ADS_2