
Rani meninggalkan Panji dengan perasaan kesal. Anal dari majikan? apa tidak ada kata yang lebih halus lagi untuk mengartikan hubungan mereka? seharusnya Panji mengatakan kalau kita itu teman, teman yang selalu ada kapan pun kita butuhkan, saat susah, maupun senang.
Rani masih kesal dengan Panji, dia bahkan menolak saat Aisyah meminta pada sang adik, menemani dirinya menemui Panji di ruang belakang.
"Temenin dong sebentar, Dek. Kakak ada pelajaran yang gak ngerti nih," ajak Aisyah. Namun, Rani terus menolak.
"Nggak. Aku gak mau ketemu A Panji," ucap Rani tanpa memperdulikan permohonan sang Kakak. Ia terus disibukan dengan ponselnya.
"Ih ... ko gitu sih, Ran? nanti kalau nilai ku turun gimana? lagian, kenapa sih gak mau ketemu A Panji?" tanya Aisyah penasaran.
Biasanya Rani tidak pernah menolak kalau sang kakak membutuhkan bantuannya apa lagi hanya minta ditemani bertemu dengan Panji.
"Gak apa-apa," jawabnya singkat.
"Kalau gitu, Ayo dong!" Aisyah terus memaksa hingga akhirnya Rani pun mengalah dan mau mengantar sang kakak bertemu dengan Panji.
"A," panggil Aisyah.
Panji menoleh ke belakang lalu berdiri. "Ada apa, Non?"
"Lagi sibuk ya, A?" tanya Aisyah setelah melihat banyaknya berkas berserakan di lantai.
"Nggak ko," Kata Panji.
"Itu," Aisyah menunjuk dengan sudut matanya.
Panji pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Aisyah. "Oh itu. Itu berkas buat besok, Non."
"Besok emang mau ke mana, A?" tanya Aisyah semakin penasaran, juga mewakili rasa penasaran sang adik.
"Ke kampus. Ngasih berkas-berkas."
__ADS_1
"Oh..." Aisyah mengangguk paham, sedangkan Rani terus bersembunyi di balik punggung sang Kakak.
"Oh iya. Silahkan duduk, Non!"
Rani dengan Aisyah duduk di atas sofa, sedangkan Panji berdiri di depan mereka.
"Ini loh A. Aku tuh gak ngerti." Aisyah menyerahkan bukunya pada Panji.
Panji meraih buku itu dan mulai membacanya.
"Oh.. ini mah gampang, Non."
Sementara Panji mengajari Aisyah belajar, Rani sempat melirik nama universitas yang tertera pada salah satu kertas. Universitas Negeri Surabaya.
"Surabaya?" Rani terkejut.
"Aa Mau kuliah di Surabaya?" tanya Rani tiba-tiba.
"Aa mau kuliah di Surabaya?" Rani mengulangi pertanyaannya.
Panji mengangguk. "Iya."
"Bukan di Jakarta?"
"Bukan," jawab Panji singkat.
"Kenapa gak di Jakarta? Jakarta juga kan banyak Universitas Negeri," protes Rani.
"Ya. Aa maunya di sana. Di sana juga Aa sambil kerja bantuin toko saudra."
"Kenapa Aa bilang?" cetus Rani.
__ADS_1
"Bukan gak bilang, Non Rani kan gak nanya," saut Panji.
"Emang mesti di tanya dulu ya? kenapa gak langsung bilang aja?"
"Ya... emangnya penting buat Non Rani."
"Ya penting lah, A. Aa mau ninggalin aku? ninggalin Aisyah juga?"
"Aa mau belajar, Ran."
"Gak salah kan, Sya?" tutur Panji pada Aisyah.
"Ya nggak sih," jawab Aisyah.
"Tapi kan kita dari dulu selalu bertiga, Kak. Kenapa sekarang malah harus terpisah?" seru Rani mulai emosi.
"Aa gak bisa terus main-main sama kalian, Aa juga butuh pendidikan buat masa depan, Ran," ungkap Panji.
"Kalau masalah pendidikan, di sini juga banyak, kenapa mesti jauh-jauh? kalau masalah pekerjaan, Aa juga kan lagi kerja di rumah kita, kenapa mesti bantuin jaga toko?"
"Kalau semudah itu masalahnya, kenapa kamu larang Aa pergi? bukannya teman itu saling mendukung?"
Rani diam, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Aa punya cita-cita, Ran. Dan jadi tukang kebun itu bukan cita-cita Aa. Aisyah aja gak masalah kalau Aa kuliah di Surabaya, kenapa kamu malah ngelarang?"
Jangan lupa untuk selalu LIKE, KOMEN, VOTE, BUNGA SETAMAN. Biar semangat lagi UP nanti siang.
__ADS_1