Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 3


__ADS_3

"Dari mana aja Rani?" tanya Azky sambil memeluk putrinya. Dia baru bisa bernafas lega saat Rani kembali dengan selamat bersama Panji.


Panji yang datang bersama Rani, berdiri bersama ayahnya, jauh dari meja makan mereka. Karna ia cukup tau diri, kalau dirinya hanya anak supir, yang kebetulan berteman dengan anak majikannya.


"Aku.. habis.. Main di halaman depan Umi," kata Rani berbohong. Ia menunduk berdiri di depan Azky sambil memeluk boneka beruang yang ia dapatkan dari hasil lempar bola dengan Panji.


"Lain kali kasih tau Umi, kalau gak Abi, biar kita gak bingung nyariin, sayang..."


"Tau ih.. adek, bikin heboh aja deh," kata Isya sambil memeluk adiknya Daffa, yang masih nampak menikmati menu yang di hidangkan.


"Bosen kak," sautnya.


"Tapi seenggaknya bilang Umi, atau gak bilang kakak, kakak kan bisa nemenim kamu."


"Kakak gak asik, susah di ajak mainnya, baca buku terus, aku kesepian tau Kak, aku mau main."


"Kamu itu ngajak main terus Rani, Kakak kan harus belajar. Kakak mau punya nilai terbaik di sekolah."


"Tuh kan. Gak asik, mending aku main sendiri, karna ada atau gak ada Kakak, sama aja." katanya sedikit merajuk. Melihat sikap putrinya yang sedikit keras, Azky membawa Rani ke dalam pelukannya, berusaha menenagkan supaya tidak berlanjut marah.


"Udah. Yang penting kamu udah kembali, cukup buat Umi."


"Maaf," kata Rani penuh penyesalan.


Setelah Rani sedikit tenang, Azky melepaskan pelukanya, dan bertanya perihal boneka beruang yang terus ia peluk semenjak datang, sampai saat ini masih dalam pelukannya.


"Boneka ini dari mana?" tanya Azky penasaran.


"Beli di pasar tumpah di kampung belakang," lagi-lagi dia harus berbohong.


"Bagus Ran. Kakak di beliin gak?" sela Isya yang juga tertarik dengan boneka sang adik.


"Uangnya cuma ada sedikit kak, aku beli satu ini aja."


"Yah.. bagus loh padahal."


Tapi dalam hitungan persekian detik, tiba-tiba ia ingat kalau tadi Panji berhasil mendapatkan boneka beruang berukuran kecil, dan berniat memberikan boneka kecil itu untuk sang Kakak.

__ADS_1


Ia langsung berlari menghampiri Panji yang masih betah duduk di kursi paling belakang bersama ayahnya.


"A.. boneka kecil ini buat kak Isya ya? boleh kan?"


"Boneka ini?" menujuk pada boneka yang sedang ia pegang, Rani pun mengangguk.


"Boleh. Aa kan cowok, masa main boneka." ucapnya, seraya menyerahkan boneka kecil pada Rani.


"Makasi ya A."


Rani berjinjit berbisik di telinga Panji, "Nanti kita main lempar bola lagi, biar dapet baju kaus buat Aa."


Panji mengangguk sambil tersenyum, "iya Ran."


Mendengar putranya memanggil rani dengan menyebut namanya, ayahnya menyenggol bahu Panji, mengingatkan dirinya untuk memanggil Rani dengan panggilan non.


Panji tau isyarat itu, "Iya pak. Maaf," Panji pun menunduk.


Setelah mendapatkan boneka kecil dari Panji, Rani kembali ke mejanya, memberikan boneka beruang berukuran kecil itu pada sang kakak.


"Makasi ya Ran. Biar kecil juga gak apa-apa. Lucu," Isya tersenyum bahagia mendapatkan boneka dari sang adik.


"Ya udah, kamu temuin dulu ayah gih. Ayah juga khawatir tadi nyariin kamu," Azky menautkan rambut panjang Rani ke belakang telinganya.


Mendapat perintah dari Azky, Rani langsung berlari menghampiri meja Zahfran, memberitahukan padanya, kalau dirinya sudah kembali dengan selamat. Dari kejauhan, nampak Zahfran mencium kening Rani, dan membawa Rani duduk di sebelahnya sambil menyodorkan beberapa makanan yang tersaji di atas meja.


Susana kembali tenang, Rani sudah di temukan, dan acara pesta berlangsung sangat meriah, terlebih pengantin baru yang duduk di atas pelaminan, sedang mengobrol, yang entah apa yang mereka bahas, sampai beberapa kali terlihat Kiran menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Nanti malam siap gak?" tanya Adlan berbisik di telinga Kiran, membuat wajahnya berubah merah merona seperti udang rebus.


"Malu ah."


"Ko malu.. baru di ajakin, gimana kalau udah terjun langsung ke lapangan?" Adlan terus memggoda sang istri dengan kata-kata sensualnya, juga sentuhan-sentuhan lembut di pipinya, dan moment natural itu tak luput dari sorotan kamera, yang terus mengarah ke arahnya, untuk mendapatkan momen menarik untuk di abadikan oleh kamera digital.


"Iih.. mas Adlan. jangan kayak gitu. Aku gemeteran nih."


Adlan melihat tangan Kiran benar-benar gemetar juga berkeringat di bagian telapak tangannya karna gugup.

__ADS_1


"Ya ampun Ran, segugup ini kah kamu?" ucapnya sambil mengusap telapak tangan Kiran yang penuh dengan keringat. Kiran mengangguk pelan.


"Maaf, maaf." Adlan mengusap telapak tangan Kiran memakai tisyu.


Selesai dengan acara malam ini, Adlan naik ke lantai atas, menuju kamar pengantin yang sudah di siapkan pihak hotel untuk pengantin baru bermalam.


Mereka masuk setelah pintu kamar di bukakan oleh pegawai hotel. Setelah mengantarkan barang-barang mereka, Pegawai hotel itu pun pergi undur diri, mempersilakan pengantin baru itu untuk beristirahat.


Suasana canggung terjadi kembali setelah pelayan itu pergi, Kiran duduk di tepian tempat tidur, masih mengenakan pakaian pengantinnya, dan memilih diam menunggu Adlan yang memulai pembicaraan.


Sambil berdiri di depan cermin besar, ia melepaskan kancing bajunya satu-persatu, juga menggulung bagian tangannya sampai atas, sambil melihat ke arah Kiran dari pantulan cermin.


Sangat jelas terlihat kalau istri kecilnya saat ini sedang gugup. Ia tersenyum, rasanya ingin cepat-cepat menggoda Kiran, memberitahu kalau berse**gama itu sebuah kenikmatan, dan itu lah salah satu tujuan menikah.


Tidak. Ia mengurungkan niat untuk meminta haknya malam ini, masih banyak waktu, Adlan sengaja memberikan ruang untuk Kiran, agar bisa menetralkan kegugupanya.


"Ran. aku mandi duluan ya. Atau mau kamu duluan?"


"Mas Adlan aja yang duluan, aku.. mau istirahat sebentar," ucapnya dengan tersenyum gugup.


Adlan mengangguk, "Ok."


Akhirnya Kiran bisa bernafas lega setelah Adlan masuk ke dalam kamar mandi. Dia buru-buru mencari baju di dalam koper, tapi tidak ada, yang ada cuma baju tidur tipis yang kekurangan bahan. Kiran kebungungan, Adlan keburu keluar dari kamar mandi, akhirnya Kiran mengambil baju yang mana saja, tanpa ia lihat.


"Mas?" jantungnya berdetak tidak beraturan, dia semakin gugup saat melihat Adlan memakai handuk yang hanya menutupi bagian pinggangnya saja.


"Kenapa Ran?" ia berjalan perlahan menghampiri Kiran sambil mngeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.


Kiran menggelengkan kepalanya, "nggak apa-apa mas?" jawabnya gugup.


"Kiran."


"Hhmm...?"


"Aku tau kamu belum siap. Aku gak akan minta hak aku malam ini ko. Jadi kamu tenang aja ya?" meraih tangan Kiran, lalu menciumnya.


"Udah sana mandi, habis itu kita istirahat."

__ADS_1


"Iya mas."


__ADS_2