
Tok..
Tok..
Tok..
Kiran mengerjap bangun, saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. "Sebentar." Berjalan lemah sambil meremas perutnya kesakitan.
Pintu terbuka perlaha, ia memegang handel pintu menahan sakit. "Kak Abiy..?" Mata Kiran membulat sempurna.
"Ran, kamu sakit?" Baginya, pertanyaan seperti itu wajar-wajar saja saat ada salah satu pegawai rumah kita yang sedang sakit. Anggap lah itu sebagi rasa pedulu tuan rumah terhadap pegawainya.
"Iya kak."
"Sakit banget ya?" Tanyanya lagi, Abiyu ikut meringis melihat raut wajah Kiran menahan sakit.
Kiran mengangguk. "Banget."
"Tapi udah minum obat kan?"
"Udah, tadi kak Kisya yang kasih. Bentar lagi juga mendingan."
"Hhmm.."
"Abiy..." kisya memanggil sambil berjalan ke arahnya. "Ayo, aku kesiangan nanti." Ia menautkan tangannya pada lengan Abiyu.
"Iya, bentar." Abiyu merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet lalu mengambil uang kertas berwarna merah sebanyak lima lembar. "Ambil Ran."
"Buat apa kak?" Kiran mengerutkan keningnya.
"Aku sama Kisya kan gak ada di rumah, kalau masih sakit, ke dokter aja. Bunda punya supir pribadi ko, kamu bisa minta tolong sama bunda."
"Ambil lah."
Menolaknya adalah pilihan yang harus ia ambil. "Gak usah, ni juga udah mendingan kak."
"Udah, ambil aja Ran, siapa tau kamu nanti butuh." Kisya mengambil uang dari tangan Abiyu, dan menyerahkan langsung ke tangan Kiran, dan mengepalnya.
"Tapi kak..?"
"Udah ah."
"Pokoknya, kalau ada apa-apa kabarin kita ya." Katanya sangat tulus.
Walau dengan berat hati, akhirnya Kiran menerima uang pemberian Abiyu. "Makasi kak, maaf aku ngerepotin kalian.
Kisya tersenyum. "Nggak ko."
"Kita jalan dulu ya Ran."
"Iya kak, hati-hati."
__ADS_1
Setelah Abiyu dan Kisya pergi, Kiran menutup pintu kamarnya, dan kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Kiran terus memandangi uang pemberian Abiyu. "Aku baru kali ini menemukan keluarga sebaik kalian." Gumamnya, terus memandangi uang itu.
Setiap hari Kiran menahan diri, menjaga hatinya untuk tidak lebih dari mengagumi sosok sempurna seperti Abiyu, namun ternyata ia gagal, kebiasaan Kiran melayani Abiyu selama ini, membuat ia kesulitan mengontrol perasaannya, hingga akhirnya nama itu terukir sangat jelas dengan sendirinya.
"Ibu..aku mencintainya." Pesan yang Kiran kirim pada ibunya, Tak langsung membalas, karna saat ini ibunya sedang di sibukan dengan pekerjaan di rumah Nindy.
Karna lama tak mendapat jawaban, Kiran teridur cukup lelap, mungkin pengaruh obat juga, membuat kantuknya tidak tertahan lagi. Cukup lama ia tertidur, sekitar dua puluh menit, sampai dering pada ponselnya, membangunkan dia dari tidurnya.
Mengerjap bangun, ia meraba ponsel yang sengaja di letakan di dekat kepalanya. ibu nama yang tertera pada layar ponselnya. Kiran pun bangun lalu duduk bersandar pada dinding pembatas antara kamarnya dengan dapur. "Mencintai siapa nak?" Balasan dari sang ibu.
"Majikan ku bu." Jawabnya singkat, dan cukup membuat ibunya terkejut dan langsung menelfon putrinya.
"Bu.." Ia bicara dalam sambungan telfon.
"Kamu ngomong apa nak? suka sama majikan kamu?" Terkejut.
"Iya bu, aku mencintai majikan ku." Kiran menundukan wajahnya.
"Kiran, itu gak boleh nak, kamu gak boleh suka sama pria yang sudah beristri. Dosa nak."
"Aku tau bu, tapi perasaan itu muncul begitu aja." Jawabnya setengah berbisik, khawatir ada yang mendengar.
"Lagian, kamu ko bisa suka sama majikan kamu? dia ngegodain kamu?"
"Nggak bu, majikan ku gak kyak gitu, dia sangat baik, dan aku yang salah mengartikan kebaiknnya, aku malah suka sam dia."
"Kiran..." Suara ibunya terdengar lirih.
"Kamu gak berfikir akan merebut majikan kamu kan?"
"Jangan ya nak." Ibu Kiran memperingatkan.
"Lebih baik kamu pulang aja, jangan kerja sama mereka lagi, semakin lama kamu di situ, kamu bakal semakin susah buat lupainnya. dan kamu akan kesakitan sendiri."
Tidak tau harus berkata apa, Kiran terdiam seraya berfikir. "Aku semakin sulit menjauh darinya bu, aku bahkan rela tidak mendapatkan upah demi bisa melihat wajahnya, tanpa ada rasa ingin memiliki." Kiran semakin di sulitkan oleh persaannya.
Terus tinggal bersama mereka adalah sebuah kesalahan, dan pergi menjauh, adalah langkah yang tepat. "Aku memang harus meninggalkan keluarga ini, aku akan mencari waktu yang tepat bu."
"Iya nak." Kiran memutus sambungan telfon dengan ibunya, ia terus memikirkan waktu kapan yang tepat.
Sedang di tempat lain, Shafiah semakin di bingungkan dengan keadaan di mana hanya ia yang tahu, dan cuma dia yang mengetahui keadaan bahwa Kiran pasti menyimpan hati pada putranya. "Bagaiman aku membahas masalah ini sama Kiran?" Shafiah terus berfikir Keras, hingga suara bel pintu Utama menyadarkan dia dalam lamunan.
"Itu pasti si kembar." Karna Kiran sedang sakit, Shafiah sendiri yang membukakan pintu.
"Bunda..!" Benar kan dugaannya, mereka datang. Aisyah, dan Asiyah datang berkunjung bersama Azky.
"Kangen, kangen, kangen," Asiyah memeluk dan mencium bundanya tanpa jeda.
Menyaksikan pemandangan di depannya membuat Azky dan Aisyah tersenyum senang, segitu dekatnya si kembar dengan bunda Shafiah. "Bunda jahat banget jarang temuin kita."
"Maaf, bunda agak sibuk di rumah sayang."
__ADS_1
Asiyah melepaskan pelukannya. "Ayah mana bun?"
"Ayah kerja."
"Tadi bilang ayah gak kalau mau ke sini?" Tanyanya. merek masih berdiri di depan pintu.
"Gak tau Umi, tadi kasih kabar ke ayah gak?" Tanya Asiyah sambil menoleh ke arah Azky.
"Umi lupa nak, lagian kan ada bunda juga di rumah." Sautnya.
"Iya sih." Muach.. Lagi dan lagi Asiyah mencium pipi bundanya.
"Udah dong, masa adek terus yang cium bunda? kakak gak di kasih kesempatan?" Aisyah yang memiliki sifat lebih pendiam dari saudara kembarnya, selalu mengalah demi adik tercinta, banyak hal kalau harus di uraikan satu persatu, ya..contohnya seperti saat ini, dia tidak di beri kesempatan untuk memeluk bundaaya.
Eehh... tapi kali ini Asiyah memberikan kesempatan pada sang kakak untuk memeluk bunda Shafiah. "Kangeeennn bnget sama bunda." katanya sambil memeluk erat.
"Bunda juga kangen sama Aisyah."
Hubungan mereka selalu terjalin sangat baik, tidak ada rasa canggung lagi, kedua kelarga ini kerap melakukan liburan ke luar negri bersama, bahkan si kembar yang saat ini sudah sama-sama mulai remaja, membuat keakraban mereka lebih terasa.
"Kemana Audy bun?" Tanya Asiyah sambil merapihkan rambutnya yang terurai panjang, berbeda dengan kakaknya Aisyah yang terus memakai hijab.
"Audy di dalem kamar, lagi main-mainan tih sama Kayla." Sautnya sambil mendudukan diri di samping Aisyah.
"Kayla di sini juga?"
"Iya."
"Aku mau godain mereka ah." Sifat jahil Asiyah selalu membuat suasana rumah semakin ramai. seperti pencuri ia mengendap-endap masuk ke dalam kamar Audy, dan benar saja, begitu masuk, suasana di dalam kamar Audy menjadi riuh. "Aaaa... Kakak."
Terdengar juga suara Kayla berteriak. "Aunty..."
Mereka yang berda di lantai bawah hanya bisa terkikik lucu dengan sifat jahilnya. "Ya ampuuun Azky.. Kenapa sifat si kembar ini jauh berbeda sih?"
Azky cuma bisa menggelengkan kepalanya, seraya tersenyum. "Aku juga heran mba."
"Yang satu, jahilnya minta ampun, yang satu ini diemnya minta ampun." Azky mencubit hidung mancung putrinya.
"Umi..."
Asik mengobrol, Zahfran menghubungi Shafiah dalam sambungan telfon, obrolan mereka terjeda sebentar. "Ayah.. telfone, mau ngomong?"
"Mau dong bun."
"Tapi...
LIKE dulu,
KOMEN
VOTE
__ADS_1
BUNGA nya juga
🥰🥰🤗