Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 44


__ADS_3

"Kamu di mana, Nak?" tanya Bu Anna kepada sang menanti Aisyah yang saat ini sedang dalam perjalanan bersama Gilang untuk mencarai Maharani.


"Kita masih sekitar Jakarta, Tante." Aisyah menjawab sambil menatap sendu ke arah Gilang yang sedang fokus mengendarai mobil dengan kecepatan sedang seraya menoleh ke kanan, ke Kiri berharap bisa menemukan Maharani.


"Seharusnya kamu jangan mengikuti kemauan dia, Isya. Kalaupun Rani ketemu, memangnya mau apa? kalian sudah menikah!" ujar Bu Anna dalam sambungan telepon.


"Tante benar, tapi sebagai Kakak, aku khawatir dengan keadaan adik ku di luar, Tante. Aku nggak mau sesuatu hal yang buruk terjadi kepada adik ku."


Sekalipun Rani sudah berbuat kesalahan, Aisyah sebagai Kakak, apa lagi mereka adalah saudara kembar, sangat diwajarkan kalau dia merasa khawatir yang teramat sangat, sehingga saat Gilang memutuskan untuk mencari Rani, Aisyah pun setuju.


Gilang yang merasa terganggu dengan setiap ocehan ibunya kepada Aisyah, langsung menyambar ponsel sang istri, lalu memutus sambungan telepon.


"Kakak. Tante Anna belum selesai ngomongnya, kenapa dimatiin?"


"Mommy itu gak akan berhenti ngomong sampai lo mngiyakan keinginan dia. Lebih baik sekarang kita fokus mencari Rani. Keluarga lo juga ikut nyari kan?" tanya Gilang tetap fokus.


"Iya lah, Ayah sama bunda udah lapor polisi, umi sana abi udah nyuruh seseorang ikut mencari Rani bersama polisi."




Kediaman Fatih.


Tidak berhenti menangis Azky dalam pelukan Fatih, memikirkan keadaan sang putri yang belum diketahui keberadaannya.



"Aku mau putri ku pulang malam ini juga, aku takut sesuatu hak yang buruk terjadi."

__ADS_1



Hiks.. hiks.. hiks..



"Iya, Sayang. Semua orang sedang mencari, kamu tenang ya, putri kita kuat, dia pasti baik-baik aja." Fatih terus berusaha menenangkan Azky dengan memeluknya erat.



Bukan hanya Azky dan Fatih. Di sana juga ada Zahfran juga Shafiah yang memilih tidak pulang, bermalam di rumah Fatih sampai Rani ditemukan.



"Ini semua gara-gara kalian," tuduh Zahfran kepada Azky juga Fatih. Mereka terkejut dengan ucapan Zafran.




"Berapa kali aku bilang, aku tidak setuju dengan pernikahan ini, Azky. Tapi kalian malah memaksakan, kalian tidak mau mendengarkan pendapat dari ku. Dia putri ku." Suara Zahfran membentak kesal karena ucapannya tidak pernah didengar oleh Fatih juga Azky.



"Dia juga putri ku, Mas." Suara Azky tidak kalah membentak.



"Tapi kenapa kamu tidak bisa mengerti apa yang putri kita mau, apa yang dia tidak mau? dari awal aku tidak melihat cinta untuk Gilang, dia mencintai pria lain. Dan kalian malah memaksanya menikah dengan Gilang."

__ADS_1



Suara Zahfran terus membentak, Fatih yang terlambat menyadari hal itu, hanya bisa diam mendengarkan Zahfran bicara.



"Itu yang kamu bilang kamu sudah menjadi ibu yang baik? kamu hanya sibuk dengan suami mu saja, Azky. Kamu melupakan putri kita, kamu tidak mengerti mereka. Kalau kamu tidak sanggup mengurus Aisyah dan Maharani, maka berikan dia kepada ku. Karna aku yang lebih mengerti mereka dari pada kalian."



"Cukup Zahfran!" teriak Fatih memotong ucapan Zahfran yang terus menyalahkan sang istri.



"Berhenti menyalahkan istri ku!" hardiknya.



"Mas, jangan seperti ini, aku mohon!" Shafiah berusaha menenangkan Zahfran, yang tidak mau berhenti menyalahkan Azky juga Fatih.



"Tidak Shafiah, Azky sudah gagal menjadi seorang ibu, dia sudah gagal menjadi ibu dari anak-anak ku, sekarang kedua putri ku sedang menderita, batin mereka tersiksa, aku bisa merasakannya.



"Kamu fikir cuma kamu yang merasakannya, Mas. Aku ibunya, kamu jangan lupa itu. Aku yang mengandung mereka, aku melahirkan mereka, bahkan tanpa kamu, dan sekarang kamu bilang aku tidak bisa menjadi ibu yang baik? apa kamu fikir kamu juga ayah yang baik dengan membiarkan mereka tumbuh tanpa sosok seorang ayah? di mana kamu saat itu?"


__ADS_1


"Azky...!"


__ADS_2