
"Dia, cuma merasa kehilangan teman mainnya aja, coba kamu sama Abiyu ambil cuti dulu, ya... untuk beberapa hari ke depan lah." Zahfran coba memberi saran. Siapa tau sarannya bisa berhasil.
"Yang di bilang ayah mu benar, Biy. senggaknya libur tiga hari aja dulu. Kasih semua waktu kalian untuk main sama Kayla, pergi liburan bertiga juga boleh, kalian pernah kan pergi liburan bertiga?"
"Pernah dulu, tapi berempat sama Kiran," saut Kisya ketus.
"Waktu itu kan kita belum tau perasaan Kiran, Yank."
Mereka berbincang di ruang keluarga setelah susah payah menidurkan Kayla, ini hari pertama Kayla tanpa Kiran, dan menghadapi kamarahan Kayla cukup menguras tenaga terutama hati yang harus dengan sabar menghadapinya.
"Ayo kita coba, Biy. Aku akan libur kuliah satu minggu. Kita habisin waktu sama putri kita," Kisya benar-benar sudah berubah. Tidak lagi memposisikan kuliahnya di atas segalanya. Dia mau mengambil cuti demi menyembuhkan luka hati putrinya karna sudah kehilangan teman mainnya.
"Ya udah, nanti aku minta tolong Om Bram ngurusin Restauran dulu sendiri."
Tidak ada usaha yang membohongi hasil. Tujuh Hari mereka habiskan waktu bersam Kayla, akhirnya bisa berbuah manis. Banyak kegiatan yang mereka lakukan, hingga Kayla tidak memiliki waktu lagi untuk mengingat-ingat Kiran, karna waktunya ia habiskan untuk bermain dengan Ayah dan Bundanya.
Banyak kegiatan yang mereka lakukan. Liburan, bermain di pantai, pergi ke wahana permainan, bahkan ia mengikuti beberapa kegiatan sosial Nekdanya di sebuah panti asuhan, dan beberapa kegiatan anak yatim.
"Makasi ya yank, kamu mau libur kuliah dulu demi putri kita, bahkan kamu mengurus semua keperluan aku dan Kayla. Ini baru Kisya ku yang dulu, yang selalu ada buat aku dan Kayla," Abiyu mencium kening sang istri sangat dalam penuh cinta, lalu kembali memeluknya sangat erat. Ia benar-benar merasa bahagia menghabiskan waktu tujuh hari bersama.
"Maaf ya Biy.. kemaren-kemaren aku sempet lupain kalian. Sekarang aku baru sadar, kalau waktu bersama anak itu sangat berharga. Beruntunglah aku masih bisa memperbaiki waktu yang hilang itu." Kisya mengatakannya dengan tulus.
Abiyu melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah Kisya. Ia melihat ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya yang sudah siap untuk jatuh. "Aku sangat mencintai mu Kisya dayana. Sangat mencintai mu. Kamu gak perlu takut aku berpaling, karna sampai kapan pun, hati aku cuma buat kamu. Kecuali... kalau penyakit cuek kamu kambuh. Aku gak janji loh."
"Iihh.. Abiu..."
Ungkan cinta Abiyu, membuat Kisya tidak mampu lagi menahan air mata, ia menangis haru mendengar pernyataan suaminya, "Terima kasih. aku cuma bisa bilang terima kasih kamu sudah mencintai aku sedalam itu." Kisya menc*um bibir Abiyu sangat dalam, sangat lama, hingga keduanya larut dalam kenikmatan dan berakhir dengan adegan panas di atas ranjang.
"Satu minggu loh kita libur Yank. Aku mau lagi," pintanya sambil memeluk Kisya dari belakang, sedang tangannya terus bermain di tempat favoritnya, membuat Kisya terus menggeliat penuh kenikmatan.
"Lakukan sampai kamu puas, Biy.. aku siap melayani kamu."
Kesiapan Kisya membuat Abiyu bangkit lagi, lalu kembali memposisikan diri di atas tubuh Kisya yang masih polos tanpa sehelai benang pun yang menempel. Seakan tidak ada puasnya Abiyu meminta lagi, dan lagi sampai jarum jam kini berada di angka dua, mereka baru mengakhiri kegiatan panas di atas ranjang dengan deru nafas yang masih memburu, bahkan keringat yang bercucuran menambah kenikmatan dalam bercinta.
__ADS_1
"Aku sudah puas, tidurlah," Abiyu mencium kening sang istri setelah berhasil menumpahkan benih cinta di tempat semestinya. Ia turun dari tubuh Kisya, lalu berbaring di sampingnya, hingga mereka tertidur lelap setelah melakukan pelepasa. beberapa kali.
Pagi sekali di kediaman Nindy, saat Kiran akan pulang ke rumahnya di Pandeglang, ada seorang pembantu yang juga kerja di sana, menawarkan pekerjaan pada Kiran di sebuah Mall mewah untuk menjadi kasir.
"Kenapa gak kamu aja?" tanya Kiran pada temannya itu.
"Ijazah ku cuma SD, Ran. Kalau kamu kan SMK. Kalau kamu mau, buat lamarannya dari sekarang. Via email ko ngelamarnya. Siapa tau rejeki kamu di sana."
Mereka saat ini tengah memotong rumput di halaman belakang kediaman Nindy. Mereka terus mengobrol tentang bagaimana supaya di panggil interview lebih cepat.
"Gimana caranya?" tanya Kiran tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Ya itu tadi, kamu kirim Email, paling lama satu minggu di panggil, bisa jadi lebih cepet, soalnya lagi butuhin banget tuh.'
Kiran terdiam seraya berfikir. Tidak ada lagi penghasilan selepas berhenti bekerja dari rumah Kisya. Bekerja di kediaman Nindy pun tidak, Nindy sudah mewanti-wanti kalau dia tidak akan di bayar kalaupun membantu pekerjaan ibunya, atau apapun itu termasuk membantu pekerjaan pembantu lainnya. Walaupun terkadang Nindy selalu meminta Kiran untuk merapihkan kamarnya.
Cukup lama berfikir, akhirnya Kiran mau, "Besok aku siapin semuanya deh."
Keesokan harinya Kiran betul-betul mempersiapkan semua berkas lamaran yang di butuhkan. Mulai dari ijazah, SKCK, kartu sehat, kartu kuning, dan beberapa syarat lainnya. Setelah semuanya siap, Kiran pergi ke warnet sesuai petunjuk temannya itu untuk mengirim lamaran melaui Email.
Beberapa hari kemudian, Kiran betul-betul mendapat panggilan dari tempat ia melamar, dan besok Kiran harus datang mengenakan baju putih hitam selayaknya orang melamar pekerjaan.
"Semoga interviewnya lancar ya Ran," sang ibu senantiasa selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya. Tepat pukul 6 Kiran berangkat menggunakan angkutan umum ke Jakarta utara. Kiran berangkat lebih pagi karna biasalah kota Jakarja selalu macet.
Dugannya benar, perjalanan setengah jam harus ia tempuh dengan waktu yang lebih lama karna ya itu tadi, macet. Tepat pukul 07.30 Kiran sampai di tempat tujuannya, sekitar pukul 08.30 giliran nama dia di panggil masuk ke dalam menemui HRD yang menginterview.
"Kirania rossalie?"
"Iya pak."
"Saya panggil Nia boleh?" tanya seorang HRD itu ramah.
"Boleh pak,"
__ADS_1
"Sebelumya pernah kerja di pusat perbelanjaan?"
"Belum pak, saya cuma pernah jadi pengasuh."
"Anak kecil?"
"Iya pak."
"Tapi mengoprasikan komputer bisa kan?"
"Bisa pak, kebetulan nilai saya bagus di bidang itu."
Terus, dan terus kepala HRD itu mengajukan pertanyaan selama lima belas menit. Dan akhirnya Kiran pun keluar dari dalam sambil memegang kartu nama kepala HRD yang usianya bisa di perkirakan sekitar tiga puluh tahuanan.
Kisya kebingungan, "Ko aku di kasih kartu nama sih? biasanya kan paling nunggu panggilan lagi di terima atau nggaknya,"
Tak mau ambil pusing, Kiran pun pergi meninggalakan Mall tersebut, dengan harapan kalau dirinya akan di terima bekerja.
LIKE
KOMEN
BUNGA
VOTE
Selalu itu yang Author tunggu. 🥰🙏
__ADS_1