
Dalam pikirannya saat ini hanyalah Azky,mengingat kejadian tadi cukup membuat Fatih merasa Frustasi hingga saat masuk ke dalam rumah tanpa menyapa kedua orang tuanya,ia bahkan tidak mengucapkan salam saat masuk.
"Fatih.." Panggil bu Andini tanpa mendapatkan respon apapun dari putranya "Kenapa dia?" Bertanya pada pak Frans suaminya.
"Fatih.." Pak Frans memanggil Fatih dengan meninggikan suaranya.
Barulah ia tersadar dalam lamunnya,lalu menoleh ke belakang. "Kenapa pah?" Tanyanya dengan wajah datar.
"Dateng-dateng maen nyelonong aja,gak ngucapin salam lagi,gak nyapa juga,ngelamun ya? Pusing masalah kantor?" Tanya pak Frans.
"Gak pah." Jawabnya singkat.
"Kenapa? Papah ada perlu?" Tanya Fatih yang masih berdiri di belakang sofa tempat mereka duduk.
"Gak ada,aneh aja kamu pulang wajahnya di tekuk gitu. Kenapa? Berantem sama Rani?" Tanya pak Fran yang tak tau apa-apa.
"Gak ada pah,lagi banyak kerjaan aja,agak cape." Fatih memijat tengkuk lehernya.
"Kirain ribut sama calon istri kamu. Kalau kalian ribut mnjelang hari pernikahan wajar,jangan terlalu di pikirin."
"Ya pah,Fatih ke kamar dulu mau istirahat."
Pak Frans mengangguk. "Baiklah."
"Kamu udah makan malam sayang?" Tanya bu Andini pada Fatih.
"Belum mah,nanti aja."
"Nanti bibi yang bawa makanan kamu ke atas ya."
"Gak usah mah,Fatih mau tidur aja,ngantuk banget."
"Ya udah istirahat lah." Kembali Fatih melagkah menuju kamarnya di lantai atas.
Merasa lelah dengan kegiatan hari ini,Fatih memilih langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dengan berendam air hangat.
Ponselnya berdering saat ia sedang di dalam kamar mandi,tiga,empat bahkan sampai beberapa kali,yang pasti lebih lima kali.
Selesai mandi,Fatih tidak langsung melihat ponselnya,setelah mengenakan pakaian tidur ia keluar dari ruang ganti baju dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.
Ponsel nya kembali berdering dari orang yang berbeda,ia meraba ponsel yang ia letakan di atas nakas,tertera nama Adlan di sana. "Adlan? Ngapain dia malem-malem?" terheran.
Adlan yang saat ini masih tinggal di jakarta lebih memilih berbisnis dengan Fatih di daripada dengan kakaknya Zahfran.
"Assalamualaikum." Ucap Fatih setelah menggeser icon hijau.
"Waalikumsalam mas Fatih."
"Ada apa Adlan?"
"Mas,gawat,ada dana masuk dari perusahan XXX sebanyak 10 milyar ke rekening perusahaan."
"Maksud kamu?" Terkejut hingga ia bangkit dari tidurnya lalu duduk.
"Sepertinya mereka menjebak kita karna kita menolak kerjasama dengannya,aku rasa,aliran dana ini sebagai sogoka Mas."
"Bagaimana ini bisa terjadi Adlan?"
"aku gak tau mas,sepertinya mas harus pulang ke jakarta dulu deh,aku gak bisa kalau sendiri."
Fatih diam sejenak sebelum mengiyakan permintaan Adlan. "Baiklah,besok aku ke jakarta."
Kabar buruk dari Adlan semakin menambah Fatih frustasi,Fatih belum menyadari banyaknya panggilan yang tidak sempat ia buka,ia kembali menyimpan ponselnya di atas nakas dan lebih memilih tidur lebih cepat karna besok ia harus sudah terbang ke indonesia.
Pagi pun tiba,hari ini Azky hrus kembali bekerja,seperti biasa ia menitipkan putri kembarnya pada Dewi.
"Assalamualikum" Ucap salam Azky di depan rumah Dewi.
Dewi yang sedang di sibukan oleh suaminya itu pun langsung menghentikan aktifitasnya sejenak. "Mas berhenti." mata Dewi membulat sempurna.
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Rani..di luar ada Rani."
"Biarin aja,kan ada Nizma di luar." Ucap Rafa yang kembali memompa tubuh Dewi dengan nafas terengah-engah.
Karna Nizma tak kunjung membukakan pintu,suara Azky kembali terdengar. "Di bilangin udah dulu mas."
"Nanggung nih sayang." Kata Rafa.
Dewi memaksa Fatih untuk turun dari tubuhnya lalu ia pun bangun dan turun dari ranjang. "Nizma pasti gak ada di rumah mas,aku buka dulu pintunya." Dewi memunguti satu persatu bajunya yang berserakan di lantai karna ulah suaminya yang jahil di atas ranjang.
"Hhmm..gagal deh." Ucap Rafa sambil mengacak rambutnya.
Olahraga pagi ini membuat Dewi kehabisan tenaga,dia bahkan belum masak karna Rafa terus menariknya ke dalam kamar.
Dewi merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan sebelum ia membuka pintu. "Udah rapih kayaknya." Ucapnya pelan. Baru lah ia membukakan pintu. "Waalaikumsalam..Ran udah mau berangkat?"
"Iya mba." Melihat kondisi Dewi yang sedikit berantakan dan berkeringat membuat Azky yang tidak tau apa-apa,penasaran dan akhirnya bertanya. "Loh..mba habis senam? sampe keringetan gitu?"
"Ooh.." Azky menagguk. "Oh Ya mba,ini keperluan anak-anak,aku harus berangkat pagi,maaf aku minta tolong mengantar si kembar ke sekolah ya mba."
"Ya Ran,nanti mba antar mereka..sini anak-anak." Ajak Dewi pada Aisyah dan Asiah.
Azky membungkuk mencium pipi kedua putrinya. "Umi berangkat dulu ya nak,jangan nakal,jangan repotin ibu." Ucapnya sambil mengusap lembut pipi mereka.
"Iya umi." Jawab mereka bersamaan.
"Aku berangkat ya mba. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah Azky berangkat Dewi membawa si kembar masuk ke dalam dan mengajak mereka bermain mainan yang di belikan oleh Zahfran.
"Mainan kalian banyak banget,bagus-bagus lagi." Ucap Dewi sambil duduk di atas permadani bersama si kembar.
"Iya bu,ayah yang membelikanya." Kata Aisyah.
__ADS_1
"Oh.." Dewi mengangguk "Pantesan banyak banget."
"Bagus-bagus kan bu?"
"Ya dong,baguuus banget."
"Ibu..aku mau telfon ayah." Pinta Asiah sambil jingkrak-jingkrakan di depan Dewi.
"Mau ngapain telfon ayah?"
"Aku mau mainan lagi ibu.Ayo telfon..ayo..ayo.." Pintanya sambil merengek sambil menarik tangan Dewi.
"Ya nanti ya,ayah kalian mungkin lagi sibuk,lagian kalian kan mau sekolah,pulang sekolah aja ya."
"Mmmm..." Kecewa.
Apa yang terjadi dengan mentari pagi ini,kemana perginya matahari?tolong beri kehangatan di hati Shafiah yang terasa dingin.
Sebagai seorang istri,Shafiah tidak pernah melupakan kewajibannya,saat ini ia sedang memasak di dapur,hatinya masih marah,tapi apa boleh buat,ini adalah kewajiban.
Zahfran mengerjapkan matanya setengah terbuka,saat akan duduk,ia meringis kesakitan karna tidur di atas sofa membuat batang lehernya terasa sangat pegal. "Isstt..baru kali ini Shafiah menghukum ku." Ucapnya sambil duduk memegang tengkuk lehernya yang terasa sakit.
Zahfran bangkit dari duduknya menghampiri Shafiah yang sedang asik memasak di dapur lalu memeluknya dari belakang. "Astagfirullah." Ucap Shafiah terkejut hingga ia menjatuhkan spatula di tangannya. "Mas ngapain sih?"
Zahfran menyandarkan dagunya di atas bahu Shafiah sambil memeluknya dari belakang. "Kamu masak untuk aku kan? heeuumm..aroma masakan kamu bikin mas laper sayang."
"Lepas.."
"Gak akan." Zahfran semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalau begitu kamu yang masak sendiri."
"Sayang..jahat banget siih..." Zahfran memutar tubuh Shafiah hingga mata mereka saling bertemu,namun Shafiah enggan untuk menatap wajah suaminya,dan lebih memilih menatap ke arah lain.
Laki-laki selalu banyak cara untuk meluluhkan hati istri yang sedang merajuk,dalam hitungan persekian detik Zahfran langsung menci*m bibir Shafiah dengan sangat lembut,ia bahkan menarik pinggang Shafiah hingga tubuh mereka menempel satu sama lain,namun Sahafiah diam,dia bahakan tidak membalas ci*man itu.
Karna tak kunjung dapat balasan dari sang istri,Zahfran pun melepaskan ciumannya lalu menatap lekat wajah Shafiah. "Sayang...jangan siksa aku seperti ini."
Diam..tak ingin bersuara,Shafiah menatap ke arah lain.
"Ayolah,maafkan aku.."
"Mas..mau aku yang masak,atau kamu yang masak?"
Mereka marahan dulu ya..? Author mau mereka romantis-romantisan dulu di Bab berikutnya 🤭😘,kasian gak pernah di kasih adegan romantis 🤭🤭🙏
Lanjut gak?
Like dulu yang banyak..
Komen
dan Vote nya ya jangan lupa 😘😘😘
__ADS_1