
Panji : "Assalamualikum"
Rani : "Waalaikumsalam."
Panji : "Non Rani sudah pulang sekolah?" tanya Panji dalam sambungan telepon.
Rani : "Udha, A. kenapa gitu?"
Panji : "Udah di rumah?"
Rani : "Belum, masih di perjalanan."
Panji : " Oh. Kirain udah di rumah."
Rani ; "Emangnya kenapa, A?"
Gilang mulai tidak nyaman dengan obrolan antara Panji dengan Rani tetapi masih membiarkannya.
Panji : "Aa mau bicara sama bapak, tapi nomernya gak aktif."
Rani : " Oh. Kalau itu aku belum tau, A," saut Rani biasa saja tanpa sedikit pun melihat ke arah Gilang.
Panji : "Emangnya Non Rani pulang sama siapa kalau bukan bapak yang jemput?"
Rani : "Kakak Gilang."
Kali ini barulah Rani melirik ke arah Gilang singkat.
Panji : "Oh. Gilang. Ya udah deh Aa cuma nanyain bapak aja ko, Aa Fikir Non Udah sampai rumah."
Rani : "Belum, A. Tapi nanti kalau udah nyampe rumah aku sampein ya."
Panji : "Iya, Non. terima kasih banyak, salam juga buat Gilang. Assalamualaikum."
Rani : "Waalaikumsalam.
Setelah mengakhiri sambungan telepon, Rani memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, lalu bicara pada Gilang.
"Maaf ya, Kak."
"Gak apa-apa." Gilang berusaha biasa saja.
"Kak!" panggil Rani.
"Kenapa?" tanpa memalingkan wajahnya.
"Boleh gak aku minta sesuatu?"
Kali ini Gilang menoleh ke arah Rani sekilas.
"Minta apa?" tanya Gilang penasaran, tidak biasanya Rani menginginkan sesuatu darinya.
"Boleh gak sih ngomongnya gak pake bahasa lo, gue?"
Gilang tersenyum, ternyata hanya itu permintaan pacarnya.
"Kenapa emang?" tanya Gilang.
"Gak enak aja gitu dengernya," saut Rani.
"Kayaknya gak ada salahnya deh."
"Ya. Masa udah pacaran tapi bahasanya masih kasar sih?" protes Rani.
"Gue nyaman."
"Tapi aku nggak."
Rani kembali memposisikan duduknya menghadap ke depan sambil melipat kedua tangannya di dada.
Melihat raut wajah Rani membuat Gilang gemas ingin sekali mencubitnya. Demi kenyamanan bidadari kecinya, akhirnya Gilang pun mengalah.
"Baiklah tuan putri," saut Gilang seraya meraih tangan Maharani, Rani pun tersenyum.
Masih dalam perjalanan pulang, seperti biasa dia selalu menanyakan sang kakak kapan pulang sekolah, padahal dia sendiri sudah tau jadwal kakanya pulang sekolah itu pukul 16.00 WIB. Namun, karna alasan sesuatu, ternyata kelas Aisyah sudah bubar dan dia sedang menunggu taksi di depan Sekolah.
__ADS_1
Karena arah sekolah mereka yang sama, Rani meminta Gilang untuk sekalian menjemput Aisyah di sekolahannya, dan akhirnya mereka bertiga pun pulang bersama.
"Kakak gak telepon Pak Broto?" tanya Aisyah sambil menoleh ke belakang karena sang kakak duduk di jok penumpang.
"Udah, cuma gak diangkat," saut Aisyah.
"Umi?"
Aisyah menggelengkan kepalanya sambil cengengesan. "Nggak."
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Pengen nyobain naik angkot tadinya, tapi aku gak tau angkot mana yang arahnya kerumah kita. Nungguin taksi, gak ada yang lewat, untung kamu telepon Kakak."
"Lagian, Kakak kan gak pernah naik angkot, Kakak mana tau. Jangan nyobain yang aneh-aneh deh, kak," kata Rani coba mengingatkan.
"Iya nggak."
"Seumur hidup emang belum pernah naik angkot?" sela Gilang.
"Pernah dulu sama Rani. Kita tersesat ya, Ran. Akhirnya kita nyerah dan minta di jemput sama A Panji.
Ha.
ha.
ha.
Mereka tertawa bersama mengingat kejadian saat itu. Terus banyak hal yang mereka bicarakan selama perjalanan, begitu pun dengan pengalaman Gilang saat dulu sering ikut tauran.
Pengalaman yang akhirnya membawa Gilang pada wanita yang dicintainya saat ini, Gilang mengaku sangat bahagia, berkat Rani lah ia bisa berubah.
Terlalu asik mengobrol, mobil yang mereka tumpangi akhirnya tiba di tempat tujuan. Gilang menepikan mobilnya di depan Gerbang rumah yang masih tertutup rapat.
"Terima kasih ya, Kak," ucap mereka bersamaan.
Saat akan turun, Gilang menarik tangan Rani hanya untuk melihat sejenak wajah cantik sang kekasih sebelum berpisah.
"Konyol," kata Rani.
"Love You Maharani."
"Iya."
"Kak, itu Kak Isya nungguin aku," protes Rani.
"Mangkannya jawab dulu," pinta Gilang memaksa.
"Iya, Kak. Love you to. Udah kan?"
Puas mendapat balasan ungkapan cinta dari sang kekasih, akhirnya Gilang membiarkan Rani turun dan melambaikan tangannya sebelum Rani masuk ke dalam.
Dua bulan sudah mereka menjalin hubungan, mereka tidak pernah bertengkar, hanya saja Gilang merasa sedikit terganggu dengan sikap Rani yang terkadang seperti tidak perduli padanya.
Rani sering membalas pesan dari Panji saat mereka jalan berdua, tidak jarang mereka juga sering mengobrol di depan Gilang bahkan sampai Gilang merasa diacuhkan olehnya.
Tidak ada yang Rani sembunyikan memang, dia selalu jujur dan terbuka, tetapi Gilang merasa terganggu dengan sikapnya yang seperti itu. Ia bahkan sampai bingung bagaimana cara menyampaikannya.
"Aisyah. Mungkin dia bisa bantu," fikir Gilang.
Ia menghubungi Aisyah saat No telepon Rani sedang sibuk menerima panggilan dari Panji.
"Assalamualaikum," ucap salam Aisyah.
"Waalaikumsalam Isya. Lagi apa?" tanya Gilang basa-basi.
"Lagi santai aja," saut Aisyah yang saat ini sedang duduk di atas balkon sambil bermain dengan laptoopnya.
"Ada apa, Kak?"
"Rani ada?" tanya Gilang.
Aisyah menoleh ke belakang melihat Rani sedang berbaring di atas tempat tidur sambil tengkurap memeluk bantal menerima panggilan dari seseorang.
"Ada," saut Aisyah. "Emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Gue telepon sibuk terus dari tadi handphonenya."
"Oh iya, Kak. Dia lagi teleponan sama A Panji."
"Panji ya?" terdengar suara Gilang tidak suka.
"Kakak keberatan?" tanya Aisyah menghentikan sejenak aktivitasnya.
Gilang diam.
"Sebetulnya tadi aku yang telepon A Panji, Kak. tapi memang pakai handphone Rani, sambung Rani deh yang ngobrol," jawab Aisyah berbohong demi melindungi sang adik.
"Ok. Kalau gitu bilang sama Rani suruh udahan ngobrol sama Panji, bilang kalau gue mau telepon."
"Iya, Kak. Sebentar."
Aisyah meletakkan ponselnya di atas meja, ia pun masuk ke dalam menghampiri sang adik.
"Ran." Aisyah memanggil sang adik berdiri di sampingnya.
Rani menoleh.
"Kenapa?"
"Kak Gilang telepon," kata Aisyah.
"Oh. Dia bilang Kakak?" Rani merubah posisinya menjadi duduk masih memeluk bantal.
"Iya."
"Sebentar ya, Kak."
"Jangan lama-lama! dia nungguin kamu dari tadi tau."
"Iya aku tau, lagian Kak Gilang gak akan marah ko."
"Bukan gitu, Ran."
"Iya, Kak. Iya. Sebentar lagi udahan," sela Rani memotong pembicaraan.
Setelah menyampaikan pesan dari Gilang, Aisyah kembali duduk di atas balkon, lalu bicara pada Gilang yang sempat terjeda tadi.
"Udah aku sampein, Kak. Bentar lagi udahan," kata Aisyah pada Gilang.
"Ok. Gue tunggu."
Sambungan telepon pun terputus.
lima bahkan sampai lima belas menit Gilang menunggu, dan Rani masih belum selesai bicara dengan Panji, lalu Gilang kambali menghubungi Aisyah, tetapi ia tidak menjawabnya.
Terus, dan terus ia menghubungi Aisyah barulah mendapat jawaban.
"Iya, Kak?"
"Lama banget angkat teleponnya?" tanya Gilang.
"Maaf tadi aku lagi di toilet, Kak."
"Lo bohong."
"Nggak ko."
"Lo bohong Aisyah, gue bisa liat lo dari sini, bahkan gue masih bisa liat kalau Rani masih ngobrol sama Panji. Iya kan?"
"Kak."
"Jangan bohong, Isya. Gue bisa liat raut wajah bohong lo dari teropong kamar gue. Lo bisa liat gue di balkon."
Like
komen
__ADS_1
bunga
vote