Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 46


__ADS_3

"Status sosial kita berbeda, Ran. Aku hanya calon karyawan di kantor ayah kamu, sedangkan kamu." Panji menjeda kalimat kemudian kembali bicara. "kamu itu anak majikan ku, kita sangat sangat jauh berbeda."


"Mereka tidak pernah melihat status sosial kita, A. Aa meragukan keluarga aku? aku yakin mereka nggaj akan mempermasalahkan itu, mereka pasti setuju," kekeh.


Panji tetap menolak, ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Rani. Aku tidak mau memanfaatkan kebaikan keluarga mu. Aku mohon mengertilah."


"Aa yang seharusnya mengerti," geram Maharani seraya menurunkan tangan Panji dari bahunya. Aku tersiksa seperti ini, A. Buat apa Aa ke sini kalau tidak memberikan solusi?"


Maharani beranjak dari duduknya lalu berlari hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti saat Panji memohon agar ia pulang.


"Pulanglah aku mohon!" Panji berteriak dari kejauhan.


"Pulanglah demi aku, Maharani."


"Buat apa aku pulang kalau Aa nggak mau bilang sama orang tua aku kalau kita saling mencintai."


"Kasihani aku, Rani." Panji kembali berteriak saat Rani akan pergi lagi. Ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.


"Aku disalahkan atas semua kejadian ini, aku terluka karena Gilang menghajar ku, Rani. Apa kamu tidak kasihan melihat keadaan ku seperti ini?"


"Aku sudah berjanji tidak akan pulang tanpa membawa kamu. Aku mohon pulang lah, tolong aku, jangan buat mereka menyalahkan aku." Panji terus berteriak, sedangkan Maharani tetap bergeming sambil menangis.


"Pulanglah, Ran. Kasihan kakak mu, dia menikah dengan Gilang menggantikan posisi kamu. Dia berkorban untuk kamu, Maharani."

__ADS_1


Sedetik itu juga Rani menoleh ke arah Panji terkejut. "Aisyah? dia menikah dengan Kak Gilang?"


Di tempat lain. Gilang memarkirkan mobilnya di bahu jalan karena sudah tidak tahu lagi akan mencari Rani ke mana.


"Semua tempat udah kita datengin, tapi Rani belum ketemu juga, kita harus cari ke mana lagi, Isya?"


Wajah Gilang terlihat jelas sangat khawtir, di membenamkann wajahnya seraya memegang kut kendali stir mobil, sedangkan Aisyah hanya bisa menenangkan Gilang dengan kata-kata yang ntah didengar atau tidak olehnya.


Larut dalam pikiran masing-masing, Ponsel Aisyah berdering, ia merogoh benda pipih itu di dalam tasnya, melihat nama Umi Calling, ia pun langsung menjawabnya.


"Assalamualaikum, Isya?" Suara Azky dalam sambungan telepon.


"Waalaikumsalam, Umi. Ada apa, Mii?" saut Aisyah.


"Kamu di mana, Sayang?"


"Sayang, lebih baik kamu kembali ke hotel, Rani udah ketemu."


"Benarkah?" tanya Aisyah sangat antusias.


"Rani udah ketemu, Kak." Bicara kepada Gilang yang terus saja menunduk. Dalam sekejap ia pun menoleh ke arah Aisyah dengan senyum bahagia.


"Kamu serius?" tanya Gilang menatap tidak percaya.

__ADS_1


"Iya, Kak. Ini umi yang bilang," saut Aisyah.


"Lalu, di mana dia sekarang?"


"Sebentar, aku tanya umi."


Aisyah kembali bicara dengan Azky menanyakan keberadaan Rani saat ini, karena Gilang sudah tidak sabar ingin segera menjemputnya.


"Rani ada sama Panji, Nak. Dia baik-baik saja, tapi Rani nggak mau pulang malam ini, dia meminta waktu sampai besok. Besok dia baru akan pulang," ujar Azky masih dalam sambungan telepon.


"Ya udah, Umi. Kalau gitu kita kembali ke hotel. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Sambungan telepon pun terputus.


"Gimana?" tanya Gilang sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari Aisyah.


"Rani nggak mau pulang sekarang, Kak. Dia belum siap, dia minta waktu sampai besok, besok dia baru akan pulang."


"Tapi dia baik-baik aja kan?" tanya Gilang lagi.


"Dia baik-baik aja, Kak."


Gilang menghela nafas lega mendengarnya. "Syukurlah. Lalu di mana dia sekarang?"

__ADS_1


"Dia sama A panji menginap di penginapan."


"Apa?"


__ADS_2