
Setelah yakin kalau suara itu benar-benar Adlan, dan bukan halusinasi, buru-buru ia turun dari ranjang, sampai lupa tidak memakai swetter untuk menutupi tubuhnya yang saat ini memakai baju tidur, ia berlari begitu saja lalu membuka pintu. Dan benar saja Adlan sudah ada di sana, di halaman depan rumah sambil berdiri dengan gagahnya di dekat mobil.
"Karna kamu pesawat Om harus Delay," katanya sambil tersenyum manis dari kejauhan. Kiran yang terkagum dengan kehadiran Adlan yang tiba-tiba, langsung berlari lalu memeluknya erat.
"Makasi Om. Makasih banyak. Aku fikir Om benar-benar gak punya waktu buat ketemu dulu."
"Om bela-belain loh ini," katanya. Seraya mengusap punggung Kiran, tak lama ia pun melepaskan pelukannya.
Adlan langsung melepaskan mantel yang ia pakai, untuk menutupi tubuh Kiran yang sedikit terbuka mungkin karna dia mau tidur.
"Lain kali jangan keluar pakai baju terbuka kayak gini ya. Ini kan kontrakan umum, banyak penghuni laki-laki juga."
"Maaf Om, tadi aku buru-buru, sampai lupa pakai swetter," ia menunduk malu, juga menyesal.
"Gak apa-apa. Om cuma gak mau orang asing liat tubuh kamu, tolong jaga untuk Om ya?" ucapnya seraya mengusap bahu Kiran. lalu turun memegang kedua tangannya sangat erat.
"Om boleh berangkat sekarang?"
Kiran mengangguk.
"Kamu masih mau sabar nungguin Om kan?"
Lagi-lagi Kiran menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Tapi kali ini dia mengangguk sambil tersenyum.
"Jaga hati kamu untuk Om. Om akan segera pulang."
Perlahan Adlan melepaskan tangan Kiran, lalu melangkah mundur memegang pintu mobil yang sudah di buka oleh mang Ujang.
"Om pergi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Hati-hati."
Setelahnya Adlan pun masuk ke dalam mobil. Ia duduk di jok penumpang, membuka kaca mobil lalu melambaikan tangan saat mang Ujang menginjak pedal gas membawa Adlan pergi dari sana. Kiran ikut membalas lambaian tangan Adlan sambil meneteskan air mata.
"Hati-hati, Om. Aku menunggu Om di sini."
Mobil yang membawa Adlan, sudah tidak lagi terlihat oleh mata. Ia masuk ke dalam, mematikan lampu utaman, lalu berusaha untuk tidur. Ia bahkan membawa tidur mantel yang Adlan berikan tadi, wangi aroma tubuh Adlan sangat khas, wangi, dan menenangkan, hingga akhirnya ia bisa tertidur pulas sambil memeluk mantel milik Adlan.
Satu bulan kemudian.
__ADS_1
Kiran masih bertahan bekerja di sana walau tanpa Adlan. Ia bekerja seperti biasa, masih terbagi menjadi dua shift, dan kali ini ia berada di shift dua.
"Nyokap lo udah di kasih tau?" kata Ajeng saat mereka duduk di pinggiran trotoar sambil menikmati seporsi somay sebagai menu makan malam mereka.
"Udah," jawabnya sambil mengunyah.
"Terus responnya?"
"Awalnya sih kaget."
"Gak setuju?" kata Ajeng langsung menyambar dan mengambil kesimpulan sendiri.
"Nggak ko. Nyokap gue setuju. Tapi ya gitu lah. Gue banyak di kasih nasehat perihal pernikahan."
"Karna menantunya lebih tua?" tanyanya asal.
"Nggak. kata nyokap, mau lebih tua atau nggak, namanya pernikahan itu pasti hadir juga masalah. apa lagi baru-baru nikah. baik buruknya kita pasti ketauan sama suami kita nantinya. Begitupun sebaliknya.
"Kayak gitu lah bilangnya."
"Oh.." Ajeng manggut-manggut mengerti.
Tepat pukul 00.00 Kiran keluar dari Mall tempatnya bekerja, ia berjalan perlahan menuju kontrakan yang ia sewa tak jauh dari tempat ia bekerja.
Setelah selesai brifing, Pengawas tidak langsung membubarkan karyawannya karna masih ada beberapa pengumuman penting yang harus di sampaikan.
"Nanti sore kumpul di Restauran Nionn Fusion Gourment. Kita makan gratis."
"Horeee...." semua karyawan bersorak gembira mendengar makan gratis, terlebih makan di sebuah restauran ternama, yang juga terkenal dengan rasanya yang enak, juga harganya yang mahal.
"Siapa sih yang mau traktir kita makan-makanan enak?" tanya Ajeng pada Kiran. Saat ini mereka berdua sedang berjalan menuju restauran yang beritahukan tadi saat brifing. Kiran menggelengkan kepalanya tidak tahu.
Bukan cuma mereka berdua, banyak karyawan lain juga sama seperti mereka berjalan menuju tempat yang sama. semua karyawan yang berada di Shift dua, baru setengahnya istirahat, karna harus bergantian dengan karyawan lain.
Sekitar 20 orang sudah duduk di kursi masing-masing siap menunggu makanan datang, begitupun dengan Kiran memilih duduk di kursi paling belakang dengan ajeng juga teman-teman lainnya.
"Ran.. itu makanan kita datang," kata Ajeng menunjuk pada salah satu pelayan yang sedang berjalan ke arahnya sambil membawa banyak menu makanan di atas nampan.
"Silahkan nyonya."
Pelayan itu menyajikan menu spesial untuk Kiran di atas mejanya.
__ADS_1
"Veggie burgers, Spageti carbonara, Baked salmon, Beef steak, dan segelas orange just sehat khusus untuk tuan putri," kata pelayan itu sangat ramah. Setelah memyajikan semua menu makanan, pelayan itu pun undur diri.
"Wah...ini sih kebangetan menu gratisnya Ran. Gue penasaran, siapa sih yang ngasih kira gratisan makan semewah ini," tanpa menunggu Kiran, Ajeng langsung menuangkan semua menu ke dalam piringnya, lalu menyantapnya sangat lahap.
Berbeda dengan Kiran yang terlihat sedang berfikir sambil mengaduk-aduk nasi di atas piring, yang belum terisi lauk apapun. Ia sendiri sedang berfikir, siapa yang memberikan menu sebanyak ini?
Masih berfikir keras. Tiba-tiba terdengan suara seseorang membunyikan gelas sambil berdiri di meja paling depan, meminta perhatian dari seluruh karyawan yang hadir.
"Mohon perhatiannya sebentar," kata seorang pria setengah tua, tapi masih terlihat gagah, menunjukan betapa ia terlihat sebagai seorang pria berkuasa, membuat semua karyawan langsung diam menghentikan aktivitas, demi menyimak pria itu bicara.
"Terima kasih atas pengertiannya."
Pria itu memperkenalkan diri di hadapan semua karyawan. Dia juga mengenalkan asal tempat tinggalnya selama ini di
Sidney. itu lah yang Kiran dengar.
"Aku jadi inget Om Adlan, Jeng," kata Kiran bicara pada temannya. Ajeng melihat Kiran dengan tatapan sendu, karna sangat jelas dari raut wajahnya terlihat dia sangat merindukan Adlan, yang sudah lebih dari satu bulan tidak memberikan kabar.
"Yang sabar ya Ran. Om Adlan pasti kembali ko," kata Ajeng sambil mengusap bahunya seraya menenangkan. Kiran pun mengangguk pasrah.
"Makasi ya Jeng."
Mereka lanjut mendengar pria setengah tua itu masih berbicara. kali ini dia mengatakan alasan kenapa mentraktir semua karyawan di restauran ternama.
"Karna saya akan mengumumkan pernikahan putra saya dengan seorang gadis yang bernama Kiran..." ucapannya mengambang karna lupa. Ia bertanya pada putranya.
"Kiran apa namanya?"
"Kirania Rossalie," kata putranya.
"Oh iya. dengan Kirania Rossalie."
Semua terdiam terkejut, dan langsung menoleh ke belakang.
"Kiran?"
"What? yang di sebutin bapak-bapak itu nama ku bukan Jeng?" tanya Kiran kebingungan
"Untuk saudari Kiran. Silahkan maju ke depan."
Ia masih duduk, tapi karna putra pria itu berdiri, dia langsung tau, bahwa tadi benar namanya yang di panggil, setelah melihat Adlan berdiri tegak di sebelah papahnya. Yaitu pak Herlamabang.
__ADS_1
"Om. Ada di sini? jadi acara ini?"
Dari kejauhan Adlan mengangguk sambil mengulurkan tangan.