Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 54


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Adlan tadi, Abiyu terus memikirkan jawaban Adlan yang mencengangkan.


"Suka? gila apa?"


"Siapa yang gila Biy?" tiba-tiba Kisya masuk dan mendengar perkataan suaminya. Ia masuk membawa nampan berisi kopi juga roti yang sudah di oles selai kacang, lalu menyimpan nampan itu di atas meja


"Nggak ko," Abiyu kembali melanjutkan aktivitasnya di depan Laptoop. Kisya mendudukan diri di samping suaminya.


"Tugas kamu belum selesai?" tanya Abiyu pada sang istri yang saat ini sedang merangkulnya dari samping.


"Seminggu lagi mungkin."


"Katanya, kalau di bantu Radit cepet selesai. Ini sih sama aja, jatohnya sebulan juga,"


"Kalau gak di bantu, bisa lebih dari sebulan tau."


"Hhmm... terserah kamu lah, yang pasti, cepat selesaikan, aku mau pulang ke Apartemen. Aku gak mau tinggal sama bunda terus," jawabnya sedikit ketus.


"Iya, iya," Kisya mengeratkan pelukannya.


"Tidur yuk Biy."


"Duluan aja, aku belum selesai."


"Iihh... asem banget sih jawabnya," ia memandang wajah Abiyu dari samping. Melihat wajahnya terus mengerut seperti sedang memikirkan sesuatu


"Kenapa sih? ada yang ganggu pikiran kamu?"


"Nggak."


"Ko wajahnya di tekuk terus?"


"Gak apa-apa yank." Kali ini ia berkata sedikit lembut.


"Nah.. gitu dong. Kalau tadi, suaranya kurang mesra, kurang menggoda," menghujani pipi suaminya dengan kecupan.


"Muach


"Muach


"Isi batre dulu yuk, kayaknya batre kamu lemah deh," ia berbisik di telinga Abiyu, juga mencium tengkuk lehernya, sambil membuka baju tidur yang di kenakan.


Tak bisa menolak ajakan sang istri, Abiyu menutup Laptoopnya, lalu membalas kecupan di bibir ranum yang sudah siap mendapat serangan kapan saja.


Tak ingin beranjak, mereka melakukan olahraga malam di atas sofa, dengan suara raungan kenikmatan, yang menambah gairah Abiyu semakin menjadi, ingin lagi dan lagi.


Puas bermain di atas sofa, kini beralih di atas meja, dengan posisi Kisya duduk di atasnya, dengan gerakan yang sangat lincah, Kisya bermain seperti sedang memacu di atas kuda.


"Sekarang sayang!"


"Abiy...."


Setelah mencapai puncak secara bersamaan, Abiyu membawa Kisya naik ke atas ranjang, lalu tidur karna sama-sama kelelahan.




Setelah beberapa hari Adlan membujuk Kiran untuk makan malam, akhirnya ia berhasil membawa Kiran kesebuah Restauran ternama di kota itu.



Shifa yang datang lebih dulu, memainkan ponselnya sambil menunggu. Tak lama Adlan dan Kiran pun datang, dan mereka saling menyapa.



"Hai.." kata Shifa menyapa Kiran. Kiran tersenyum.



"Assalamualikum," kata Adlan.



"Oh iya. Waalaikumsalam."



Adlan duduk di sebelah Shifa, sedang Kiran duduk di depan Adlan.



"Lama nunggu?" tanya Adlan pada Shifa.


__ADS_1


"Lumayan."



"Kamu udah pesen apa aja?" ia membuka buku menu yang ada di depannya.



"Baru air putih."



Sementara Shifa bicara dengan Adlan, selama itu juga Kiran menatap wajah Shifa yang menurutnya sangat cantik, dengan rambut yang tertutup hijab, menambah kadar kecantikan Shifa semakin terpancar.



"***Gak salah kalau Om Adlan suka sama Mba Shifa. Cantik banget sih. Beda banget sama aku yang berpakaian terbuka, juga kumuh***," Batinnya terus bergumam, mematap Shifa, juga Adlan secara bergatian.



"Kiran."



"Iya Om?"



"Kamu mau pesen apa?"



"Apa aja."



"Ini. Pilih aja mana yang kamu mau." Adlan menyerahkan buku menu pada Kiran.



Ia membaca, membuka lembar demi lembar, tidak ada nama makanan yang ia kenal di sana.




"***Ya ampun mas. Kamu tuh gak liat umur banget sih, masa suka sama gadis yang usianya baru 19 tahun***?" rasanya Shifa ingin sekali memukul kepala Adlan supaya sadar diri. Kalau tidak ada Kiran, mungkin Shifa sudah tertawa terbahak di depan Adlan.



"Kenapa kamu?" tanya Adlan pada Shifa yang terus senyam-senyum sendiri.



"Nggak." ia menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum dengan Kiran.



"Kamu tinggal di mana Ran?" Kali ini Shifa bertanya pada Kiran.



"Ngekos, Mba. Deket tempat kerja," sautnya ramah.



Shifa mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh.."



Tak lama pelayan pun datang, membawa semua memu makanan yang di pesan. Setelah menyajikan semua di atas meja, pelayan itu pun undur diri.



Adlan banyak mengobrol dengan Shifa, sesekali dengan Kiran, yang terlihat canggung berada di antara mereka. Menu makanan yang tidak sesuai dengan lidahnya, membuat Kiran tidak terlalu lahap menyantap hidangan. Ia terus mengaduk-aduk menu yang ada di atas piringnya.



"Kiran. Kenapa?" tanya Shifa sambil memegang tangn Kiran di atas meja.



"Kenapa mba?"


__ADS_1


"Itu ko makanannya di aduk-aduk aja sih?"



"Oh.. gak apa-apa," jawabnya dengan senyum.



Adlan yang tau kalau Kiran tidak menyukai menu yang di pilih, segera menghabiskan makanannya, lalu mengantar mereka pulang.



"***Loh.. ko belok ke sini***?" batin Kiran bergumam. Pasalnya kos-kosan Kiran jarak nya tidak jauh dari persimpangan yang ia lewati.



"Aku antar Shifa dulu ya Ran." bicara pada Kiran yang duduk di jok penumpang.



"Iya Om."



15 menit perjalanan, sampailah di depan Apartemen tempat tinggal Shifa.



"Makasi ya mas," kata Shifa sambil melepaskan setbelnya.



"Iya. Besok aku jemput kamu, aku antar ke butik," kata Adlan. Karna ia harus kembali mengobrol dengan Shifa, mengenai pendapatnya tentang Kiran, gadis yang ia sukai, dan ia berencana akan menyatakan cintanya pada Kiran beberapa hari kedepan, menunggu waktu yang tepat.



Mendengar Adlan akan mengantar Shifa ke butik, cukup meyakinkan dirinya, kalau Adlan benar-benar menyukai Shifa. Wanita yang usianya tidak terlalu tua, juga tidak terlalu muda seperti dirinya. Usia yang sangat pas untuk seukuran Adlan. Setelah Shifa turun, Adlan meminta Kiran untuk duduk di depan, menggantikan Shifa.



"Nggak ah, aku di belakang aja."



"Om kayak supir pribadi kamu dong kalau kamu di belakang," saut Adlan sambil menoleh.



Merasa yang di katakan Adlan ada benarnya, Kiran pun akhirnya mau duduk di depan, di samping Adlan. Masih dalam perjalanan, tiba-tiba Adlan menepikan mobilnya di bahu jalan, tepat di depan pedagang nasi uduk.



"Ko kesini Om?" tanya Kiran terheran.



"Kamu tadi gak makan, kamu pasti laper kan?" kata Adlan sambil melepaskan setbelnya.



"Nggak ko, aku udah kenyang Om," ia berusaha menolak. tapi bunyi di dalam perutnya tidak bisa ia sembunyikan, sampai Adlan pun mendengarnya.



"Kruuuk



"Tuh kan? kamu bisa bilang kenyang, tapi perut kamu gak bisa bohong. Dia berkata jujur Ran."



Kiran merasa malu dengan bunyi yang bersumber dari perutnya, meminta untuk di masukan sesuatu yang bisa mengenyangkan. Alis laper.



Melihat wajah Kiran memerah, membuat Adlan gemas ingin mencubit pipinya.



"***Apakah sekarang momentnya tepat untuk menyatakan cinta***?" batin Adlan bergumam. menatap Kiran sedang membetulkan bajunya.



"Ran?"

__ADS_1


__ADS_2