
Terlanjur bertemu dengan Kiran, Kayla meminta izin pada Adlan untuk memberinya waktu melepas rindu dengannya.
"Cuma sebentar..." pintanya memohon. Kayla melipat kedua tangannya di depan Adlan.
"Iya..iya..."
"Sana! mau di bawa kemana kakaknya?" tanya Adlan seraya mengusap lembut puncak rambut Kayla.
Kayla tidak menjawab, ia langsung menarik Kiran ke suatu tempat mirip studio mini yang terletak di ujung tempat penitipan barang, lalu Adlan meminta seseorang menggantikan posisi Kiran sementara.
"Aku mau kostum Elsa," pintanya pada penjaga Studio yang berjaga.
"Siap tuan putri," sautnya.
Penjaga Studio itu mulai mendandani Kayla dengan Make UP ringan, lalu mamakaikannya gaun Elsa sesuai dengan permintaannya.
"Kakaknya mau pakai kostum apa?" tanya penjaga Studio mini itu.
"Aku gak usah, ini aja," jawab Kiran, sambil menolak baju yang di ulurkan orang itu.
"Kakak harus pakai, sama kayak aku."
"Pake aja Ran. Bagus ko..." timpal Adlan yang juga berada di sana dengan Abiyu juga Kisya. Abiyu menyibukan diri dengan membalas pesan temannya yang belum sempat ia balas, sedang Kisya masih berdiri di samping Abiyu sambil mnggenggam erat tangannya.
Karna Kayla memaksa, akhirnya Kiran menuruti kemauan Kayla untuk memakai kostum Anna. Tidak perlu berdandan lagi, Kiran sudah terlihat sangat cantik dengan dandanannya saat ini.
Mereka berdua masuk ke dalam ruang kecil, lalu penjaga tadi mulai memotret mereka berdua dengan berbagai macam gaya. Kayla sengaja mengajak Kiran berfoto, untuk di jadikan kenang-kenangan mereka.
Tidak terlalu lama, cukup waktu 15 menit, sesi pemotretan selesai, juga dengan hasil fotonya yang sudah jadi, Kayla membagi dua foto yang berhasil di cetak.
"Lima untuk ku. Lima untuk kakak," Kayla menyerahkan satu amplop coklat langsung ke tangan Kiran.
"Terima kasih," Kiran mencium pipi Kayla beberapa kali.
Tidak cukup hanya berfoto, Kayla menginginkan lebih dari itu. Karna Kiran sedang bekerja, Kayla diam tidak meminta apa pun dari Kiran, hanya berfoto untuk di jadikan kenang-kenangan, cukup baginya.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, mereka bertiga pun pulang. Kayla merasa puas bisa bertemu lagi dengan pengasuhnya. Ia terus memandangi foto juga menciumnya beberapa kali. Abiyu tersenyum melihat tingkah putrinya di balik kaca spion kecil yang menggantung.
Lain hal dengan Kisya masih terlihat tidak nyaman. Melihat Abiyu tersenyum, pikiran buruknya kembali menyeruak, "Kenapa kamu senyum-senyum?" tanyanya ketus.
"Itu Kayla, Yank..."
Kisya menoleh kebelakang, lalu kembali melihat Abiyu masih menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Kamu senyum buat siapa sih? Kayla, atau Kiran? jangan-jangan kamu juga seneng bisa ketemu Kiran? iya...?"
"Aduh... mulai lagi deh. Udah dong Yank, kamu tuh mau sampai kapan sih curiga terus sama aku?" kening Abiyu mengerut tidak mengerti. Tidak mengerti dengan sikap sang istri yang terus menaruh curiga terhadapnya.
Masih di selimuti rasa marah, ia memalingkan wajahnya menatap ke arah luar. sedang Abiyu memilih fokus pada keramaian jalanan ibu kota yang selalu padat.
__ADS_1
Kiran.
Setelah Abiyu dan Kisya pulang, Kiran kembali bekerja sebagai kasir, lalu Adlan kembali keruangannya setelah selesai berkeliling melihat siatuasi Mall dalam keadaan baik-baik saja.
Tepat pukul 18.00 Kiran beristirahat, setelah bergantian dengan temannya Ajeng. Dia turun ke lantai bawah, mencari makan di warung-warung pinggir jalan, karna mahal kalau harus makan di lantai atas yang rata-rata harga makanannya di atas 200.000/porsi. Sangat jauh berbeda dengan makan di warteg. Yang penting judulnya makan, dan kenyang.
Selesai makan. Kiran duduk di bawah pohon sambil memainkan ponselnya, juga satu bungkus keripik di tangan kanannya. Sambil mengunyah keripik, sambil senyum-senyum baca isi group teman-teman sekolahnya dulu.
Adlan yang kebetulan melintas, melihat Kiran sendiri di bawah pohon merasa kasihan. Ia menghampiri Kiran sambil membawa sebotol minuman dingin, karna ia melihat Kiran sedang memakan keripik, tapi tidak ada botol minum di sekitarnya.
"Ran..."
Kiran mendongakan kepalanya, lalu berdiri, "Pak?"
"Ko pak sih? panggil Om aja, lagi istirahat juga," kata Adlan biasa saja.
"Ini..." Adlan memberikan botol minuman yang ia beli tadi.
"Apa ini Om?"
"Minuman lah," jawabnya singkat.
"Ini ambil!"
Kiran pun menerima pemberian Adlan, dan langsung meminumnya, karna memang dia sedang kehausan, dan uang di sakunya sudah habis.
"Haus neng?" kata Adlan meledek.
"Om habis dari mana?" Kiran coba memberanikan diri bertanya. Walapun pertanyaan itu sangat tidak penting.
"Habis ke ATM, di atas ko ATM nya eror semua, untung di Alpamart ada ATM," jawabnya singkat, jelas, padat.
"Kamu ngapain sendiri di sini? bukannya masuk ke dalem. Di bawah pohon lagi. Gak takut?"
Kiran menggelengkan kepala sambil menyeruput lagi minuman di tangannya.
"Kalau shift dua kayak gini, kamu pulang naik apa?" Adlan kembali bertanya karna penasaran. Pasalnya shift dua itu pulang kerja pukul 00.00, karna Mall tutup pukul 23.00, setelah Mall tutup, pekerja tidak langsung pulang, karna harus beres-beres juga laporan pembukuan harian.
"Naik ojek, Om."
"Ojek? yakin kamu naik ojek?"
"Iya. Gak ada angkot jam segitu."
"Kamu gak takut?"
"Takut sih, tapi... mau gimana lagi, aku kan harus pulang."
"Iya sih.."
__ADS_1
"Mau aku bikin Non Shift aja?" Adlan coba menawarkan keringanan pada Kiran, supaya tidak pulang larut malam lagi.
"Jangan Om," sangat cepat Kiran menolak.
"Kenapa?"
"Om tau... dengan kita ngobrol kayak gini aja, semua karyawan anggap aku ini simpanan Om-om, mereka fikir kita punya hubungan special. Apa lagi kalau sampai Om bantu aku kerja Non Shift," Kiran menggelengkan kepalanya, merasa jengah dengan semua tuduhan terhadap dirinya.
"Kenapa emang kalau mereka beranggapan kayak gitu. Takut...? kita kan emang punya buhubang special." kata Adlan tiba-tiba.
"Om..."
"Om ngomong apa sih?" wajahnya panik, bagaimana kalau ada yang mendengar ucapannya tadi? bisa habis Kiran di caci maki sebagai gadis simpanan om-om.
"Ran... jangan panik gitu dong. Santai aja kali."
"Hubungan kita special, karna kita kan saling kenal, kamu Om anggap sebagai adik Om sendiri. Apa itu gak special?"
"Kiran... kiran.." Adlan menggelengkan kepalanya, menganggap enteng semua hal, tapi tidak dengan Kiran. Dia tetap khawatir dengan sikap Adlan terhadapnya.
"Udah jam masuk Ran," Adlan melirik jam yang yang melingkar di tangannya.
"Iya pak," Kiran berdiri, membuang botol bekas minuman tadi ke dalam tong sampah.
"Nanti pulang Om jemput ya Ran."
"Iya pak," jawabnya asal, ia tidak sadar dengan apa yang di katakan Adlan barusan. Namun dalam hitungan detik, ia baru menyadarinya.
"Apa..?"
"Tunggu Om di sini! nanti Om jemput."
"Tapi Om..."
Adlan berlalu begitu saja, meninggalkn Kiran dalam kebingungan...
Sepi...
Sepi LIKE
Sepi KOMEN
sepi HADIAH
juga sepi VOTE.
__ADS_1
Jadi pengen kumenangis ðŸ˜