
HAPPY READING.. SEMOGA MASIH PADA SUKA YA.
Panjang lebar Kisya memberi tahu Abiyu perihal dirinya yang meminta bantuan Radit untuk segera menyelesaikan tugas terakhirnya sebelum mengambil cuti. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Abiyu yang duduk di sampingnya.
"Gak apa-apa kan, Biy?" ucapnya dengan wajah penuh harap. Ia terus menatap wajah Abiyu, dan akhirnya ia menganggukan wajahnya, tanda setuju.
"Terima kasih suami ku," Kisya memeluk Abiyu, juga mencium pipinya beberapa kali.
Setelah mendapat persetujuan dari Abiyu, Kisya langsung memberitahu Radit kalau dirinya sudah mendapat izin, dan menjamin tidak akan ada salah faham lagi kedepannya.
Hari-hari terus berlalu, kisya yang memang sedang sibuk mengejar tugas terakhirnya, banyak menghabiskan waktu di luar daripada di rumah, tanpa meninggalkan kewajiban menjadi seorang istri juga seorang Ibu.
Dukungan tidak hanya datang dari Abiyu, dukungan juga diberikan Shafiah, juga Nindy yang akhir-akhir ini ikut membantu Kisya menyelesaikan tugas-tugasnya. Walau terkadang sang kakak marah terhadap sikap Nindy yang malah mendukung musuhnya.
Satu minggu berlalu. Tugas dari pak Ramon baru terselesaikan hampir 50% dari target awal hanya 30%.
"Gila. Kalau saja pak Ramon sudah punya materi buat satu minggu kedepan, mungkin dalam waktu tiga minggu, kamu sudah bisa menyerahkan tugas mu Sya," kata Radit sambil menikmati segelas es moccalatte di tangannya.
Radit, Kisya, juga Nindy saat ini mereka sedang berada di sebuah caffe dekat kampus. Mereka beristirahat sejenak setelah membantu Kisya mengerjakan tugas. Sebagai wujud rasa terima kasih, Kisya meneraktir mereka makan juga minum yang nilainya tidak seberapa dengan waktu dan tenaga yang mereka luangkan untuk dirinya.
Asik mengibrol, tiba-tiba mobil Abiyu berhenti di depan Caffe tempat mereka berkumpul. Ia datang hanya untuk menjemput sang istri yang memang sudah akan pulang.
Dari dalam Caffe, Kisya melihat mobil suaminya menepi. dengan gagahnya ia keluar dari dalam mobil mengenakan pakaian rumahan yang sederhana, tapi terlihat mewah saat Abiyu yang mengenakannya.
"Gila, laki gue keren kan?" katanya, membanggakan sosok suami yang tampan pada Radit, juga Nindy yang juga mengakui ketampanan seorang Abiyu.
"Keren banget. Gak salah kalau Kak Alesha tergila-gila sama Kak Abiyu," ucapnya dalam hati.
Abiyu terus berjalan cuek melewati beberapa pengunjung caffe yang terkagum dengan ketampanannya. Mereka bukan hanya berbisik, bahakan ada salah satu gadis yang berani menarik tangan Abiyu saat melewati sekimpulan wanita dengan pakaian yang rata-rata kekurangan bahan.
"Hai..." suara gadis muda itu sangat menggoda.
Abiyu yang langkahnya terhenti, langsung melepaskan kacamatanya, dan menautkan kaca mata itu ke dalam saku bajunya.
Kisya yang melihat kejadian itu dari kejauha, berusaha menahan emosi demi rasa penasaran ingin mengetahui sikap seperti apa yang akan Abiyu lakukan terhadap gadis-gadis genit itu.
"Kamu mengenal saya?" tanya Abiyu biasa saja.
__ADS_1
"Wah.. suara kamu, merdu banget. suara kayak gini nih yang ngangenin," ucap gadis itu sambil senyum-senyum manja di hadapan Abiyu.
"Saya Emeli. siapa nama kamu?"
"Saya Abiyu. Dan saya kesini mau menjemput istri saya."
kening gadis itu mengerut, "Istri?"
"Iya. Itu istri saya," ucapnya sambil menunjuk ke arah Kisya yang tengah melambaiakan tangan ke arahnya. Abiyu memberikan senyum termanisnya kepada sang istri.
"Saya permisi dulu," Abiyu memaksa gadis itu melepaskan tanganya. Setelah terlepas, Ia menghampiri Kisya lalu duduk disebelahnya.
"Enak ya banyak penggemar?" saut Kisya sambil mengerucutkan mulutnya. membuat Abiyu gemas lalu mencium pipi Kisya dihadapan Radit, juga Nindy yang tercengang melihatnya.
"Ya ampun, mesra banget sih, aku juga mau punya suami kayak Kak Abiyu.." Nindy terus bergumam.
"Abiy, malu tau."
"Gak masalah kan Dit?" tanya Abiyu pada Radit, menatap tak biasa.
"Gak ada yang ngelarang, dia istri lo," sautnya berusaha biasa saja, walau ada sedikit rasa yang menggelitik, Radit berusaha menutupinya dengan sikap dewasanya. lebih tepatnya berusaha untuk dewasa.
"Udah, Biy. Mau aku pesenin minum?"
"Boleh."
Kisya memanggil pelayan, lalu memesan minuman untuk suaminya. Sementara menunggu, mereka yang canggung dengan kedatangan Abiyu, berusaha mengobrol ringan, untuk mencairkan suasana.
Kecanggungan bukan hanya terjadi antara Abiyu dan Radit. Seseorang yang terus mendapatkan tumpangan gratis dari Adlan, merasa tak enak karna hampir setiap shift dua Adlan mengantar jemput dirinya.
"Om gak ada maksud apa-apa Ran. Om cuma kasian aja kalau kamu harus pulang tengah malam pake ojek. Gak lebih dari itu. Kebetulan arah kita pulang juga sama kan?" ucap Adlan pada Kiran yang duduk disebelahnya, sambil menundukan wajah.
"Tapi aku gak enak sama karyawan lain Om?" suara Kiran terdengar sendu.
Melihat ekspresi wajah Kiran yang memang merasa keberatan, membuat Adlan harus mengalah dan mulai berhenti mengantar jemput dirinya.
"Ya udah. Om janji, ini terakhir kali Om antar jemput kamu," ucapnya dengan senyum.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Om."
"Iya Ran. Om juga gak mau buat kamu gak nyaman. Tapi kamu harus hati-hati ya kalau pulang malem."
"Iya Om."
"Nanti untuk ojeknya, biar Om yang kasih kamu ojek khusus, ya? Nanti Om yang bayar. Kamu seneng?" Adlan mengusap puncak rambut Kiran. Kiran meresponnya dengan senyum semeringah.
"Sekali lagi, makasi ya Om."
"Iya, Ran. Udah ah, jangan ngomong terimaksih terus."
Adlan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Mall kelapa gading tempat mereka bekerja.
Waktu terus bergulir. saat ini arah jarum jam berada di angaka duabelas malam. Kiran yang tak lagi diantar Adlan, kini pulang menggunakan ojek yang di khususkan untuk dirinya.
"Neng Kiran kan?" tanya mang ojek itu, saat Kiran keluar dari dalam Mall. Ojek itu sudah siap di sana sejak setengah jam yang lalu, sesuai dengan perintah Adlan.
"Iya, saya Kiran."
"Naik neng! saya di suruh pak Adlan antar neng pulang."
"Iya pak. Om adlan juga barusan ngirim pesan."
Setelahnya ia naik ke atas motor, setelah memakai helm, ojek itu segera melajukan motornya, mengantar Kiran pulang kerumah Nindy, karna belum menemukan kos-kosan yang pas.
Adlan yang juga ada di sana mengewasi keselamatan Kiran, baru bisa pulang setelah memastiakan Kiran sampai ke rumahnya dengan selamat.
"Pria tidak tau diri, gadis sepolos dia mau lo deketin? gak ngaca apa lo? gila. Berapa umur dia? berapa umur lo? jelas dia kabur lah, ilfil kali. bener-bener lo gak tau diri Adlan."
Perkatan itu, ia tunjukan pada dirinya sendiri, agar ia cepat sadar dari perasaan gilanya.
Mana dong dukungannya untuk Adlan?
__ADS_1
Sedih niih ðŸ˜ðŸ˜
Like dan komennya semakin berkurang.