Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 38


__ADS_3

Mengetahui kalau Gilang akan melamar Rani, Aisyah langsung bertanya kepada sang adik mengenai kebenarannya.


"Kamu dikasih cincin sama Kak Gilang? tanya Aisyah yang saat ini berdiri di samping Maharani setelah pulang dari rumah Gilang.


"Iya," jawab Rani singkat tanpa menghentikan aktivitasnya.


Mendengar jawaban dari Rani, tidak membuat Aisyah merasa tenang, apa lagi saat melihat tidak ada cincin yang melingkar di jari Manis sang adik. Baik di tangan kiri, maupun di tangan kananya, lalu ia pun memutuskan untuk bertanya kembali.


"Terus sekarang di mana cincin itu?"


Rani terkejut menoleh ke arah sang Kakak. "Ya ampun, Kak. Aku lupa, tadi aku lepas."


Dia langsung berdiri mencari keberadaan cincinya yang entah berada di mana, karena saat melepas, dia bahkan lupa melepaskanny di mana, sehingga cicin itu pun belum bisa ditemukan.


"Kamu ko jorok sih, Ran. Kak Gilang bakal tersinggung loh kalau sampai cincinnya ilang," kata Aisyah kesal karena sang adik terkesan ceroboh, mungkin terkesan tidak perduli dengan cincin itu, padahal bagi seorang Gilang, cincin itu sangat bermakna.


"Ya habis, gimana? namanya juga lupa. Lagian Kak Gilang gak akan marah ko, nanti aku jelasin ke dia," kata Rani yang memilih kembali duduk dan meneruskan tugas kampus yang belum selesai.


"Mungkin Kak Gilang gak akan marah, tapi dia pasti sangat kecewa. Tolong dong, Ran. Kamu hargai cinta dan perasaan kak Gilang terhadap kamu! Semakin kesini, Kakak liat, kamu semakin nggak perduli dengan perasaan Kak Gilang," tutur Aisyah merasa kesal.


"Nggak ko, biasa aja. Kakaknya aja yang terlalu lebay," ucapnya dengan senyum, menganggap enteng semua permasalahan.


"Terserah kamu deh." lalu Aisyah pun pergi keluar dari kamar sang adik.




Kediaman Adlan, melihat cara Abiyu memegang tangan Kiran saat itu, cukup menganggu pikiran Adlan selama beberapa hari, dia merasa kalau Abiyu menyimpan perasaan cinta terhadap sang istri walaupun tidak berniat ingin memilikinya.



Dia terus melamun sambil duduk santai di atas balkon, membuat Kiran yang saat ini sedang berkemas, harus menghentikan sejenak aktivitasnya menghampiri sang suami dengan memeluknya dari belakang lalu mencium singkat bibirnya.



Cup.



Adlan sedikit terkejut dengan serangan yang tiba-tiba, ia pun tersenyum seraya mengusap tangan Kiran yang melingkar di atas bahunya.

__ADS_1



"Kenapa?" tanya kiran.



"Kenapa apanya?" saut Adlan.



"Kenapa bengong?" tanyanya lagi.



"Nggak apa-apa, Sayang," ucapnya dengan senyum.



"Nggak apa-apa ko bengong?"



Karena sang istri terus bertanya, Adla menuntun tangan sang istri untuk duduk di atas pangkuannya, mengusap bibir Kiran dengan jarinya, membuat senyum Kiran semakin mengembang.




"Aku udah tau rasanya, dan rasanya sangat memabukkan." Adlan terus menggoda sang istri dengan kata-kata, membuat Kiran tersipu malu mendengarnya.



"Siapa aja yang ikut ke Lombok, Mas?" tanya Kiran masih betah duduk di atas pangkuan Adlan.



"Semua karyawan, tanpa kecuali."



"Keluarga kita? ikut semua?"

__ADS_1



Adlan mengangguk. "Semuanya, termasuk Abiyu."



Seketika raut wajah Kiran berubah asam saat mendengar nama Abiyu. Adlan yang menyadari akan hal itu, langsung mencium singkat bibir Kiran, ia pun kembali tersenyum.



"Kenapa?" kali ini Adlan yang bertanya.



Kiran tersenyum. "Nggak apa-apa, Mas."



"Kamu nggak nyaman ada Abiyu juga?"



"Nggak, Ko. Seharusnya aku yang tanya, Mas Adlan nggak apa-apa kalau ada Kak Abiy di sana?"



Adlan menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, semua akan baik-baik saja."



"Sayang..."



"Iya, Mas?"



"Jangan panggil Abiyu dengan panggilan kakak, itu terlalu manis, aku nggak suka."


__ADS_1


Kiran menatap intens wajah itu, lalu ia pun mengangguk. "Iya, Mas."


__ADS_2