Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 61


__ADS_3

SEMOGA MASIH PADA SUKA.


INI SUDAH MENDEKATI AKHIR CERITA ABIYU KISYA.


CERITA SELANJUTNYA YANG AKAN DI ANGKAT GANTIAN KELUARGA AZKY DAN SI KEMBAR YANG MEMILIKI DUA SIFAT BERBEDA, MEMBUAT KEDUA ORANGTUANYA HARUS EXTRA PERHATIAN LEBIH KEPADA PUTRI-PUTRI MEREKA.


UNTUK SEKARANG, SAKSIKAN DULU KISAH ABIYU KISYA YA. TINGGAL SEDIKIT LAGI.


HAPPY READING.


Cukup lama mengakrabkan diri dengan pak Herlambang juga bu Melisa. Setelah banyak mengobrol perihal pernikahan, juga tentang keluarga Kiran yang dimana ibunya masih bekerja sebagai ART, mereka berencana meminta sang ibu ikut dengannya saat sudah menikah nanti, jadi tidak perlu bekerja sebagai ART lagi di rumah Nindy.


Kiran setuju, dan hal itu pun sudah di konfirmasikan lebih dulu oleh Kiran dengan ibunya, dari jauh-jauh hari sebelum Adlan betul-betul melamarnya.


Bu Melisa dan pak Herlambang sangat senang, akhirnya putra terakhirnya mendapatkan jodoh, walaupun masih kecil, mereka yakin, kalau Kiran memiliki sifat dewasa yang bisa mengimbangai sifat putranya yang sudah tidak muda lagi.


Setelah banyak mengobrol, Adlan mengantarkan Kiran pulang ke kontrakan sekitar pukul 22.00. Sepanjang perjalanan, Adlan tak henti-hentinya menggenggam tangan Kiran sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah kota Jakarta yang masih ramai dengan mobil juga orang-orang yang terus berlalu lalang tanpa henti.


Kiran terus tersenyum, mengingat akan kejadian tadi saat Adlan di ejek oleh Kayla yang memanggilnya dengan panggilan Opa.


"Hi.. hi.. hi.. " ia terkikik sambil menutup mulitnya dengan tangan.


"Ketawa terus ya? pasti ngeledekin nih?" kata Adlan sekilas melirik menatap Kiran.


"Habis Om lucu. Gak mau terima kenyataan kalau Om udah punya cucu," ha.. ha.. ha.. Kiran kembali tertawa lepas, membuat Adlan semakin gemas ingin mencubitnya.


"Awas ja ya nanti tunggu pembalasan dari Om kalau udah nikah. Om hukum kamu."


"Weew.." Kiran menjulurkan lidahnya mengejek Adlan. Sedang Adlan terus tersenyum dengan tingkah konyol calon istri kecilnya.


"Jangan mancing-mancing," kata Adlan memperingatkan.


"Mancing apa? memancing di air keruh?"


"Mancing timbulnya orang ketiga."


"Iih..selingkuh? emangnya aku buat salah?"


"Bukan selingkuh sayang, orang ketiga yang hadir saat dua insan sedang berduaan."


"Ya ampun. Setan?" katanya dengan membulatkan matanya sempurna.


"Ngomong setannya gak usah ngeliat Om juga kali, Ran."


hi..hi..hi.. "Perasa ih.." kata Kiran sambil mengusap pipi Adlan.


"Kiraan...malah nambah-nambahin," Adlan menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan Kiran.


"Kenapa?" pura-pura tidak tau, dia benar-benar memancing timbulnya orang ketiga di antara mereka.


"Iih.. yang kuat dong imannya. Masa segitu aja harus tergoda?" hi.. hi.. hi..


Adlan tersenyum tersipu, "Aku ini pria normal sayang, dan aku ini bukan ustad yang kapan saja bisa khilaf. Kalau Om khilaf sekarang, gimana coba?"

__ADS_1


"Jangan dong."


Kiran menjauhkan tubuhnya dari samping Adlan, juga tangannya yang sudah tidak saling berpegangan. Katanya khawatir muncul orang ketiga.


"Buka mantel Om!"


Adlan mengerutkan keningnya, "Buat apa? kamu gak lagi minta yang macam-macam kan?"


"Idih.. GR."


"Terus?"


"Buat nutupin rok aku, seragam ini terlalu terbuka, khawatir menggoda iman Om Adlan. Katanya mencegah lebih baik dari pada mengobati. Iya kan?"


Adlan tersenyum, ternyata yang pikirannya kotor ya otaknya itu. Ia melepaskan mantelnya, dan langsung meletakan mantel itu di atas pangkuan Kiran.


"Terima kasih," ucapnya dengan senyum. Kiran menutupi bagian yang terbuka, dengan mantel yang di berikan Adlan.


"Om."


"Hhmm..?"


"Terima kasih."


Adlan kembali melirik sekilas, "Untuk?"


"Semuanya."


Adlan mengerutkan keningnya, "Om belum ngelakuin apa-apa Ran."


Ia duduk menyamping, menatap Adlan sambil mengusapkan tangan Adlan ke pipinya, membuat konsentrasinya sedikit memudar karna terus di tatap oleh Kiran. Ia pun tersenyum.


"Terima kasih Om sudah mau mencintai anak kecil kayak aku, miskin, seorang pembantu, juga masa lalu aku yang memalukan."


"Kiran. Jangan bahas itu lagi ah, itu masa lalu, sayang. semua orang punya masa lalu. Buat Om, kamu sudah melupakan masa lalu, itu udah cukup. Iya?"


Kiran mengangguk.


"Dan kamu jangan pernah merasa terhina pernah menjadi pembantu. Pembantu itu pekerjaan yang mulia juga loh, menyiapkan makan, merapihkan rumah, banyak hal mulia yang mereka lakukan."


Adlan mengusap puncak rambut Kiran dengan satu tangannya, "Jangan pernah merasa terhina, sayang. Karna kamu akan segera menjadi nyonya besar keluarga Malique. Aku akan memulikan kamu, juga ibu kamu. Ya?"


Kiran terharu dengan kata-kata Adlan, ia meneteskan air mata bahagia. Bahagia karna sangat beruntung bisa mengenal Adlan. Mungkin ini lah hikmah di balik semua kejadian, yang akan indah pada waktunya.


"Jangan nangis dong. Nanti aku ikutan nangis," kata Adlan sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Kira kembali tersenyum lucu.


"Oh iya, satu lagi."


"Kenapa Om?"


"Jangan panggil Om ya. pake nama panggilan yang lain mau kan?"


"Oh iya. Sebenarnya, dari tadi aku juga mikirin itu Om, panggilan apa gitu yang cocok?"

__ADS_1


"Panggil Mas? mau?" Adlan kembali melirik meminta persetujuan.


"Mmm..." nampak sejenak berfikir untuk menerka-nerka, panggilan apa yang cocok? Tapi sepertinya tidak ada yang lain, dan panggilan mas kayaknya memamg pas.


"Baiklah. Mas Adlan?"


Adlan tersnyum, "Terima kasih ya Ran."


Mobil yang mereka tumpangi, terus melaju, sedikit di selingi obrolan ringan sambil menikmati jalanan ibu kota.


Di tempat lain, Kisya yang masih merajuk, baru saja selesai merapihkan mainan putrinya di masukan ke dalam keranjang, lalu meletakan keranjang itu di sudut samping lemari TV.


Abiyu yang tau akan amarah sang istri, terus mengekor dari belakang sambil merayu, berharap amarahnya bisa segera luluh.


"Ayo dong, Yank. Jangan marah terus," kata Abiyu sambil memeluk Kisya dari belakang, namun Kisya terus berjalan ke depan merapihkan semua yang terlihat tidak enak di pandang.


Usaha Abiyu tidak berhenti sampai di situ. Dia memutar tubuh Kisya sampai mereka saling bertatapan secara langsung. Mata mereka saling bertemu, namun Kisya mengalihkan pandangannya ke arah lain, berusaha menghindar.


"Yank. Apa sih yang buat kamu marah? aku udah berusaha loh Yank. Liat aku dong! liatnya ke sana terus," pintanya sedikit memaksa, sambil mencium pipi Kisya berkali-kali.


"Abiy.. cukup!"


"Aku gak akan berhenti sampai kamu bilang apa kesalahan aku."


"Aku gak mood, besok aja bicaranya."


"Yank.. jangan gitu dong, aku tersiksa sama sikap kamu kayak gini. Aku bingunh mesti ngapain."


Kisya naik ke atas ranjang, berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Yank.."




Sehari akan aku UP dua bab tapi dengan syarat tertentu ya.


Selalu meninggalkan jejak di setiap episodnya.


LIKE


KOMEN


Jangan sampai ketinggalan.



Semakin banyak jejak.


Semakin cepat Author UP lagi.


__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2