
"Aku mencintainya." Gilang berteriak setelah ia berada di dalam rumahnya, dan memutuskan untuk sementara waktu mengikuti apa yang ibunya katakan dengan tidak menceraikan Aisyah.
"Ini bukan cinta, Gilang. kamu hanya terobsesi dan ingin membuktikan kepada si Panji kalau kamu bisa memiliki hati Mahrani."
"Sekarang jelas-jelas Rani memilih panji, lalu apa lagi yang kamu harapkan? kamu akan tetap mengemis cinta kepadanya? dia sudah membuang kamu, Gilang. Percayalah dia sama sekali tidak mencintai kamu."
Tahu, ia mengetahui itu semua, tetapi cinta yang ia rasakan begitu dalam, begitu besar, sehingga luka yang Rani goreskan sama sekali tidak ia rasakan.
Gilang bergeming, mendudukan diri di atas sofa, membayangkan kejadian tadi saat wanita yang paling ia cintai memegang erat tangan pria lain.
"Kamu tega, Rani."
Seolah baru menyadari kalau saat ini ia sedang terluka, air mata jatuh begitu saja membasahi pipi, merasakan sakit atas luka yang sudah Rani goreskan ternyata begitu dalam.
Aisyah berdiri di samping sang mertua, hanya bisa menatap iba tidak memiliki keberanian untuk merangkulnya, apa lagi memberikan bahu untuk menjadi sandaran.
"Dia suamimu, Isya." Bu anna membuka suara sambil menatap putranya yang saat ini sedang meraung menangis menahan sakit atas luka yang ia dapatkan.
"Mommy tidak tega melihat ia seperti itu." Dia menoleh ke arah Aisyah dengan deraian air mata yang begitu derasnya.
"Mommy terluka melihat dia seperti ini, Mommy sakit, Gilang adalah putra Mommy satu-satunya, kalau bukan kamu yang merangkul dia, siapa lagi?"
__ADS_1
"Lalu apa yang harus Aisyah lakukan, Tente?"
"Rangkul dia, sembuhkan lukanya, Tante mohon." Ia melipat kedua tangannya di depan Aisyah, seraya memohon dengan sangat, karena ia tidak mau putra satu-satunya harus hidup menderita.
Aisyah tidak memiliki keberanian sejauh itu, tetapi rasa iba, juga menghargai sebuah hubungan dan coba mengerti arti pernikahan, ia memberanikan diri duduk di samping Gilang, memberikan bahunya untuk menjadi sandaran. Aiayah mengusap bahu sang suami seraya menenangkan.
"Istigfar, Kak. Kakak punya Tuhan, Kakak nggak boleh mencintai makhluk melebihi cinta Kakak kepada Tuhan, karna ini sudah kehendaknya."
"Gue cinta sama dia, Isya. Gue cinta," lirih Gilang dengan tangis terisak.
"Aku tau, tapi setidaknya coba lah untuk tenang, nanti kita pikirkan lagi langkah selanjutnya dengan kepala dingin."
"Terima kasih, Isya. Gue benar-benar kehilangan arah, gue nggak tau harus gimana."
Sontak hal itu membuat Aisyah terkejut, ini kali pertama ia dipeluk oleh seorang pria, sehingga ia pun tidak memiliki keberania untuk membalas pelukan itu.
Hanya pelukan singkat, Gilang mencoba tenang setelah menenggak satu gelas air putih yang diberikan oleh Aisyah, sedangkan Bu Anna pergi ke kamarnya membiarkan Gilang berdua dengan Aisyah.
Lelah, Gilang beranjak dari duduknya, hendak beristirahat di dalam kamar, tetapi langkahnya terhenti saat Aisyah malah melamun di atas sofa.
"Isya." Gilang memanggil saat satu kaki sudah berada di atas pijakan anak tangga. Aisyah menoleh.
__ADS_1
"Kenapa masih diam di situ?" tanya Gilang.
"A-aku, nggak tau harus pergi ke mana? aku nggak tau di mana kamarku?" atau nggak aku pulang aja?" Aisyah memilin ujung baju kebingungan.
"Jangan! Nanti Mommy marah lagi, ikut sama gue."
Aisyah berdiri, lalu menghampiri Gilang. "Kamar ku juga ada di atas.'
Gilang mengangguk tanpa ekspresi.
"Mungkin masih banyak kamar di lantai atas." pikir Aisyah.
"Masuklah!" titah Gilang setelah membuka salah satu kamar.
Mereka berdua masuk, lalu Gilang kembali menutup pintunya. Aisyah terkejut menoleh ke belakang.
"Ko Kakak di sini? ini kamar aku atau kamar Kakak?" tanya Aisyah semakin bingung.
"Ini kamar kita."
"Apa?"
__ADS_1