Dia Maduku

Dia Maduku
Bab 38


__ADS_3

Hening.


Hening.


Hening.


Tak ada percakapan apapu di antara mereka,Shafiah yang duduk di samping kemudi,terus menatap ke luar.


Begitupun dengan Fatih,berusaha tidak peduli dengan sikap Shafiah yang dingin,ia memilih untuk diam tak ingin membuka suara menatap fokus ke jalan.


Namun karna sebuah insiden,saat lampu merah menyala,Shafiah membuka kaca mobilnya menatap keramaian di luar,hembusan angin malam membuat Shafiah tersenyum menikmati sejuknya malam kota Sidney. "Masyaallah..nikmat tuhan yang mana lagi yang kau dustakan." Gumam Shafiah sambil menarik nafas dalam-dalam,lalu menghembuskannya perlahan.


Berhentilah mobil Jeep yang berisi pemuda preman tepat di samping kanan mobil Shafiah.Tanpa ia sadari ada salah satu pemuda yang terus menatap kecantikan wajahnya.


Pemuda itu turun dari mobilnya menghampiri Shafiah dan berdiri tegap di hadapannya. "Hallo cantik." Ucapnya sambil menundukan badannya menatap Shafiah lebih dekat di balik jendela mobil.


Buru-buru ia menaikan kaca mobil,namun tangan kekar pemuda itu menghalanginya. "Menyingkir.." Tegas Fatih menatap tajam penuh amarah.


"Heii..siapa dia? dia suami mu?" Ucap pemuda itu dengan senyum menyeringai..


"Tidak.."


"Ya..." Jawab Shafiah dan Fatih bersamaan.mereka pun menatap satu sama lain."


"Haa..haa..." Pemuda itu tertawa terbahak.. "Heii..wanita ini tidak menganggap mu. Aku akan membayarnya berapapun yang anda mau tuan."


"Bajingan." Fatih mengepal tangannya sangat kuat.lalu berusaha turun dari mobilnya untuk melawan para preman itu,namun Shafiah menghalanginya.


"Jangan mas,biarkan saja,lmpunya sudah hijau,ayo cepat kita pergi dari sini." Ucap Shafiah sambil memegang lengan Fatih.


Fatih pun langsung menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi.


"Ini salah mu,seharusnya tadi kamu bilang kalau aku itu suami mu. Apa susahnya sih,dengan begitu dia tidak akan mengganggu mu." Fatih meluapkan kekesalanya terhadap pemuda itu pada Shafiah.


"Benar apa yang di katakan mas Rafa,seorang istri berada di luar rumah tanpa muhrimnya,akan menimbulkan banyak fitnah." Batin Shafiah mengingat perkataan dari kakaknya,ia menangis sambil menatap ke luar,berusaha menutupinya dari Fatih.


"Shafiah.." panggil Fatih,namun ia tetap diam.


Isak tangis Shafiah terdengar samar olehnya.Fatih langsung menepikan mobilnya di bahu jalan guna memastikan keadaannya.


"Shafiah,kamu menangis?" Tanya Fatih penasaran menatap Shafiah dari samping.


"Tidak." buru-buru ia menyeka air matanya.


"Apa aku menyakiti perasaan mu?"


"Tidak." Jawabnya singkat tanpa melihat wajah Fatih.


"Apa karna perkataan pemuda itu?"


"Ini salah ku,tidak seharusnya aku berada di sini. Apakah tanpa suami membuatku sangat hina.Hikss..hikss..." Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Tanpa berfikir panjang,Fatih langsung melajukan mobilnya berputar arah guna menghampiri pemuda tadi yang kebetulan mobil mereka searah dengan mobilnya.


Tak jauh dari situ,ia menemuka mobil Jeep yang menjadi incarannya.dengan keberaniannya,Fatih menghentikan mobilnya tepat di depan mobil mereka.


"ckiiikk...suara decikan rem mendadak dari kedua mobil itu terdengar sangat jelas,Fatih langsung turun dari mobilnya dan langsung melayangkan pukulan ke arah pemuda tadi. "Bugghh...ia menarik kerah baju pemuda itu da membawanya turun dari mobil hingga Fatih dengan leluasa melayangkan pikulannya kembali."Bughhh...bughh...


Shafiah turun dari mobil menghampiri Fatih yang tak henti-hentinya memukul pemuda itu. "hentikan mas,kamu bisa membunuhnya." Teriak Shafiah sambil menahan tangan Fatih yang sudah siap melayangkan pukulannya kembali.

__ADS_1


Melihat teman-temannya sedang di hajar habis-habisan oleh Fatih,mereka pun turun dari mobilnya mencoba menolong temannya yang sudah tergelak lemah.


Baru saja para preman itu turun dari mobilnya,terdengar sirine polisi yang sedang berpatroli. "Sial..ada polisi,cepat pergi." Segera mereka naik kembali ke mobilnya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi,berusaha menghindar dari polisi..


"Kamu gak apa-apa?" Tanya Fatih melangkah menghampiri Shafiah.


"Jangan mendekat,aku baik-baik saja." Cegah Shafiah sambil mengangkat tangannya agar Fatih tidak mendekatinya.


Mobil polisi itu pun menepi lalu menghampiri Fatih dan Shafiah yang masih berdiri di sana. "Selamat malam." Ucap polisi itu.


"Malam pak." Saut Fatih.


"Kalian sedang apa? apa kalian tidak melihat tanda disana? (tanda di larang berhenti)." Polisi itu menunjuk ke sebelah kanan mereka.


"Sial,aku tidak melihatnya." Ucapnya mendengus kesal. "Maaf saya tidak melihanya pak,karna panik dengan keadan istri saya." Fatih mencoba mendekat pada Shafiah lalu merangkulnya dari samping.


Shafiah terus menggerakan bahunya untuk lepas dari tangan Fatih,namun Fatih malah semakin mengeratkan tangannya. "Diam kalu mau selamat." Ucapnya pelan,namun masih terdengar oleh Shafiah.


Shafiah pun menuruti perkataan Fatih yang sedang berusaha lepas dari kedua polisi yang sedang mengintrogasinya.


"Kalian sedang bertengkar?" Tanya polisi itu lebih memastikan.


"Ya pak,ini...hanya sedikit masalah keluarga saja." Setenang mungkin ia berkata pada polisi itu.


"Pulang lah,jangan bertengkar di pinggir jalan,kalian akan menjadi tontonan semua orang."


"Baik pak."


"Masuk lah ke dalam mobil,kenapa anda masih diam di sini?" Kata polisi itu karna Fatih dan Shafiah tak kunjung masuk ke dalam mobil.


"Oh ya pak.." Fatih menarik tangan Shafiah untuk segera masuk ke dalam mobil.sambil berjalan,ia terus menggerakan tangannya yang tak ingin di sentuh olehnya.


Segera Fatih melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.karna tujuannya hanya memberikan tumpangan untuk Fatih,setelah mengantar Fatih sampai depan gerbang rumahnya,segera Shafiah melajukan kembali mobilnya menuju kediamannya sambil menahan tangis.



Saat sampai di dalam rumah,ia di sambut langsung oleh Abiyu yang sudah menunggunya beberapa jam lalu.



"Sayang,kamu belum tidur?" Shafiah langsung menghampiri Abiyu dan langsung memeluknya memberikan kecupan di puncak rambut putranya.



"Belum bun." Abiyu berusaha menatap wajah Shafiah. "Maafkan aku bun,atas sikapku tadi sore. Aku tidak bermaksud menyakiti hati bunda." Ucap Abiyu penuh penyesalan.



"Heii...bunda gak apa-apa ko,bunda gak marah." Shafiah kembali membawa Abiyu ke dalam pelukannya.



"Bunda."



"Hhmm.." Jawab Shafiah tanpa berkata.


__ADS_1


"Abiyu rindu dengan ayah,Abiyu mau bertemu ayah."



Seketika tangis Shafiah tumpah saat mendengar ungkapan isi hati Abiyu yang sangat merindukan ayahnya.



"Kemana ayah bun? kenapa dia tidak pernah mengunjungi kita? apa yang terjadi dengan kalian? kenapa bunda memisahkan Abiyu dengan ayah? hikss...hikss..



"Maafkan bunda sayang. Maafkan bunda." mereka menumpahkan tangisnya sambil memeluk satu sama lain menahan rindu yang teramat dalam terhadap Zahfran selama 3 tahun tidak pernah bertemu.



"Pah,,mamah sudah tidak sangup lagi menahan mereka untuk tidak kembali kepada Zahfran." Ucap bu Melisa pada pak Herlambang sambil menyaksikan pemandangan menyedihkan dari lantai atas menatap kesedihan Abiyu dan Shafiah.



"***Apa yang aku lakukan? tidak kah aku sama dengan Zahfran yang membuat Shafiah semakin menderita***." Batin pak Herlambang mencoba mengedalikan emosinya.



Tak lama setelah itu,pak Herlambang nampak menghubungi seseorang. "Stiven... Berikan investasi sebesar 5 milyar untuk butik menatuku." Titah pak Herlambang pada salah satu orang kepercayaannya dalam sambungan telfon.



"Baik tuan,besok saya akan menghubungi asisten nyonya Shafiah.



"Dan ingat,menantuku tidak boleh tau akan hal ini."



"Baik tuan."



Setelahnya pak Herlambang menutup telfonnya.



"Pah,,papah akan mengirim Shafiah kembali ke indo?" Tanya bu melisa dengan wajah berbinar-binar.



Tak ingin menjawab,pak Herlambang masuk ke dalam kamarnya berusaha menahan keegoisannya selama ini.



Siap-siap..kisah meraka akan segera di mulai kembali.


Yang rindu dengan Azky mana suaranya?📣


yang rindu dengan Zahfran mana suaranya?📣


Jangan lupa ya untuk selalu mendukung cerita Author yang masih amatir ini.😘😘

__ADS_1


Komentarnya makin dikit,author sedih 😭😭


Buat Author semangat dong 😭😭😭


__ADS_2