Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 55


__ADS_3

"Mau bukti apa?"


"Aku nggak tau, yang pasti buktiin aja kalau Kakak nggak akan mabuk lagi."


Aisyah berlalu keluar, meninggalkan Gilang sendiri di kamarnya, tidak lama ia kembali lagi ke kamar sambil membawa satu gelas air hangat.


"Buat gue?" tanya Gilang.


Aisyah mengangguk tanpa berkata.


Gilang meraih gelas yang diberikan Aisyah, meminumnya sampai habis, lalu gelas kosongnya ia kembalikan kepada sang istri. Ia pun keluar dari kamar tanpa berkata.


"Kayaknya marah dia."


Karena hari masih gelap, Gilang kembali berbaring, lalu tidur.




Kediaman Fatih.



Nampak Shafiah sedang mengemas beberapa baju ke dalam tas setelah dua hari menginap di rumah Azky, sedangkan Zahfran saat ini masih berdiri di dekat jendela sambil menyeruput kopi seraya berfikir.



"Panji."



Shafiah mendengar sang suami menyebut nama pria yang disukai putrinya, tetapi ia bergeming, terus mengemas baju-baju.



"Sayang. Kamu udah selesai berkemasnya?" tanya Zahfran berjalan perlahan menghampiri sang istri. Dia hanya mengangguk tanpa berkata, membuat Zahfran sedikit kebingungan.



"Kenapa?"



"Nggak apa-apa, Mas. Kita pulang sekarang."



Selesai mengepak baju, ia menenteng tas hendak dibawa keluar, tetapi Zahfran menahannya.



"Kenapa Shafiah? ada yang buat kamu nggak nyaman?"



"Ada, kamu," jawabnya mengejutkan.



"Aku? kenapa aku?" keningnya mengerut tidak mengerti."



"Bunda..." Panggilan Audy memotong pembicaraan mereka.



"Kenapa, Nak?" tanya Shafiah.


__ADS_1


Anak itu masuk ke dalam kamar menghampiri sang Bunda.



"Di depan ada kakek, Om adlan, sama kakak."



"Oh ya? kapan datang?"



"Barusan aja, bunda sih di kamar terus jadi nggak tau."



"Mereka pasti mau ketemu Rani sama Aisyah," sambung Zahfran.



Shafiah bergeming. Audy yang usianya sudah mulai remaja, bisa tahu arti dari raut wajah sang Bunda saat ini.



"Bunda sama Ayah berantem?" tanya Audy penasaran.



"Nggak. Siapa yang berantem?" saut Zahfra dengan senyum sambel merangkul sang Istri dari samping, mencium puncak rambutnya di depan Audy.



Tidak semudah itu dia percaya, tetapi dia juga tidak ingin memperpanjang masalah sehingga tidak perlu melanjutkan pertanyaan, dan memilih percaya dengan merangkul mereka.



"Ayah sama Bunda jangan berantem ya! nanti Audy sedih."




Terdengar cukup ramai di luar, Shafiah, Zahfran juga Audy akhirnya keluar dari kamar menghampiri mereka.



"Assalamualaikum."



Shafiah memberi salam, lalu mencium punggung tangan sang mertua.



"Waalaikumsalam," saut Pak Herlambang menjawab salam.



"Papah ko ada di sini?" Kali ini Zahfran yang bertanya, ia mendudukan diri di samping sang istri yang duduk di depan Pak Herlambang.



"Papah mau liat keadaan cucu Papah."



Tidak lama Rani pun hadir di tengah-tengah mereka. Abiyu yang melihat Rani lebih dulu pun menyapanya. "Rani.."



Semua menoleh ke arah Maharani yang saat ini masih berada di ujung tangga, merasa segan menghampiri mereka karena malu.

__ADS_1



"Sini, Nak." Pak Herlambang memanggil Maharani dengan senyum, Rani pun menghampiri mereka duduk di samping sang Kakek.



"Kamu baik-baik aja?" tanya Pak Herlambang seraya mengusap lembut bahunya.



Rani menganggukkan kepala tanpa berkata.



Pak Herlambang yang tahu akan ketakutan cucunya, langsung memeluk, seraya berkata. "Kakek nggak marah, Kakek cuma mau tau alasan kamu meninggalkan pernikahan. Boleh kan?"



Maharani bergeming, lalu Pak herlambang melepaskan pelukannya.



"Boleh Kakak tau?" tanya Pak Herlambang lagi.



"Rani mencintai pria lain, Kakek," lirihnya hampir menangis.



"Mencintai pria lain? siapa? Kakek boleh kenal kan?"



"Pria itu bekerja di sini, anak dari pak Broto," saut Maharani tanpa ragu.



Pak Herlambang mengerutkan keningnya, lalu bertanya kepada Azky. "Pak Broto itu supir pribadi kalian kan?"



Azky mengangguk. "Iya, Pah."



"Kamu mencintai anak dari supir pribadi ayah kamu?"



"Iya, Kakek."



"Pertemukan Kakek sama anak itu."



"Nggak, Rani takut."



"Azky!" panggil Pak Herlambang kepada sang menantu.



"Iya Ayah?"



"Panggil pria itu ke sini!"

__ADS_1



"Jangan Kakek, aku mohon."


__ADS_2