
Bodoh.. ! Hanya mendengar namanya saja hatinya kembali bergetar,terlebih mengetahui kalau saat ini Azky berada dekat dengannya,dia langsung ambil seribu langkah untuk menemui mantan madunya itu di Sebuah Restauran yang letaknya tak jauh dari kantornya.
Apa yang ada di pikirannya? Perasaan apa yang saat ini ia rasakan? Rindu kah? Atau sekedar penasaran?.
Saat ia masuk ke dalam Restauran,ia berusaha biasa saja,langkahnya pun tidak lagi tergesa-gesa,dengan santainya ia menghampiri salah satu karyawan di sana. "Permisi mba."
Pelayan itu pun menoleh ke arahnya. "Iya pak,ada yang bisa saya bantu?" Ucap salah satu pelayan di sana.
"Bisa bertemu dengan Manager Restauran ini?" Saut Zahfran tanpa ragu.
"Oh..ada keperluan apa ya pak?" Pelayan itu kembali bertanya untuk memperjelas tujuan Zahfran bertemu dengan Managernya.
"Saya.. Ada keperluan penting,masalah bisnis,bisa tunjukan di mana ruangannya?"
Pelayan itu pun mengangguk,sambil melihat penampilan Zahfran dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Perfek." Ucapnya di dalam hati sambil berdecak kagum menatap ketampanan seorang Zahfran. "Ikut saya pak."
Zahfran mengikuti langkah pelayan itu dari belakang menuju ruang kerja Azky. "Ini ruang kerja bu Azky khairani pak,selaku manager di Restauran ini." Kata pelayan itu ramah.
Zahfran mengangguk sambil tersenyum ramah. "Baiklah,terimakasih."
Setelah itu,pelayan itu pun pergi meninggalkan Zahfran di depan pintu. Tanpa rasa ragu,Zahfran mengetuk pintu itu perlahan. "Tok..tok..tok.."
"Masuk." Suara itu terdengar merdu di telinga seorang Zahfran,ia menghela nafas panjang sebelum membuka handel pintu.
"Jglek... Melangkah masuk saat pintu terbuka sempurna,hanya beberapa langkah,mungkin dua atau tiga langkah tidak cukup dekat dengan posisi duduk Azky saat ini.
"Assalamualikum." Ucap salam Zahfran setelah berada di dalam ruangan,dengan pintu tertutup kembali.
"Suara itu?" Azky menghentikan sejenak aktifitasnya lalu menoleh ke arah sumber suara. "Benar,itu dia." "Waalaikumsalam..mas Zahfran?" Matanya membulat sempurna menatap sosok laku-laki yang ada di hadapannya saat ini.
Azky langsung bangkit dari duduknya,sedangkan Zahfran masih diam mematung dari kejauhan.
Lagi dan lagi ia harus di pertemukan dengan sosok laki-laki yang namanya masih terukir jelas di dalam hatinya,ini seperti permainan, di saat ingin melupakannya,ia selalu muncul kembali.
Hening... tak ada yang memulai pembicaraan,mereka terdiam seribu bahasa,mereka terlarut dalam pikirannya masing-masing.
Kali ini Zahfran lebih bisa mengontrol perasaannya,ia melangkah maju tanpa ragu,tepat di hadapan Azky ia berdiri. "Selamat siang Azky"
"Siang juga mas." Dengan sangat susah payah Azky berusaha biasa saja,walaupun saat ini jantungnya memompa darah begitu cepat,ia berhasil menjawab sapaan Zahfran dengan lugas tanpa ragu. "Silahkan duduk."
"Aku baru tau kalau kamu juga ada di Jakarta." Zahfran memulai pembicaraan setelah ia duduk di atas kursi berhadapan langsung dengan Azky.
"Siapa yang memberitahu mu?" Tanya Azky sesantai mungkin.
Zahfran tidak menyangka kalau Azky akan bicara sesantai ini dengannya. "Mas Rafa." Jawabnya singkat.
Azky mengernyitkan dahinya "Kenapa harus memberitahu mas Zahfran kalau aku ada di Jakarta?" Batin Azky bergumam.
"Jagan salah faham dulu,aku sudah pindah ke Jakarta beberapa minggu lalu,semua keluarga ku sekarang ada di Jakarta. Aku tidak mengejarmu sejauh itu Azky,semuanya sudah berakhir." Tegas Zahfran.
"Aku tau,aku juga tidak berfikir sejauh itu." Kali ini Azky sangat berani berbicara sambil menatap mata Zahfran.
Zahfran mengangguk. "Aku senang kalau kamu juga sudah melupakan aku."
"Ada apa mas Zahfran menemui ku?" kembali ia bertanya langsung pada intinya.
"Oh iya..aku sampai lupa tujuan utama ku." Zahfran mengeluarkan amplop di dalam jasnya,dan meletakan amplop itu di atas meja. "Ini untuk si kembar."
"Kamu tidak perlu melakukan ini mas,aku masih bisa membiayai mereka,walau tidak semewah hidup kalian."
Zahfran mendengus kesal menatap ke sembarang arah. "Aku tau,dan aku memberikan uang itu untuk keperluan anak-anak,tidak lebih dari itu. Aku harap kamu tidak salah faham."
Terpaska Azky harus menerimanya,karna itu pemberian ayah dari anak-anaknya. tanpa berakata ia meletakan amplop itu ke dalam laci.
__ADS_1
"Oh iya..Siapa yang menjaga anak-anak di rumah?"
"Ada pengasuh."
"Pengasuh?"
Azky mengangguk. "Iya."
"Hati-hati,jangan sampai salah memilih pengasuh."
"Pilihan ku tidak pernah salah."
"Terserah,aku cuma tidak mau mereka kenapa-napa,dan berikan alamat rumah mu,aku mau bertemu dengan anak-anak."
Azky terdiam,Zahfran mengerti raut wajahnya saat ini,mungkin ia ragu memberikan alamat rumahnya.
"Tenang saja,aku akan meminta supir pribadiku untuk menjemput mereka,aku tidak akan datang sendiri ke rumah mu." Tegas Zahfran.
"Baiklah." Azky mengambil kertas lalu ia menuliskan alamat rumahnya saat ini pada Zahfran. "Ini alamat rumah ku mas." ia menyerahkan langsung ke tangannya.
Zahfran mengambil kertas itu dengan santainya. Tanpa basa basi,ia pun pergi meninggalkan Restoran dan kembali ke kantor.
Zahfran sangat yakin kalau istrinya belum mengetahui kalau Azky ada di Jakarta,ia berniat memberitahu Shafiah kalau tadi ia menemui Azky di Restaurannya.
"Sayang.." Zahfran memulai pembicaraan dalam perjalanan menuju Apartemen.
"Iya mas?" Shafiah menatapnya dari samping.
"Apa?" Ia merubah posisi tubuhnya menghadap kemudi.
"Azky ada di Jakarta."
"Jakarta? sejak kapan?"
"Mas Rafa bilang sudah lebih dari dua bulan ini."
"Ko bisa mas Rafa bilang sama kamu mas?"
"Tadi waktu mas mau kirim uang buat anak-anak,mas Rafa bilang kalau Azky ada di Jakarta"
"Oh.." Shafiah membetulkan posisi duduknya seperti semula.
__ADS_1
"Dan tadi... mas Sudah bertemu dia di Restauran tempat ia bekerja."
Shafiah menatap wajah Zahfran sangat lekat. "Mas gak apa-apa?"
Mendengar respon yang seperti itu,ia langsung menoleh menatap Shafiah lalu kembali fokus ke jalan. "Gak apa-apa lah,memangnya kenapa?"
"Gak apa-apa." Jawabnya singkat.
"Oh..iya,kalau Azky kerja,anak-anak sama siapa mas?"
"Dia bilang sama pengasuh."
"Mas.." Panggil Shafiah.
"Hhmm.."
"Kebetulan kita sudah berkumpul di Jakarta,bagaimana kalau kita kenalin si kembar sama Abiyu sama mamah." Ucap Shafiah sambil memegang lengan Zahfran.
"Kamu yakin?"
"Yakin,kenap mesti ragu? mamah sih udah tau kalau kamu punya putri kembar dengan Azky,bukan hal yang sulit mendekatkan mereka. Cuma....Abiyu yang agak sulit."
"Itu dia,aku belum berani membawa si kembar pada Abiyu."
"Itu biar jadi urusan aku,aku punya cara buat deketin mereka. Besok antar aku menemui Azky ya."
"Baiklah.."
Author minta tanda cinta kalian dong...
Jangan lupa selalu tinggalkan like Vote dan komen setelah membaca ya,biar Author tambah semangat. 🙏🙏😘😘
Jangan lupa untuk Follow juga ya.🙏
__ADS_1