Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 13


__ADS_3

"Apa isinya?" tanya Isya penasaran.


Rani menunjukan isi suratnya pada sang Kakak.


Hai..


Matahari ku.


Dari aku yang membutuhkan cahaya mu.


Maharani. Jiwa mu jauh dari ku, tapi wajahmu selalu hadir dalam benak ku, dalam malam ku, dalam mimpi ku.


Maharani. Kenapa waktu berjalan sangat lambat? Bisakah kamu meminta pada tuhan untuk mempercepat waktu? Katakan padanya kalau aku sangat rindu. Minta padanya agar kita bisa bersatu.


Maharani ku. Tunggu aku!


Pesan singkat tanpa nama pengirim. Rani tidak perduli, ia membuang surat itu ke dalam tong sampah, yang entah dari siapa.


Selesai berbelanja, saat mereka berjalan melewati salah satu cafe di dalam mall, Rani melihat Gilang sedang duduk berdua dengan seorang wanita, dan terlihat cukup akrab.


Mereka berjalan melewati Cafe itu, bahkan Gilang sempat melirik ke arah Rani, tapi tidak menegurnya, mereka terilihat seperti orang yang tidak saling kenal. Karna Gilang terlihat cuek saja saat melihat Rani.


Tidak perduli, Rani terus berjalan tanpa memperdulikan keberadaan Gilang, dia bahkan tidak penasaran dengan sosok wanita yang duduk dengannya.


Pasti pacarnya lah. Siapa lagi. Fikirnya.


Waktu terus bergulir. Rani saat ini sudah berusia 16 tahun, dan sudah menyelesaikan pendidikan SMP nya. Saat ini dia sudah menjadi siswa dengan seragam putih abu-abu selama dua bulan terakhir ini.


Kehidupan baru, teman baru, lingkungan baru. Dia begitu menikmati semuanya. Rani yang tergolong anak pintar, cantik, kaya, juga baik, membuat dia menjadi salah satu idola di sekolahnya, dia bahkan banyak memiliki teman, tapi teman yang benar-benar dekat dengannya hanya satu. Yaitu Helena.


Lalu bagaimana dengan Gilang?" anak yang memiliki hobi tauran itu saat ini usianya sudah berada di angka 21 tahun, dan sekarang dia adalah seorang mahasiswa salah satu Universitas ternama kota Jakarta.


Selama lima tahun Gilang tinggal bersama tantenya, dan sekarang sudah saatnya ia pulang ke rumah, kembali berkumpul dengan keluarganya, juga kembali untuk menagih janji dari seorang Asiyah Maharani.


Dia masih saja ingat dengan perjanjian itu, lain hal dengan Rani yang sudah sangat lama melupakannya, bahkan dia sudah menganggap Gilang tidak akan pernah kembali.


"Lo salah. Kalau lo berfikir gue lupa, lo salah besar, Asiya Maharani," Gilang berkata sambil mengintip K


kegiatan si kembar yang saat ini sedang menikmati cemilan ringan di taman, sambil mengobrol berdua.


Gilang yang saat ini sedang berada di atas balkon, mengintip kegiatan mereka berdua melalui teropong demi bisa lebih jelas melihat wajah cantik seorang Asiyah Maharani.


"Cewek gue," gumamnya sambil tersenyum penuh kebanggaan.


Gilang menjauhakan matanya dari teropong, saat Panji datang menghampiri si kembar.


"Ini nih yang bikin gue kesel. Masih aja dia kerja di situ. Sial."


Kembali ia menerawang kegiatan Rani tapi mereka tidak lagi duduk di kursi taman, melainkan sedang berjalan menuju mobil yang terparkir di parkiran utama rumahnya.

__ADS_1


"Sial. Mereka mau pergi."


Gilang melempar teropongnya ke atas sofa, lalu berlari keluar dari kamarnya sambil memakai jaket, menuruni anak tangga dengan berlari sekencang mungkin.


"Gue harus cegah mereka pergi. Cewek gue gak boleh deket-deket sama si Panji," gumamnya.


"Gilang. Mau ke mana?" tanya ibunya saat melihat putranya lari tergesa-gesa.


"Mengejar matahari Mih."


"Matahari?" keninganya mengerut tidak mengerti.


Sangat di sayangkan, kecepatan lari Gilang, tidak secepat Panji membawa si kembar keluar dari rumah. Saat ia membuka gerbang utama, saat itu juga mobil yang membawa si kembar melaju sangat cepat.


"Sial," Gilang mendengus kesal. Tidak sampai di situ, dia bergegas masuk ke dalam rumah, mengambil kunci mobil, lalu menyusul mereka yang entah akan pergi ke mana.


Panji melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jelas itu memudahkan Gilang membuntutinya dari belakang.


"A. Aa udah dapet universitas yang pas?" tanya Rani yang saat ini duduk di jok penumpang dengan Aisyah.


"Belum Non," jawabnya singkat.


"Non lagi. Aku gak mau di panggil Non terus," kata Rani melayangkan protes.


"Tau iihh Aa. Manggil kita non terus. kita bertiga kan bertemen," kali ini Aisyah yang menyahuti.


"Gak bisa Non, nanti saya kena marah bapak."


Panji tersenyum, dan itu terlihat dari spion kecil yang menggantung. Rani pun menggelengkan kepalanya, "Terserah Aa aja deh," ucapnya kembali bersandar.


Mobil mereka memasuki area parkiran sebuah Mall mewah. Begitu pun dengan mobil Gilang yang terus mengikuti mereka. saat Rani keluar dari mobil bersama Aisyah, Gilang buru-buru melepas setbelnya lalu berlari menghampiri Rani yang jalan di depan Panji bersama Aisyah.


"Hai.."


"Ka- Gilang?"


Kehadiran Gilang yang tiba-tiba, membuat Rani dan Aisyah sangat terkejut, dengan sigapnya Panji yang tadinya berada di belakang mereka pun bergebas melangkah maju berusaha melindungi si kembar dari Gilang, yang menurutnya berbahaya.


"Lo lagi," ucap Gilang memutar bola matanya malas.


"Ngapain lo di sini?" tanya Panji dengan sorot mata tajam.


"Heh.. tukang kebun. Lo fikir mall ini milik nenek moyang lo? gue bebas ad di mana aja."


"Gue gak perduli lo ada di mana aja, yang pasti jangan pernah datang buat ganggu kenyamanan Non Rani sama Non Isya."


"Non? lo manggil dia Non? bagus," ucapnya sambil menepuk bahu Panji. Lalu panji langsung mengibaskan tangan Gilang dari bahunya.


"Santai bro.."

__ADS_1


"A. Udah jangan layanin dia. Dia itu cowok aneh," kata Rani. Gilang pun tersenyum.


"Ih.. gue baru denger lagi suara lo. Kangen deh," kata Gilang dengan senyum semeringah.


"Jaga omongan lo Gilang," sela Panji kesal.


"Heh. Yang mesti lo jaga itu sikap lo. Lo gak berhak ngalangin gue buat ketemu sama cewek gue."


"Kalau ngomong itu di saring dulu kak," kali ini Isya yang menyahuti, menatap tidak suka.


"Lo lupa sama perjanjian gue sama Rani?" tanya Gilang pada Aisyah. Aisyah pun terdiam. Bukan tidak ingat, mereka cenderung tidak ingin mengingatnya, terlebih Rani.


"Gue sih gak lupa, inget terus malah," kata Gilang dengan entengnya.


Panji semakin kesal, lalu meminta Rani dan Aisyah pergi meninggalakan Gilang. Baru beberapa langkah hendak pergi, dengan penuh keberanian Gilang menarik tangan Rani dan hampir jatuh ke dalam pelukannya.


"Kakak apa-apan sih?" ucap Rani dengan emosi.


Panji yang melihatnya pun semakin geram, saat akan menyerang Gilang, Aisyah menahan tangan Panji untuk membiarkan Rani bicara dengan Gilang sebentar saja.


"Yang penting kita tetap di sini A. Ngawasin gerak gerik Gilang," kata Isya.


Akhirnya Panji bisa mengontrol emosinya, setelah mendapatkan perintah dari Aisyah, lalu ia pun diam, membiarkan Rani bicara dengan Gilang.


"Lepasin tangan aku Kak!" pintanya dengan menatap tajam.


"Ok." Gilang melepaskan tangan Rani dengan mengangkat tangannya ke udara.


"Kakak mau apa sih? berhenti ganggu aku kak."


"Gue gak ganggu lo Rani. Gue cuma mau nagih janji lo. Janji yang lo bilang bersedia jadi cewek gue kalau lo udah kelas satu SMA."


"Itu janji yang Kakak buat."


"Tapi lo menyanggupinya."


"Terpaksa. Dan aku udah anggap itu sebagai lelucon."


"Tapi nggak dengan gue Ran. Gue serius. Gue ikutin semua kemauan lo, gue berhenti tauran demi lo, Rani."


"Aku gak cinta sama Kakak."


"Kasih gue waktu buat lo jatuh cinta sama gue,"


"Gak bisa Kak."


"Satu bulan. Kalau dalam waktu satu bulan lo gak bisa cinta sama gue, gue janji bakal lepasin lo tanpa ragu."


"Gimana?"

__ADS_1


Sedih 😭 yang komen sama like nya makin dikit 😭😭.


Ayo dong..buat Author semangat 😭🤭🙏


__ADS_2