
"Kita satu kamar?" tanya Aisyah.
"Gue belum siap masuk ke kamar itu, terlalu banyak kenangan mengenai Maharani."
Aisyah masih diam mematung, matanya terus mengikuti kemana Gilang melangkahkan kaki. Dia mendudukan diri di atas sofa, bersandar seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Rani, kamu benar-benar membuat aku gila, kamu wanita kejam, tidak memiliki hati, bukankah seharusnya aku membencimu?"
"Dia adikku, Kak," sambar Aisyah. Bagaimana pun Rani adalah adik kembarnya yang akan selalu Aisyah bela walaupun dia sendiri harus mengorbankan dirinya dengan menikahi pria yang tidak ia cintai.
Selamanya? mungkin akan selamanya Aisyah tidak akan mencintai Gilang, karena pria itu begitu bodohnya masih mencintai wanita yang dengan terang-terangan tidak mencintainya.
Sedetik kemudian ia teringat dengan suara sang mertua yang memohon kepadanya untuk membantu Gilang melupakan Maharani.
"Apa yang harus aku lakukan? sedikitpun aku tidak mencintai dirinya." Aisyah membatin berdiri di belakang sofa tempat Gilang duduk bersandar.
"Kenapa bengong?" tanya Gilang membuyarkan pikiran Aisyah.
"Kenapa, Kak?"
Gilang merubah posisi duduknya menyamping, menoleh ke arah sang istri yang masih diam mematung di belakangnya. "Kenapa bengong?" Pria itu mengulang pertanyaan yang sama.
Aisyah tergugup. "N-nggak apa-apa."
Ia melihat dari jendela, rumahnya terlihat jelas dari sana, tetapi tidak tahu sedang apa mereka. Aisyah masih berdiri, air mata jatuh begitu saja tanpa permisi.
"Isya..?" panggil Gilang.
Sesak. Ia menatap wajah Gilang tanpa menjawab, tetapi air mata terus mengalir. Gilang menatap ke arah jendela, ia tahu apa yang membuat Aisyah menangis.
__ADS_1
"Lo mau pulang?" tanya Gilang lagi.
Aisyah mengangguk.
"Gue sebenernya nggak mau nahan lo di sini, cuma kan lo tau sendiri gimana tadi Mommy ngotot supaya lo pulang ke sini," tutur Gilang seraya mengingatkan.
Aisyah hanya menghela nafas dalam, coba menenangkan diri untuk tidak lemah, apa lagi menangis di depan Gilang.
"Bukan masalah juga kan? aku bisa bertemu umi, abi, ayah, bunda kapan aja? nanti malam aku mau bertemu mereka," batin Aisyah terus bergumam.
Kediaman Fatih.
"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengambil keputusan setuju atau tidak, Maharani. Kamu baru saja mematahkan hati seseorang, setidaknya selesaikan dulu masalah kamu dengan Gilang, jangan sampai kamu menimbulkan masalah baru kedepannya." Fatih coba menasihati putrinya selembut mungkin agar tidak menyinggung perasaan dirinya, Panji, juga Pak Broto yang ada di sana.
"Non, tolong jangan bahas masalah ini sekarang, tunggu keadaan tenang dulu." ujar Panji berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Maharani, tetapi Rani malah mengeratkan genggamannya.
"Nak, lepaskan tangan Panji," titah Azky seraya meraih satu tangannya.
__ADS_1
"Aku nggak mau, jangan pisahkan aku dari A Panji, Umi," ucapnya dengan suara bergetar.
"Nggak, Sayang. Nggak mungkin kan kamu pegang tangan Panji terus?"
"Aku takut kalian mengusir A Panji," lirihnya dengan mata berkaca.
"Lepaskan tangan Panji." tegas Zahfran, membuat Maharani sedikit ketakutan.
"Aku mencintai dia, Ayah. Jangan pisahkan aku dari A Panji!" lirihnya dengan tangis terisak.
"Ayah tidak akan memisahkan kalian, tapi sekarang lepaskan tangan pria itu, pergi ke kamar bersama bunda."
"Ayo, Nak!" Shafiah mengulurkan tangannya, Rani menoleh ke belakang, bicara dengan Panji sebelum pergi ke kamarnya dengan Shafiah.
__ADS_1
"Berjanjilah kepadaku kalau Aa nggak akan ke mana-mana."