
Ia terus tersenyum menatap ke depan, tapi tidak berani mendekat, ia terlalu malu untuk bersanding di samping Adlan, terlebih di sana ada pak Herlambang juga bu Melisa yang terus tersenyum menatap ke arahnya.
Karna Kiran terus diam, sekalipun Adlan sudah melambaikan tangan juga memanggil namanya, tetap dia menggelengkan kepala tak mau beranjak dari sana. Dia terlalu malu, tidak memiliki keberanian dengan status keluarga Adlan yang baru ia ketahui kalau orangtuanya begitu memiliki kekuasaan besar di beberapa perusahaan di Jakarta, juga di Sidney tempat mereka tinggal.
"Ajak ke sini cewek kamu," kata bu Melisa pada putranya.
"Dia pemalu mah," saut Adlan.
Bu Melisa terus menatap ke depan, melihat senyum Kiran begitu manis.
"Lucu ya. cantik lagi."
"Siapa dulu yang punya," kata Adlan dengan bangganya.
"Iya, iya. Udah cepetan ajak ke sini, biar semua orang tau kalau itu calon istri kamu," timpal pak Herlambang sedikit menyenggol bahu putranya.
Adlanpun berjalan perlahan menghampiri Kiran dengan senyum semeringah. Ia terus menatap ke depan, sedang Kiran terus menunduk malu tatkala dirinya menjadi pusat perhatian semua karyawan yang hadir.
Tepat di hadapan Kiran, ia berdiri sambil mengulurkan satu tangannya ke depan, dan kali ini Kiran memberanikan diri meraih uluran tangan Adlan lalu menautkan jari jemarinya cukup erat.
"Iih.. mukanya merah. Malu ya?" kata Adlan meledek, membuat Kiran semakin tersipu malu dan semakin menundukan pandangannya.
"Ko liatnya ke bawah terus sih? uangnya jatuh?"
"Iih.. Om. Aku malu tau," memukul dada bidang Adlan sangat mesra, membuat Adlan semakin terkekeh di buatnya.
"Udah ah, ayo ikut Om nemuin papah sama mamah."
Kiran kembali menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Lalu sangat Mesra Adlan menggandeng tangan Kiran, menghampiri dan memperkenalkan sosok kekasihnya pada orangtuanya.
"Jadi gadis 19 tahun ini yang berhasil membuat seorang Adlan jatuh hati?" kata pak Herlambang sambil mengusap bahu Kiran sangat lembut.
Bu Melisa yang juga ada di sana, terpesona melihat kecantikan Kiran yang terkesan natural, juga sikap lembutnya membuat bu Melisa langsung memeluknya erat.
"Terima kasih sudah mau mencintai putra tante. Adlan jarang memperkenalkan wanita sama orangtuanya setelah belasan tahun yang lalu," saut bu Melisa menerangkan, betapa putranya sangat serius ingin menikahinya.
"Kiran tulus mencintai Om Adlan, Tante."
Bu Melisa melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Kiran sangat lekat. Ini bukan waktu mereka berbicara, saat ini waktunya pak Herlambang membuat pengumuman perihal pernikahan putranya.
Kiran di arahkan berdiri di samping bu Melisan, sedang Adlan berdiri di samping bu Melisa sambil merangkul, sedang pak Herlambang kembali melanjutkan pengumuman pada semua karyawan.
__ADS_1
"Pernikahan mereka akan berlangsung minggu depan. Dan mulai hari ini, Kiran bukan lagi sebagai pegawai, melainkan calon nyonya muda di tengah keluarga besar kami," kata pak Herlambang dengan bangganya.
Semua bersorak gembira, bertepuk tangan sangat meriah dengan pengumuman yang sudah di sampaikan,
Setelah berakhirnya pertemuan tadi, pak Herlambang dan bu Melisa membawa Kiran ke rumah Zahfran, untuk sekedar berbincang mengakrabkan diri dengan calon menantunya di sana, yang kebetulan juga mau bertemu cucu-cucunya di sana, juga Kayla cicit satu-satunya.
Mereka baru di pertemukan 2 jam yang lalu, perasaan canggung masih menyelimuti keduanya, walaupun canggung, bu Melisa terus menggandeng tangan Kiran masuk ke dalam apartemen Zahfran, setelah Zahfran sendiri yang membuka pintu.
"Papah ko gak bilang kalau mau datang? aku kan bisa jemput di bandara tadi," kata Zahfran mengikuti langkah pak Herlambang masuk ke dalam, lalu duduk di sofa ruang keluarga.
"Papah kan datang sama Adlan. Gak perlu lah pake di jemput segala," saut pak Herlambang, sambil melonggarkan dasinya, sedang Kiran terus duduk di samping bu Melisa, bersebelahan juga dengan Adlan yang tak mau jauh-jauh dari calon istri.
Udah lama terpisah soalnya, dia gak mau terpisah lagi.
Kehadiran Kiran ke rumahnya, cukup membuat ia khawatir dengan sikap Abiyu yang sepertinya masih kurang setuju dengan pernikahan Om nya.
"Tunggu sebentar ya pah. Aku panggil Shafiah dulu," kata Zahfran sambil berlalu pergi naik ke lantai atas untuk memanggil Shafiah juga putrinya untuk menemui mereka.
"Kakek, Nenek," Audy langsung berlari menuruni anak tangga saat tau kalau kakek neneknya datang.
Pak Herlambang yang mendengar teriakan cucunya langsung berdiri mengulutkan tangan, lalu menggendong Audy seraya mencium pipinya berkali-kali karna rindu.
"Kangen gak sama Nenek?" kata bu Melisa.
"Kangen dong," saut Audy tanpa berniat turun dari gendongan sang kakek.
Tak lama Kayla juga keluar dari kamar, berlari menghampiri mereka merengek mau di gendong seperti Audy, namun karna Audy kekeh tidak mau mengalah, sedikit terjadi keributan di sana berebut di gendong kakeknya.
Beruntung di sana ada Kiran, berhasil membujuk Kayla berhenti merengek, dan membawa Kayla duduk di atas pangkuannya, lalu di berhenti merajuk.
"Selain cantik, kamu pinter nenangin anak kecil ya, Ran? hebat," kata bu Melis terkagum.
"Dulu kan aku pengasuh Kayla, Tante."
"Pantesan, Kayla udah gak canggung lagi duduk di atas pangkuan kamu."
Kiran meresponnya dengan senyum, menatap lekat wajah Kayla.
"Kenapa Kay?" tanya Kiran mengalihkan pembicaraan, berusaha menutupi kegugupannya di depan calon mertua, juga semua orang yang hadir di sana kecuali Abiyu.
Entah dia bersembuyi di mana, di sana, di ruang keluarga, cuma ada Shafiah, Zahfran juga anak-anak yang ikut berkumpul bersama pak Herlambang juga bu Melisa, yang mana mereka juga ingin melepas rindu dengan cucu-cucunya.
__ADS_1
"Tante mau menikah sama Om Adlan?" tanya Kayla dengan polosnya, membuat Kisya yang baru saja bergabung memilih diam tanpa menyapa.
Kiran mengangguk, sambil tersenyum, membenarkan ucapan gadis berusia 4 tahun yang saat ini berada di atas pangkuannya.
"Tunggu-tunggu. Tadi Kayla manggil Om Adlan apa?"
"Om," jawabnya sangat cepat.
"Loh..itu bukanya kakek Kayla ya?" ucapnya mengejek.
"Hhmm.. gak tau. Kayla suruh panggil Om."
"Enak aja aku kakek. Nikah aja belum. masa di panggil kakek," kata Adlan melayangkan protes, dan semua orang yang ada di sana tertawa, kecuali Abiyu yang enggan untuk bergabung. Dia memilih duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya dan malah meminta Kisya duduk di sebelahnya, sambil berpegangan tangan di depan semua orang.
Pak Herlambang yang melihat Abiyu tidak mau jauh dari sang istri, kembali jadi bulan-bulanan sang kakek juga Zahfran. Mereka tertawa lepas bersama.
Ha..ha..ha..!!!
Sehari akan aku UP dua bab tapi dengan satu syarat tertentu ya.
Selalu meninggalkan jejak di setiap episodnya.
LIKE
KOMEN
Jangan sampai ketinggalan.
Semakin banyak jejak.
Semakin cepat Author UP lagi.
Terimakasih.
__ADS_1