Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 19


__ADS_3

Kamera drone yang dikendalikan oleh Gilang di atap rumahnya, menghampiri Rani membawa coklat yang sengaja Gilang ikat dengan tali dan kamera mengarah langsung ke wajah cantik Rani.


"Coklat, Ran," kata Aisyah.


Belum sempat diambil, ponselnya berdering. Rani tau kalau itu pasti dari gilang. Ia mengambil ponsel dari saku celananya, lalu menganggakat panggilan dari Gilang.


"Cepetan ambil! nanti drone nya gak kuat."


Tanpa menjawab, Rani melepas ikatan itu untuk mengambil coklatnya.


"Udah." kata Rani.


"Senyum dong!" titah Gilang yang terus menatap wajah Rani di balik layar monitor yang terhubung dengan camera dron.


Rani pun tersenyum. "Konyol iiih.."


"Makasi ya, Ran. Sekarang gue bisa tidur nyenyak. Malam, Sayang..."


"Kak.."


Gilang langsung menutup teleponnya, menerbangkan camera drone nya kembali.


Pagi Hari. Rani bersama Kakaknya Aisyah sudah menunggu Panji di dalam mobil hendak berangkat sekolah. Namun yang datang bukanlah Panji melainkan Ayah Panji yaitu Pak Broto.


"Aa kemana, Pak?" tanya Rani.


"Panji lagi siap-siap, Non," saut Pak Broto sambil memasang setbel.


"Siap-siap kemana?" Rani kembali bertanya penasaran.


"Mau ke kantor desa, minta surat keterangan tidak mampu."


Pak Broto menghidupkan mesin mobil, melajuknnya secara perlahan keluar dari garasi.


"Emangnya buat apa surat keterangan tidak mampu?" kali ini Aisyah yang bertanya.


"Permintaan dari universitas sebagai persyaratan supaya dapet beasiswa dari pemerintah."


"Oh." Mereka mengangguk bersamaan.


Pintu gerbang secara otomatis terbuka, Pak Broto melajukan mobilnya perlahan keluar dari gerbang utama, dan berhenti saat seseorang menghalangi jalan mereka.

__ADS_1


"Kenapa berhenti, Pak?" tanya Aisyah.


"Ada Den Gilang di depan, Non."


Gilang berlari menghampiri mobil, mengetuk kaca sisi sebelah Kiri.


"Hai." kata Gilang melambaikan tangan pada mereka berdua.


"Hai, Kak Gilang."


Aisyah menyahuti sapaan Gilang ramah, berbeda dengan Rani terus menatap ke depan karena malu.


"Ada apa, Kak?" tanya Aisyah. Karena Rani malah terus diam.


"Biasa adek lo, kangen," selorohnya membuat Rani semakin memalingkan wajah karena malu.


"Tuh yang dikangenin ada," ledek Aisyah. Gilang tersenyum.


"Ntar pulang sekolah gue jemput."


"Gak usah, ada Pak Broto," tolak Rani.


"Pak Broto. Nanti saya yang jemput Rani ya, Pak." pinta Gilang meminta izin.


Rani menoleh ke arah Gilang lalu tersenyum.


"Emang enak?" ledek Rani.


"Gak berani ya minta izin sama umi?" lanjut Aisyah meledek.


"Kata siapa gak berani? gue berani ko."


"Kita liat aja," kata Rani.


"Ayo, Pak. Jalan."


Perlahan Pak Broto kembali melajukan mobilnya meninggalkan Gilang dalam kebingungan.


"Sial. Alesan apa lagi nih gue?" Ucapnya menatap kedepan mencari ide agar bisa menjemput Rani siang nanti.


Panji saat ini tengah disibukkan mengurus berkas-berkas akan masuk perguruan tinggi milik pemerintah, salah satunya yaitu harus memiliki surat keterangan tidak mampu untuk mendapatkan keringanan biaya dari pemerintah.

__ADS_1


Cara berfikir Panji cukup dewasa, dia ingin memperbaiki kehidupannya saat ini, dia ingin mengangkat derajat sang ayah dengan tidak menjadi supir pribadi saat ia tua nanti, dia berharap bisa membahagiakan sang ayah dengan kehidupan yang jauh lebih baik lagi.


Semua langkah yang Panji ambil, sudah pasti ada campur tangan keluarga Fatih, hanya saja tidak semua jenis bantuan ia terima, terutama masalah Biaya. Panji terlalu malu keluarga Fatih banyak membantu dirinya, hingga ia bertekad akan sukses seperti yang Fatih dan ayahnya harapkan.


Masalah Rani? Panji memilih berusaha tidak lagi ingun mencampuri urusan pribadi putri dari majikannya itu. Dia hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya, menjaga Rani dengan Aisyah sebagai pengawal dan mulai membatasi diri berinteraksi dengan mereka terutama Rani.


Siang ini, Gilang berhasil menjemput Rani yang entah dengan cara apa sampai Azky memberikan izin kepada Gilang.


Biasanya Gilang menurunkan Rani di depan pintu gerbang utama, tetapi tidak untuk hari ini. Gilang memasukkan mobilnya masuk ke dalam, menurunkan Rani di depan pintu masuk utama.


Terlihat Rani keluar dari mobil Gilang dengan senyum semeringah, ia melambaikan tangan saat mobil Gilang melaju keluar dari rumahnya.


Senyum itu masih terlihat sangat jelas oleh Panji. Panji yang saat ini sedang memotong rumput, berpura-pura tidak melihat Rani ia terus dengan aktivitasnya, tanpa tau kalau Rani saat ini sudah berdiri di belakang Panji.


"Aa," panggil Rani dengan menepuk bahu Panji.


"Astagfirullah, Non. Ngagetin aja," ucapnya seraya mengusap dada terkejut.


"Serius banget sih, A."


"Serius lah, Non. Saya kan lagi kerja."


"Non lagi, non lagi. Gak suka ah," protes Rani. Ia pun mendudukan diri di kursi taman, sedang Panji yang memang sedang memotong rumput, jongkok di depan Rani.


"Kan memang harus gitu kalau manggil."


"Aku gak suka, A. Kita ini udah lama berteman, masa manggilnya masih kayak gitu sih? Aa mau membatasi hubungan kita?" seru Rani kesal.


Dari awal mengenal Panji, Rani selalu melarang Panji memanggilnya dengan pangilan Non, tapi Panji selalu memanggilnya seperti itu.


"Memangnya kita punya hubungan apa, Non?" kata Panji tiba-tiba.


Kening Rani mengerut. "Emangnya selama ini Aa anggap aku apa?"


"Anak dari majikan, gak lebih dari itu," jawab Panji cepat.


"Jahat banget sih, A."



__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu like komen setelah membaca. Biar semangat UP lagi. 🥰🙏


__ADS_2