
"Tetaplah di sini sama gue! bantu gue lupain adek loe, karna mulai sekarang gue juga akan belajar mencintai loe, Isya."
Aisyah terpaksa menuruti permintaan Gilang yang memintanya untuk berbaring di atas ranjang bersama dia.
Gilang memeluk tubuh Aisyah dari belakang, karena Isya tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah Gilang dari dekat.
"Andai aja Kak Gilang berkata seperti ini dalam keadaan sadar. Sayang saat ini Kakak dalam keadaan mabuk, Kakak tidak mengucapkannya dengan sungguh-sungguh," pikir Aisyah.
"Lo mau kan belajar mencintai gue? lo mau kan bantu gue lupain Rani?"
Aisyah mengangguk tanpa berkata, toh besok juga dia akan melupakan dengan apa yang sudah ia katakan. Begitulah pemikiran Aisyah.
Karena pengaruh alkohol, akhirnya Gilang pun tertidur sambil memeluk Aisyah.Tidak ada yang bisa Aisyah lakukan saat ini hanyalah diam, lalu sama-sama tidur.
Di tempat lain, dia yang sedang berbahagia saat ini tengah berbincang di taman membicarakan perihal pernikahan mereka yang akan segera di laksanakan beberapa hari ini, sudah memantapkan pilihan dan akan menerima konsekuensi ke depannya akan seperti apa tanpa bantuan materi dari pihak mana pun termasuk materi dari Azky, Fatih, maupun Zahfran.
Ragu?
Tidak. Panji hanya bekerja sebagai kepala lebersihan di perusahaan Fatih, dengan gaji yang ia terima sebesar tujuh juta setiap bulannya.
Mungkin cukup, tetapi tidak bisa memanjakan Rani seperti Gilang, atau kedua orang tuanya yang selalu bisa memberikan apa yang Rani mau.
"Kamu nggak keberatan?" tanya Panji yang saat ini duduk bersama Rani menatapnya dari samping.
Rani duduk menyamping, mengangguk sambil tersenyum, begitupun Panji ikut tersenyum.
"Asal Kamu selalu ada di sampingku, aku nggak masalah, A.
"Terima kasih, Ran."
"Setelah kita menikah, nggak apa-apa kan kalau kita ngontrak dulu?" tanyanya lagi.
"Nggak apa-apa, A. Nanti kalau ngontrak, cari kontrakan deket kantor abi aja."
"Iya, biar nggak usah naik kendaraan lagi, setidaknya satu kali naik angkot lah."
Mereka terus berbincang membicarakan persiapan apa saja yang harus dia siapkan sekarang, sebelum tanggal akad nikah ditetapkan.
"Tidak akan ada yang memberikan bantuan berupa materi untuk Panji, dia harus berusaha sendiri untuk membahagiakan Rani."
Perintah pak Burhan tadi cukup mengganggu pikiran Azky yang terus memikirkan nasib Rani kedepannya akan seperti apa tanpa bantuan mereka, sedangkan Panji hanya bekerja sebagai kepala kebersihan.
Bukan ragu, tidak ada satu orang tua manapun yang bisa tenang kalau sampai melihat putri tercinta mereka kalau harus hidup dalam kesusahan.
Bukan hanya Azky, Fatih pun memikirkan hal itu, dan itu pun berlaku untuk Aisyah. Namun, karena Aisyah menikah dengan seorang pria pemilik perusahaan batu bara, tidak membuat Azky khawatir.
Fatih coba menenangkan Azky, ia memeluk sang istri dari belakang, sambil berdiri di atas balkon, melihat ke bawah, di mana Rani sedang bersama Panji di taman.
__ADS_1
"Panji pria bertanggung jawab, Azky. Dia pasti akan sangat menjaga putri kita," ucapnya coba membuat sang istri untuk tenang.
"Aku tau, Mas. Semoga aja kedepannya tidak terjadi masalah apapun diantara mereka," ujar Azky."
"Iya, Sayang." Ia mencium puncak rambut Azky penuh cinta.
Bukan hanya Azky, Zahfran pun memikirkan hal yang sama dengan Azky, akan kelangsungan hidup putrinya tanpa bantuan materi dari mereka.
Ia terus melamun sambil melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju kediaman mereka setelah beberapa hari tinggal di rumah Azky, Shafiah yang saat ini duduk di samping Zahfran terus menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.
"Sayang..." panggil Zahfran karena sang istri terus melamun setelah perdebatan tadi.
Shafiah hanya menoleh tanpa berkata.
"Katakan sesuatu, kenapa diam terus?" tanya Zahfran kebingungan dengan sikap sang istri yang mendadak menjadi dingin setelah perdebatannya dengan Azky.
"Aku nggak apa-apa, Mas," jawab Shafiah.
"Nggak apa-apa gimana? kamu diem terus ko."
Dejenak ia terdiam, lalu kembali membuka suara. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Kamu masih mencintai Azky?"
Zahfran terdiam.
"Aku nggak mau jawab."
"Berarti Mas masih mencintai Azky."
"Shafiah!" suara Zahfran membentak.
"Kalau begitu jawblah, apa susahnya."
"Itu pertanyaan konyol yang kamu sendiri pun sudah tau apa jawabannya," ucapnya tetap fokus ke depan dengan lalu lintas yang cukup padat.
"Aku merasa Mas masih mencintai Azky, itu juga jawaban kamu?"
"Shafiah cukup! semua sudah berakhir."
"Tapi perasaan kamu belum berakhir," tegas Shafiah.
"Shafiah!" suara Zahfran membentak, Shafiah tersenyum sinis menatap ke luar, dan memilih mengakhiri percakapan yang malah semakin memanas, beruntung saat ini Audy sedang tidur di jok belakang, sehingga pertengkaran mereka tidak diketahui putrinya.
Cukup lama tertidur bersama dengan Aisyah, Gilang terkejut saat membuka mata, dia sedang memeluk Aisyah. Namun, saat melihat wajahnya, ia terkejut melihat Rani ada dalam pelukannya.
__ADS_1
"Rani?"
Ia terbangun mendengar Gilang memanggil nama Rani.
"Kakak udah bangun?" tanyanya.
"Bagaimana kamu ada di sini, Rani?" tanya Gilang setelah beranjak dari tempat tidur.
"Rani?" keningnya mengerut. "Aku Aisyah, Kak."
"Ya Tuhan, loe kayak Rani, Isya."
"Kita kan kembar."
Aisyah meraih kerudung yang tanpa sadar ia buka saat tidur, dan kini dia kembali memakainya lagi.
"Mangkannya jangan terlalu banyak minum, jadi ngelantur kan ngomongnya."
"Sorry deh."
"Lagian, kenapa sampai aku buka kerudung sih?" menggerutu dalam hati, seraya mengambil handuk di dalam lemari.
"Mau ke mana?" tanya Gilang terus menatap, mengikuti langkah kaki Aisyah yang saat ini sudah berada di ambang pintu kamar mandi.
"Mau mandi, mau sholat, kenapa?"
Gilang menggelengkan kepalanya. "Nggak."
"Aah, iya aku lupa, Kakak kan nggak pernah sholat ya!" tuduh Aisyah.
Gilang langsung melayangkan protes. "Enak aja."
"Emang iya ko. Selama aku tinggal di sini, aku nggak pernah liat Kakak sholat," ungkap Aisyah.
"Lagian, kalu orang sholat itu nggak akan mabuk, dia tau dosa."
"Gue mabuk ada alasannya."
"Kakak kebanyakan alasan, udah ah, nanti asar aku keburu habis waktunya." Dia terus masuk ke dalam, sedang Gilang diam mematung memikirkan apa yang Aisyah katakan.
"Iya, gue semakin jauh dari agama, boro-boro inget sholat, suara adzan aja gue suka kelewat. Ya Tuhan, malu banget gue," batin Gilang.
Gilang duduk di atas sofa, tidak lama Aisyah pun keluar dari kamar mandi sudah berpakain rapih, lalau Gilang menghampiri Aisyah.
"Kenapa?" tanya Aisyah terheran karena Gilang terus mengekor dari belakang.
Malu, tapi ia merasa tidak ada salahnya mengatakan apa yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
"Kenapa sih, Kak?" tanyanya lagi, Gilang terus mengekor bahkan sampai ia sudah memakai mukena, berdiri di atas sajadah.
"Ajarin gue sholat, dong!"