Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 27


__ADS_3

Maaf baru bisa UP, setelah kemaren-kemaren sibuk di dunia nyata.


Mudah-mudahan masih pada suka.


Happy reading.


Lelah bertengkar, Abiyu memilih masuk ke dalam kamar, terus melihat wajah Kisya, membuat emosinya terus memuncak, apa lagi mengingat kejadian tadi waktu di Caffe. "Keterlaluan kamu Kisya." Membanting Jaket ke atas tempat tidur, ia mengacak rambutnya frustasi. "Aaa..."


Tak lama Kisya masuk ke dalam, tapi masih berdiri di depan pintu. Ia melihat Abiyu sedang berkacak pinggang melihat ke arahnya.


"Kenapa? Gak boleh aku masuk?" Selorohnya sambil menatap sinis.


Abiyu menggelengkan kepalanya tidak perdui,lalu masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri, sekaligus menghindar dari sang istri.


Cukup lama ia berendam, membersihkan diri di bawah guyuran air shower,ia pun keluar dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Ia melihat Kisya sudah berbaring di atas tempat tidur,membenamkan tubuhnya di bawah selimut tebal. "Tidur." Ujarnya. Lalu ia mengambil baju di dalam lemari, memilih piyama berwarna hitam, karna sesuai dengan suasana hatinya saat ini.


Selesai mengenakan Piyamanya, bukannya berbaring di samping sang istri,a malah mengambil satu bantal dan memilih tidur di luar.


"Jglek.."


Kisya masih mendengar suara Abiyu membuka hendel pintu, bahkan saat Abiyu membuka lemari baju pun ia tahu. Ia membuka selimutnya, lalu melempar guling ke arah pintu. "Dasar egois." Brug.. Kembali Kisya berkulum di bawah selimut, masih dengan perasaan kesal.



Pagi Hari, Shafiah selalu bangun lebih awal dari penghuni rumah lainnya, ia melihat Abiyu berbaring di atas sofa sambil meringkuk terbalut selimut. "Ya ampun Abiyu... Kenapa tidur di luar?" Shafiah cuma bisa geleng-geleng kepala melihatnya.



Sambil menunggu adzan subuh berkumandang, ia pergi ke dapur untuk memasak nasi, dan membawa segelas air ke dalam kamarnya.



Tak lama suara adzan pun berkumandang, ia membangunkan Zahfan untuk melaksanakan solat subuh. "Mas.." sedikit mengguncang bahunya, lembut. "Bangun.."



Zahfran menggeliat, berusaha membuka matanya lebar-lebar karna rasa kantung yang teramat, membuat ia malas-malasan dan malah tidur di atas pangkuan istrinya. "Sayang.."



"Udah subuh mas. Ayo bangun. Kita berjamaah." mengusap rambutnya. Lembut.



"Baru adzan kan?" Bukanya bangun, dia malah membenamkan wajahnya di perut Shafiah.



"Iya,cepetan kamu mandi." Menurunkan kepala Zahfran dari pangkuannya. Ia pun berdiri, tapi dalam hitungan persekian detik, Zahfran meraih tangan Shafiah sampai ia terjatuh ke dalam pelukannya.



"Mau ke mana?"



"Wudhu lah. Lepasin mas." Menggerakan bahunya agar terlepas.



"Sebentar yuk.." Bisiknya di telinga Shafiah.



"Apanya yang sebentar?" Ia mengernyit



"Maen.." Jawabnya tanpa malu.



"Ya ampun mas, subuh, bukan maen-maenan." Protesnya, karna memang suara adzan sudah berkumandang.


__ADS_1


"Lagian aku udah mandi, masa mandi lagi?"



"Gak apa-apa lah, air banyak ini." Kata Zahfran sambil menurunkan relsleting baju istrinya.



"Mas.." Shafiah mencoba menahan tangan Zahfran yang mulai jahil di dalam sana.



"Apa sih..?" Tangan kekar Zahfran terus menelusuri kulit mulus sang ustri, nan kenyal.



"Aku mau.." Belum selesai bicara, Zahfran langsung menyumpal mulut Shafiah dengan bibirnya, dan terkabul lah permintaan Zahfran pagi ini.



"Pemaksaan." ujarnya.



Pukul 05.20 Shafiah keluar dari kamarnya, dengan rambut terurai basah karna ini mandi pagi yang kedua kalinya, ia melihat Abiyu sedang melipat selimut yang ia pakai semalam. "Abiy.." Panggilnya dari belakang.


Abiyu pun menoleh. "Bun.. tumben baru bangun." Ia berganti posisi berdiri, hingga mereka saling berhadapan.


"Bunda bangun dari tadi ko."


"Malah tidur di luar sih? Gak baik tau tidur kepisah gitu."


"Biarin lah Bun,aku masih kesel." Masih melipat selimut.


"Jangan gitu dong Biy, marahnya jangan lama-lama."


"Biarin Bun, biar dia tau kalau aku beneran marah." Menautkan selimut ke lengannya.


Kebetulan Kiran baru keluar dari kamar, lalu Abiyu memanggilnya. "Ran.."


"Taro di kamar kamu deh." Titahnya pada Kiran sambil menyodorkan bantal dan selimut yang ia lipat tadi.


"Iya kak.." Kiran mengambil bantal, selimut itu dari tangan Abiyu,lalu menyimpan ke dalam kamarnya.


"Makasi ya bun selimutnya, bunda tau aja kalau aku kedinginan." Kata Abiyu cengengesan.


"Dasar, lagian siapa juga yang kasih kamu selimut? GR."


"Bunda gak ngasih aku selimut?"


"Nggak."


Kening Abiyu mengerut. "Kalau bukan bunda,siapa dong?"


"hhmm..." Shafiah menaik turunkan bahunya, menandakan tidak tahu.


"Ah... Pasti Kisya, dia pasti gak tega liat aku kedinginan." Kata Abiyu dengan tersenyum ketir.


"Tuh..Kisya aja udah ngalah, sekarang giliran kamu dong yang ngalah."


"Biarin ah Bun, biar dia tau rasa dulu, sampai dia bisa tegas memilih, aku atau tetap pergi ke Pakistan dengan egonya."


"Jangan main-main dengan kata cerai Abiyu, nanti kamu sendiri yang nyesel." Kata Shafiah memperingatkan.


"Iya bun, iya. Lagian, aku mau tau, seberapa besar arti aku buat dia."


"Hhmm.. Terserah kamu deh."


"Udah ah, cepetan mandi, tadi solat subuh kan?"


"Solat dong bunda ku sayang." Abiyu merangkul bahu bundanya.


"Ya udah, cepetan mandi, bau tau.."


Shafiah berlalu pergi ke dapur, tapi Abiyu malah mengikuti langkahnya dari belakang. "Loh..kamu mau ke mana? ngapain ikutin bunda?"


"Itu si Kiran,suruh bawa handuk ku di kamar." Ia menunjuk dengan matanya. lalu berjalan mendahului bundanya.

__ADS_1


"Ran.."


"Iya kak.." Kiran menoleh ke belakang sambil mengangkat tangannya ke atas, karna tangannya di penuhi dengan busa.


"Ambilin handuk ku di kamar dong."


"Di kamar kak Abiy..?" Tanyanya untuk memastikan kalau ia tidak salah dengar.


"Iya,di mana lagi." Abiyu duduk di kursi sambil menggigit apel yang tersedia di atas meja makan. "Maaf ya."


"I..iya kak." Kiran mencici tangannya lebih dulu.


"Pake handuk ayah aja ya, bunda ambilin." Sela Shafiah.


"Gak usah, handuk aku aja."


"Jadi gak kak?" Tanya Kiran setelah selesai membersihkan tangannya.


"Jadi dong, ketok aja pintunya, bilang suruh kakak ambil handuk gitu, sama baju buat joging." Titahnya. Kiran pun segera melaksanakan perintah majikannya naik ke lantai atas menuju kamar Abiyu.


"Tok..


tok..


tok..


Tak lama, Kisya membukakan pintu. "Jglek.."


"Kiran..? ada apa Ran?"


"Itu kak, kata kak Abiy.. Minta handuk sama baju dia buat joging." Ucapnya sedikit ragu.


"Handuk? dia gak mau mandi di sini?"


Kiran menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Oh.. Jadi gitu ya..?"


"Ok kalau gak mau ketemu aku. Tunggu di sini Ran,aku ambilin semua yang dia mau." Kisya masuk ke dalam, mengambil semua keperluan suaminya, sedang Kiran menunggu di ambang pintu.


"Ini. Perlengkapan mandi dia. Sabun, shampo, pasta gigi, sama sikatnya nih sekalian." Memasukan perlengkapan mandinya dalam satu wadah.


"Dan ini, handuk sama baju dia." Kisya menautkan handuk dan baju yang di minta suaminya pada lengan Kira.


"Sebanyak ini?" Kata Kiran sedikit heran.


"Iya, biar sekalian. Bilang sama Abiyu, jangan kayak anak kecil."


"I...iya kak.."


"Jangan gak bilang ya,harus kamu sampein."


Setelahnya Kiran pun kembali ke lantai bawah menyerahkan semua keperluan yang Abiyu minta. "Ini kak."


"Makasi ya Ran." Abiyu tersenyum, sambil mengusap puncak rambutnya.


"I..iya kak."




Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak setelah membaca ya.



LIKE


KOMEN


VOTE


BUNGA



Sebagai apresiasi jerih payah Author 😁🙏

__ADS_1


__ADS_2