
"Abiy..." Kisya memanggil suaminya yang sudah berbaring di atas tempat tidur, ia bahkan sudah berkulum di bawah selimut tebalnya.
"Kamu tidur?
"Belum," jawabnya tanpa bergerak, Kisya melangkah mendekat lalu duduk di sebelah sang suami.
"Kamu marah?" tanya Kisya ragu.
"Marah? kenapa harus marah?" menatap wajah sang istri dalam posisi berbaring.
"Kiran?"
"Kenapa Kiran?" tanya Abiyu biasa saja.
Kisya menunduk, "Aku yang minta dia mengundurkan diri, aku yang gak mau dia ada si sini, apa aku salah?" Kisya menatap wajah Abiyu dengan berurai air mata.
"Aku cuma berusaha mencegah sesuatu hal buruk yang mungkin terjadi di kemudian hari, aku takut kehilangan kamu," hikss..hikss..
Abiyu merubah posisinya menjadi duduk, lalu meraih tangan sang istri, "Kalau dengan perginya Kiran membuat kamu lebih tenang, aku gak masalah ko," ucap Abiyu dengan senyum.
Kisya memeluk suaminya sangat erat, ia menangis, ia mengutaran isi hatinya, yang mana ia juga meras sedih dengan kepergian Kiran.
"Aku anggap dia sebagai adik ku, aku juga sayang sama dia, Biy. Tapi aku gak bisa terima kalau dia mencintai mi,"
"Aku seperti ini, karna aku takut dia merebut kamu Abiy,"
"Aku takut kamu juga suka sama dia," hikss...hikss..
"Nggak lah, kamu tuh gak usah aneh-aneh, aku gak akan berpaling dari kamu, kalau aku mau... mungkin itu udah aku lakuin dari dulu, saat kamu jauh dari aku," Abiyu mengusap lembut punggung sang istri.
"Yank," Abiyu melepaskan pelukannya, lalu menyeka air mata Kisya yang terus mengalir cukup deras.
"Dari dulu, aku cuma mau kamu. Gak ada yang lain. Jangan cuekin lagi aku sama Kayla ya? karna kita berdua benar-benar membutuhkan kamu."
"Aku juga minta, tolong kasih aku kepercayaan, tolong percaya sama aku, dan jangan bersikap berlebihan. Kamu percaya kan sama aku?"
Kisya mengangguk. "Aku percaya,"
"Ya udah, gak perlu bahas tentang Kiran lagi, dia udah pergi, dan yang harus kita pikirin sekarang adalah, bagaimana kasih alasan sama Kayla saat ia bangun nanti."
"Iya Biy.."
"Ya udah, udah malem juga, kita tidur ya?"
"Baiklah." Kisya pun naik ke atas ranjang, dan berbaring di samping Abiyu, menjadikan tangan sang suami menjadi bantalannya.
__ADS_1
"Abiy..."
"hhmm...?" Abiyu mengusap tangan Kisya yang melingkar di perutnya.
"Besok, Kayla pasti marah, dia pasti nyariin Kiran."
"Gak apa-apa, paling gak lama ko." saut Abiyu santai.
"Dan itu jadi tugas kamu kedepannya,"
"Kamu siap?"
"Aku harus siap." jawab Kisya semakin mengeratkan pelukannya.
Tidak banyak lagi perbincangan mereka di atas tempat tidur, Abiyu mencium kening Kisya setelah mengakhiri obrolan, lalu Kisya tidur pulas dalam dekapan sang suami.
Kisya, Abiyu, bahkan Shafiah tengah mempersiapkan diri, menghadapi kemaraha putrinya besok, pasti... Kayla pasti marah, atau mungkin akan sangat marah besar saat tidak bisa menemukan Kiran di sana. Dan ketakutan itu benar terjadi, ia melempar bantal yang berada di atas sofa, ia melemparkan semuanya ke arah sang Bundan, berteriak, menangis, bahkan sampai mau keluar membuka pintu utama, "Aku mau kakak..." hikss...hikss...
"Kayla... cukup," ini kali pertama Kisya membantak putrinya, membuat Kayla semakin ketakutan dan berlari ke kamarnya.
"Yank... pelan-pelan dong." kening Abiyu mengerut. Ia juga merasa bingung harus bagaimana lagi.
"Dia harus belajar menerima kenyataan, kita gak boleh terlalu memanjakan anak, Biy, bisa-bisa dia bersikap kirangajar sama kita, itu demi kebaikan dia."
Shafiah yang juga berada di sana, mencoba membantu Kisya menenangkan kemarahan cucunya, ia menghampiri Kayla di dalam kamarnya bersama Audy, mungkin dengan adanya Audy kemarahan Kayla bisa sedikit mereda.
"Waktu di rumah kak Kisya, aku di ajarin masak. Bu," sautnya tanpa menghentikan aktivitas.
Tengah asik memasak, Nindy yang baru turun dari kamarnya, cukup terkejut saat melihat Kiran berada di rumahnya, "heh..." panggil Nindy dari kejauhan.
Kiran menoleh ke belakang, begitupun dengan ibunya, "Udah bangun, Non?" kata ibunya Kiran menyapa.
Bukannya menjawab, dia malah bertanya pada Kiran, "Kenapa lo ada di sini?"
"Saya... mau ketemu ibu, Non."
"Lo libur kerja?" kembali mengajukan pertanyaan sambil menuangkan air ke dalam gelasnya. Ia duduk di kursi mini bar yang letaknya tak jauh dari tempat mereka memasak.
"Saya... sudah berhenti bekerja, Non,"
"Berhenti..?" keningnya mengerut tak mengerti.
"Iya, Non."
"Lo berhenti atau di pecat?"
__ADS_1
"Saya yang mengundurkan diri." karna memang itulah kenyataannya.
"Kenapa lo ngundurin diri?"
"Gak apa-apa, cuma pengen pulang kampung aja, mau kerja di sana."
"Oh... jangan lama-lama di sini, rumah gue udah kebanyakan pembantu, gak ada yang mau bayar lo," kata Nindy ketus, ia pergi berlalu begitu saja sambil membawa segelas air minum di tangannya.
Kiran cukup tau diri, dia memang tidak berencana bekerja di kediaman Nindy, ia hanya mau bertemu sang ibu, sebelum pulang ke kampungnya esok hari.
Saat akan kembali meneruskan aktivitas yang sempat tertunda, Ponsel milik Kiran yang ia taruh di kantung celemeknya berdering. ia merogoh benda pipih berukuran empat inci itu dari dalam kantungnya. Di sana hanya tertera barisan no tanpa nama. "Siapa?"
Menggeser icone berwarna hijau, lalu menjawab panggilan itu, "Assalamualikum,"
"Waalikumsalam.."
"Siapa ya?"
"Neng... ini mang Ujang, supir pribadinya nyonya Shafiah,"
"Oh.. mang Ujang? ada apa mang?"
"Neng Kayla nangis terus non, mang ujang gak tega liatnya,"
"Bisa gak kalau nanti sore ketemu neng Kayla?"
"Ketemu?"
"Iya neng, cuma sebentar, mang ujang terlanjur bilang sama neng Kayla, kalau mang ujang mau nganter dia ketemu sama si neng," mang ujang berkata sedikit berbisik
"Tapi mang..."
"Kasian neng, dari pagi nangis terus, ini juga berhenti karna mang bilang mau ketemu si neng," ucapnya memotong pembicaraan.
Kiran menghela nafas dalam sebelum kembali bicara, "maaf mang, aku gak bisa, itu bukan solusi mendiamkan Kayla dari tangisnya, kalau kita terus ketemu, Kayla gak akan bisa lupa sama aku, aku mau Kayla dekat lagi sama Bunda nya, Mang."
"Yah... si neng, mang Ujang gimana dong? mana kadung janji lagi."
"Maaf mang, aku juga sebenernya gak tega sama Kayla, tapi... gimana lagi," dengan berat hati Kiran harus menolak ajakan mang Ujang untuk mempertemukan dirinya dengan Kayla.
"Maafkan kakak Kay, kakak gak mau kamu terus ingat sama kakak, ini saatnya kamu lebih dekat sama Bunda kamu."
__ADS_1
Selalu berusha UP walau kayak di kejar bank emok, karna kesibukan kemarin sangat - sangat melelahkan. semoga like dan komennya semakin banyak aamiin 🤲