
"Gimana?"
"Gak bisa kak. Kak Isya, ayo!"
"Tunggu!" Ucap Gilang sambil mengangat satu tangannya ke udara. Rani pun Diam.
"Gue gak pernah ngomong seserius ini Ran. Perjanjian yang lo anggap lelucon itu, adalah keseriusan gue."
"Lo liat?" Gilang melangkah maju sambil membuka jaketnya, untuk menunjukan beberapa bekas luka di tubuhnya.
"Kakak ngapain?"
"Ini," Gilang menunjukan beberapa bekas luka di tangannya, bahu, juga dadanya.
"Ini serangan dari temen-temen gue, karna mereka kecewa gue gak ikut tauran sama mereka, gue di anggap penghiyanat sama mereka, Rani."
"Lo tau kenapa?" Rani diam.
"Karna gue gak ngelawan mereka. Gue ingat sama janji lo, itu semua gue lakuin buat lo, Ran."
"Gue bisa aja ngalahin mereka, tapi itu gak gue lakuin. Semua demi lo."
"Lo gak tau kan? gue sempat kritis gara-gara di pukulin temen gue. Gak tau kan?"
Rani terus diam.
"Gue tinggal sama tante gue, itu pun demi lo, Ran. Gue mau belajar di sana, dan lo tau? siswa berandal ini lulus ujian dengan nilai terbaik. Gue mau saat gue jadi pacar lo, gue bukan orang bodoh lagi, gue bawa kemenangan buat lo."
"Dan lo tau sekarang gue kuliah di mana? Universitas Indonesia, UI. Lo tau kan universitas itu? gue bakal jadi arsitek nanti, Ran. Lo liat aja."
Rani terus diam mendengarkan semua cerita yang Gilang ucapkan. Betapa dia serius ingin menjalin hubungan dengannya, perjuangan, pengorbanan, semua Gilang lakukan hanya untuk seorang Asiyah Maharani.
Gilang melangkah maju, meraih tangan Rani menggengamnya erat, "percaya sama gue Ran. Gue gak pernah anggap perjanjian itu sebagai lelucon. Gue serius Asiyah Maharani."
"Lepasin tangan aku Kak."
"Ran.."
"Kak tolong lepasin tangan aku."
"Lo denger kan Lang? lepasin tangan Rani!" Panji geram ingin sekali menjauhkan mereka, tapi Aisyah melarangnya, dia melakukan itu agar mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik, karna dengan menghindarpun tidak ada gunanya, Gilang akan terus mengejar Rani sebelum ada kesepakatan diantara mereka.
"Ok. Gue lepasin tangan lo. Tapi tolong percaya sama gue Ran. Kasih gue waktu buat lo jatuh cinta sama gue. Gue janji, cuma satu bulan. Kalau udah satu bulan lo gak juga punya perasaan cinta sama gue, gue gak akan ganggu lo lagi."
__ADS_1
Rani terdiam seraya berfikir. Entah kebenaran kah yang Gilang katakan? atau sebuah kebohongan? tapi bagaimana kalau yang di katakan Gilang adalah kebenaran? itu artinya dia sudah menghancurkan harapan seseorang, mematahkan hati seseorang, juga telah mengecewakan ketulusan seseorang.
"Apa aku coba dulu sambil mencari kebenarannya? kalau gak di coba, mana aku tau. Iya kan? kalau sampai Kak Gilang ketahuan bohong, saat itu juga aku akan mengakhiri semuanya."
"Ran! gimana?"
Rani menghela nafas dalam sebelum memberitahu kepitusan yang akan ia ambil.
"Ya Udah. Kita coba selama satu bulan. Kalau sampai batas waktu yang di tentukan aku belum juga suka sama Kakak, Kakak jangan ganggu aku lagi."
Gilang mengangguk setuju, "ok."
"Kita mulai hari ini."
"Kenapa hari ini?" Rani mengerutkan keningnya.
"Satu bulan itu 30 hari Rani. kita mulai besok ataupun lusa, hitungannya sama aja. Iya kan?"
"Terserah. Terserah Kakak," tak ingin bicara lebih banyak lagi, Rani pun kembali berjalan cepat masuk ke dalam mall.
Panji berusaha melindungi Rani dengan berjalan di sampingnya, karna Gilang saat ini sudah menjadi kekasihnya, Panji pun mundur saat Gilang memintanya berjalan di belakang, sedang Aisyah yang saat ini berjalan di samping Panji, menolak ajakan Gilang untuk jalan sejajar dengan mereka.
"Rani gak akan apa-apa ko. Kita kan ada di belakang dia," saut Aisyah bicara pada Panji. Panji pun mengangguk.
"Kenapa lagi?" Panji mendengus kesal, sedang Isya yang sudah berada di dalam, membuka kaca jendela mobil lalu bertanya pada Gilang.
"Kakak kenapa lagi sih?"
"Rani ikut mobil gue, Isya."
"Nggak," sangat cepat Rani menolak.
"Ayo lah Ran, kita kan lagi pendekatan."
"Aku gak mau berduaan sama Kakak."
"Kenapa? gue kan pacar lo, gue bakal jaga lo melebihi kemampuan Panji," ujarnya.
"Ayo lah Ran!"
Rani sudah kebingungan harus mengambil sikap bagaimana lagi, terpaksa dia harus mengalah pulang naik mobil Gilang karna dia terus memaksa. Sedang mobil Aisyah berada di belakangnya.
"Jangan cemberut terus dong!" kata Gilang sekilas melirik Rani dari samping, lalu kembali fokus ke depan, memperhatikan jalanan ibu kota yang selalu ramai walaupun bukan berada di jam kerja.
__ADS_1
Rani tak mau menanggapi ucapan Gilang, dia memalingkan wajahnya menatap ke samping. Malas.
Masih dalam perjalanan. Mobil yang ia tumpangi berhenti karna rambu merah menyala. Rani terus menatap ke samping, tidak mau menoleh sedikitpun, apa lagi menatap wajah Gilang.
"Ran. dulu lo gak kayak gini. Lo ramah, lo suka nyapa gue. Sekarang ko lo benci banget sama gue? kenapa sih?"
Rani tetap diam tidak mau menjawab.
"Ran. Kasih tau gue! siapa tau gue bisa memperbaiki kesalahan gue," katanya sambil duduk menyamping selama rambu merah masih menyala. Ia menatap wajah Rani lekat-lekat.
"Kakak berubah jahat," sautnya tiba-tiba.
"Jahat giman?" tanya Gilang.
"Dulu aku fikir Kakak itu super hero. Nolongin aku dari bahaya, sekarang kakak malah menjebak aku dalam bahaya." Rani masih memalingkan wajahnya, tidak sedikitpun berniat menatap wajah Gilang.
Rambu merah berubah warna hijau. Gilang kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, malah cenderung pelan, demi bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Rani dalam perjalanan pulang. Gilang kembali membuka suara.
"Coba lo inget-inget, Kapan Gue bersikap kasar sama lo? gak pernah kan? kapan gue ganggu aktivitas lo? nggak juga kan? atau ganggu kenyamanan lo, nggak kan?"
"Terus dari mana sisi bahayanya, Ran?" kata Gilang coba memberi penjelasan.
"Tapi Kakak maksa aku jadi pacar Kakak," kali ini Rani memberanikan diri menatap wajah Gilang dengan perasaan marah.
"Karna lo juga gak nepatin jaji lo, Rani."
"Tapi aku gak mau pacaran, Kak. Ngerti gak sih?"
"Kenapa? gue kan gak jahat."
"Bukan itu. Karna aku gak cinta sama Kakak."
"Tapi gue gak langsung maksa lo kan? gue cuma minta di beri kesempatan satu bulan buat lo cinta sama gue. Itu aja."
Rani kembali terdiam.
"Ayolah Ran. Seenggaknya, kita berteman baik lah dalam satu bulan ini, jangan kayak musuh gini."
"Teman ya?" saut Rani menegaskan.
"Ya nggak dong, tetep pacaran, tapi lo anggap aja teman. Biar lo nyaman."
"Iisshh.. sama aja itu mah."
__ADS_1
He.. he.. he.. "Iya Ran."