Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani Part 29


__ADS_3

Stelah menjemput Panji di bandara, mereka pun pulang dengan mobil terpisah. Panji satu mobil dengan Aisyah, pak Broto, sedangkan Rani satu mobil dengan Gilang.


Sepanjang perjalan pulang, Rani tidak banyak mengobrol dengan sang kekasih, tetapi pandangannya terus lurus ke depan yang mana mobil yang dinaiki Panji melaju di depan mobil Gilang.


Gilang menyadari itu, dan cukup membuat Gilang kesal. Karena Rani terus bersikap seperti itu, Gilang akhirnya menyalip mobil Panji, melaju lebih cepat meninggalkan mereka.


"Kakak. Kenapa ngebut? mereka ketinggalan, Kak."


Gilang bergeming, terus melaju cepat, dan mereka semakin tertinggal.


"Kakak!"


Bukan hanya mempercepat laju kendaraan, Gilang bahkan memutar arah, mengajak Rani kesuatu tempat, membuat Rani semakin bingung.


"Kita mau ke mana Kak?"


"Kita ke restoran dulu," jawab Gilang singkat, sepanjang perjalanan Rani terus mengerutkan keningnya kesal karena bukannya pulang, Gilang malah mengajak dia makan siang.


Gilang terlalu memaksakan kehendaknya, ia terlalu takut kehilangan Rani dengan kembalinya Panji, bahkan terpisah selama empat tahun, tidak membuat Rani melupakannya. Fikir Gilang


Gilang geram karena Rani terus cemberut bahkan sampai makan siang selesai. Di tengah perjalanan, Gilang menepikan mobilnya di bahu jalan. Rani terheran.


"Kenapa berhenti?" tanya Rani.


"Kamu kenapa sih dari tadi cemberut terus?" kesal Gilang.


"Kakak yang kenapa, kenapa Kakak bersikap seenaknya?"


"Maksud kamu?" kening Gilang mengerut.


"Kenapa tiba-tiba Kakak ngajak aku makan siang?"

__ADS_1


"Loh.. aku ngajak kamu makna siang, apa itu salah?"


"Nggak. Kakak pasti punya tujuan lain kan? jujur aja!" bentak Rani.


"Iya. Jawab Gilang cepat."


Rani bergeming.


"Aku cemburu sama Panji. Aku cemburu dengan cara kamu menatap Panji, aku gak suka." Lagi-lagi Gilang membentak, membuat Rani ketakutan, lalu menangis.


"Kenapa Kakak jadi kasar kayak gini sih?"


Hiks.


Hiks


Hiks.


"Aku mau pulang."


"Ok. Aku minta maaf."


Gilang meraih tangan Rani, menggenggamnya erat.


"Aku gak mau, Kakak kasar. Aku mau turun di sini, aku mau pulang naik taksi."


Rani melepas setbelnya, lalu keluar dari mobil, dan langsung menghentikan taksi yang kebetulan melintas.


"Rani!" Gilang memanggilnya coba mencegah, tetapi taksi itu langsung membawa Rani pergi.


"Sial."

__ADS_1


Rani kesal, bahkan sampai rumah pun Rani berlalu begitu saja melewati mereka yang sedang mengobrol asik mendengarkan cerita Panji yang kelihatannya seru, tetapi Rani tidak perduli. Ia memilih masuk ke dalam kamar karena masih kesal dengan Gilang.


Melihat sikap Rani seperti itu, ada rasa khawatir di dalam benak Panji, ingin rasanya ia menemani Rani, menghiburnya, mengajak ia bermain, tetapi tidak, hal itu tidak bisa ia lakukan karena usia mereka yang bukan anak kecil lagi.


Rani bergeming saat Azky memanggilnya, lalu Aisyah coba mengejar Rani, mangikuti langkahnya dari belakang.


"Ran!"


Panggil Aisyah. Rani terus berjalan cepat menaiki anak tangga.


"Kenapa sih dateng-dateng marah?"


"Aku kesel sama kak Gilang," saut Rani tanpa menghentikan langkahnya.


"Kesel kenapa?"


Rani menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang.


"Dia itu cemburu berlebihan, dia itu emosian, dia itu kayak anak kecil, udah kerja aja sifatnya kayak anak SMA." geram.


"Pelan- pelan dong ngomongnya! aku gak ngerti, kenapa sama Kak Gilang?" tanya Rani berusaha menenangkan sang adik.


"Masa dia cemburu sama a Panji, dia baru pulang, aku seneng Panji pulang, apa itu salah? Kakak juga senang kan liat Aa pulang udah jadi sarjana?"


Aisyah tersenyum.


"Tapi, senangnya aku sama kamu itu beda."


Kening Rani mengerut. "Beda gimana?"


__ADS_1



Maaf ya, bukan aku gak mau UP , aku lagi Dialy UP d PF sebelah wajib setor tiap hari sebanyak 2 Bab 😭😭 aku selalu berusaha UP d sini biar pun dikit sabar ya 😭🙏🙏, doakan aku supaya NT juga sayang sama karya aku, gak melulu tenggelam dan level terjun bebas, sedih banget 😭😭


__ADS_2