
"Ini masalah hubungan gue sama adek lo"
"Kenapa?" tanya Aisyah terheran.
"Hubungan kita bisa-bisa hancur kalau ada Panji, Isya."
"Ko bisa?"
"Baru berapa hari si Panji pulang Rani lupa sama gue. Semenjak si Panji pulang, dia nggak pernah chat gue, dan lo tau, seharian ini, dia nggak ngehubungin gue, sedangkan seharian ini kalian di rumah kan? kalian nggak ada kegiatan apa-apa kan?
Aisyah diam, terus mendengarkan Gilang bicara, hingga akhirnya pesanan mereka pun datang, meletakkan semua pesanan di atas meja. "Dua gelas kopi panas, dua porsi steak kentang, dua porsi burger big size."
"Ada yang lain?" tanya pelayan itu sebelum undur diri.
"Lo mau apa lagi, Isya?" tanya Gilang kepada Aisyah yang saat ini sedang melamun, memikirkan hubungan sang adik dengan pacarnya.
"Apa yang harus aku lakuin? seharian tadi kita emang nggak kemana-mana, malah kita ngabisin waktu sama A Panji, lalu..." batin Aisyah bergumam.
"Isya..." untuk yang kesekian kalinya Gilang memanggil nama Aisyah, baru mendapat respon.
"Iya, Kak?" saut Kiran, tanpa sadar ia menyeruput kopi yang masih panas, alhasil kopi itu menumpahi kerudung, juga bajunya, sambil merintih kepanasan.
"Aaww, panas."
"Lo nggak apa-apa?" tanya Gilang sambil mengusap mulut Aisyah degan tisyu yang tersedia, sedangkan pelayan itu malah menawarkan clemek kepada Gilang, sontak Gilang pun langsung menolaknya dengan kasar.
"Lo gila apa? masa buat lap mulut pake clemek," hardik Gilang menolaknya.
"Maaf, Tuan."
"Kak, Aku nggak apa-apa, biar aku sendiri yang bersiin." Aisyah mengusap mulutnya sendiri, lalu Gilang kembali duduk.
"Maafin temen saya ya, Mas."
Aisyah merasa tidak enak hati karena Gilang sudah memarahi pelayan itu hanya karena hal sepele, mungkin karena dia sedang kesal dengan Rani, merusak moodnya, sehingga muda marah.
"Kakak bisa nggak sih kalau nggak gampang marah!" kata Aisyah sambil mengusap kerudung yang terkena tumpahan kopi tadi.
Gilang menggelengkan kepalanya. "Nggak tau, bawaannya kesel aja gue," saut Gilang duduk bersandar seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, memikirakan Rani, yang terkesan cuek terhadap dirinya.
"Kakak gak usah terlalu ambil pusing masalah Rani. Dia kan orangnya emang cuek." kata Aisyah coba memberi tahu.
"Iya cuek sama gue, tapi sama si Panji mah nggak." ketus Gilang.
"Terus, kakak maunya apa?" tanya Aisyah lagi ingin segera menyelesaikan percakapan, dan segera pulang.
"Bantu gue jauhin Rani dari Panji dong, Sya!" pinta Gilang memohon.
"Jauhin gimana?" tanya Aisyah yang tidak mengerti.
"Buat Panji jatuh cinta sama lo!"
Mendengar permintaan Gilang yang menurutnya tidak masuk akal, sontak hal itu mendapat penolakan keras dari Aisyah.
"Kakak gila apa?" keningnya mengerut tidak mengerti. "Kakak meminta bantuan, diluar batas kemampuan aku."
"Kenapa? kalian deket kan? kenapa lo nggak bisa buat dia jatuh cinta sama lo, Rani aja bisa."
"Karna aku bukan Rani, aku Aisyah," geram Aisyah dengan menatap tajam.
Aisyah tersinggung dengan ucapan Gilang yang meminta ia untuk membuat Panji jatuh cinta kepada dirinya. Ia menyambar tasnya hendak pergi meninggalkan Gilang dengan kegilaannya.
Namun, baru saja akan melangkah pergi, pria yang saat ini sedang galau, mencegah Aisyah pergi dengan menarik tangannya.
"Lepasin aku!" ketus Aisyah kepada Gilang yang saat ini sama-sama berdiri.
"Nggak," tolak Gilang.
"Kakak nyebelin ya. Pantes aja Rani males kalau ketemu, dan ternyata ngobrol sama A Panji lebih menyenangkan dari pada ngobrol sama Kakak."
"Loh, ko jadi gitu sih, Sya."
"Lagian, permintaan Kakak itu aneh." Aisyah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ya udah, nggak usah pacar, gue minta tolong aja sama lo, tolong ingatkan Rani, kalau dia punya pacar yang sangat mencintai dia."
"Dan setiap hari gue nungguin dua kasih kabar."
Aisyah menghela nafas, dengan cepat ia menghembuskan, lalu ia pun mengangguk. "Nanti aku coba."
"Makasi ya, Sya. Gue seneng bisa ngobrol sesantai ini, untung ada lo."
__ADS_1
"Ya udah, aku mau pulang dulu. Takut Rani nyariin." kata Aisyah.
"Ya udah, gue anter ya."
"Nggak usah, aku bawa mobil sendiri ko."
"Ok. Sekali lagi makasi ya, Sya."
Kediaman Adlan.
Adlan bersama sang istri, Kiran. Saat ini sedang dalam perjalanan menuju kediaman Shafiah, mengantar anak-anak pulang.
Ditengah perjalanan, Kiran meminta Adlan menghentikan mobilnya saat melewati toko kue, hendak membelikan sesuatu untuk dijadikan buah tangan, mengingat Kisya juga sedang sakit,
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, mereka kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah keramaian ibu kota di malam hari.
Begitu tiba di kediaman Shafiah, mereka duduk di ruang keluarga, sedangkan Kiran, meminta kepada Shafiah untuk mengantar ia ke kamar Kisya, karena ingin melihat keadaanya.
"Ayo, aku antar," ajak Shafiah sambil mengulurkan tangannya.
"Aku tinggal dulu sebentar ya, Mas." Ia bicara kepada Adlan.
"Iya, aku di sini sama Mas Zahfran"
Shafiah mengetuk pintu, meminta izin untuk masuk, tanpa mengatakan kalau dia bersama Kiran ingin menjenguk Kisya.
"Kiran?"
Mendengar nama Kiran disebut, Kisya pun langsung membuka mata, memastikan nama yang suaminya panggil, ia pun menegakan posisi duduknya yang tadinya sedang berbaring di atas bahu sang suami.
"Bunda, Kiran?" sapa Kisya, sedikit masih lemah.
"Udah, nggak usah bangun, di situ aja," pinta Shafiah, sambil mendudukan diri di atas sofa bersama Kiran.
"Kak, Kisya sakit apa?" tanya Kiran memulai percakapan.l
"Kata dokter sih tipus, Ran." jawab Kisya biasa saja.
"Oh. Harus istirahat total itu, Kak."
"Iya, mangkannya aku tinggal di sini, biar Kayla juga ada temennya."
Asik berbincang, Adlan yang ingin tau juga kabar Kisya, menyusul sang istri masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Sakit apa?" tanya Adlan berjalan masuk ke dalam kamar, lalu mendudukkan diri di sebelah sang istri, sambil menggengam erat tangannya.
"Tipus, Om." jawab Kisya.
"Ini pasti gara-gara kamu terlalu sibuk kerja, kurang istirahat, juga telat makan."
"Nggak tau, susah banget dibilanginnya, Om," sela Abiyu menyahutinya.
"Kalau sayang sama badan, ya harus dijaga lah kesehatannya." ujar Adlan.
Kediaman Azky.
Aisyah yang baru sampai ke rumah, menghampiri sang adik kembarnya yang saat ini belajar dengan Panji.
"Dari mana, Kak?" tanya Rani tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Kakak\_ habis ketemu temen." jawabnya sedikit gugup.
"Oh."
Melihat kedekatan Rani dengan Panji, ia teringat akan permintaan Gilang saat di kafe, dia langsung mendudukkan diri di sebelah Rani, lalu mulai percakapan kembali.
"Tugas?" tanya Aisyah.
Rani mengangguk. "Banyak banget, Kak."
"Oh iya, tadi aku ketemu Kak Gilang loh di depan rumah, katanya kamu suruh ngehubungin dia secepatnya."
"Mau ngapain?"
"Kakak nggak tau. Coba aja kamu hubungin sekarang, mungkin ada hal penting."
"Ntar aja lah, aku belajar sama Aa dulu."
Aisyah merasa apa yang dikatakan Gilang ternyata benar, dia melupakan Gilang kalau sedang bersama Panji, buktinya saja, demi dekat dengan Panji yang bukan tugas kuliah pun ia kerjakan.
Karena kasihan dengan Gilang, Aisyah memutuskan mengirim pesan kepada Gilang, menggunakan ponsel milik Rani. Setidanya malam ini Gilang bisa tertidur nyenyak setelah mendapat kabar dari kekasihnya, dan jelas itu atas izin dari sang adik.
Aisyah (seolah Rani) : "Malam, Kak. Seharian ini Kakak nggak ada kabar, Kakak ke mana aja? aku kangen."
Bagaimana bisa Rani meminta sang kakak mengirim pesan untuk Gilang, seolah-olah dia yang menulis?
Next BAB ya.
__ADS_1
So, tau dong mesti apa biar Author semangat nulis lagi?🥰🥰🙏