
"Jangan katakan kalau kamu mencintai Maharani, Panji!" kata sang Ayah saat Pak Herlambang meminta orang lain memanggil Panji untuk menghadap mereka.
Panji bergeming, terus berjalan melewati lorong rumah besar itu menuju ruang keluarga, di mana sudah banyak orang sedang menunggunya.
Karena tidak mendapat jawaban, Pak Broto pun menarik tangan Panji, kasar.
"Kamu dengar kan apa yang Bapak katakan?" geram pak Broto sambil melotot.
Panji tetap tidak menjawab, ia mengibaskan tangannyala, dan terus berjalan sehingga sampailah ia di ruang keluarga, dan semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Aa..?" Rani langsung berdiri, hendak menghampiri sang kekasih, tetapi langkahnya terhenti saat Pak Herlambang memegang tangan sang cucu.
"Kakek." lirihnya ketakutan.
"Kakak mau bicara dengan Panji, kamu tunggun di sini!"
"Tapi..."
"Rani. Rani tidak akan membantah perintah Kakek bukan?"
Rani diam semakin ketakutan, tetapi ia diam karena tidak berani membantah perintah dari Kakeknya lalu Pak Herlambang pun bangkit dari duduknya, melangkah perlahan menghampiri Panji.
"Kamu mencintai Maharani?" tanya Pak Herlambang langsung pada intinya.
Panji mengangguk iya tanpa Ragu.
__ADS_1
"Bodoh," batin Pak Broto yang berdiri agak jauh dari putranya.
"Kenapa?"
"Saya tidak tau, Tuan. Cinta saya tulus, tanpa alasan. Tetapi, satu hal yang pasti, saya mencintai keluarga ini, karena mereka semua orang baik."
Untuk sejenak ia menoleh ke belakang, menatap Maharani dari kejauhan. "Kemari lah," pintanya sambil mengulurkan tangan.
Rani pun menghampiri sang Kakek.
"Kamu ingin menikahi Maharani? atau sekedar berpacaran?" tanya Pak Herlambang lagi, setelah Rani berdiri di sampingnya.
"Saya ingin menikahinya, Tuan."
Maharani tersenyum mendengarnya.
Ucapan Pak Herlambang mengejutkan semua orang, apa lagi Zahfran.
"Pah, Papah apa-apan sih? papah ko tega sama cucu sendiri?" protes Zahfran yang saat ini sudah berdiri.
"Mas." Shafiah meraih tangangannya untuk menahan emosi sang suami.
"Zahfran, Papah tidak ingin berdebat. Apa yang sudah papah ucapkan, tidak akan ada yang bisa membantahnya. Bukannya cinta mereka tulus? kalau begitu, tanpa harta pun mereka akan bahagia bukan?"
"Saya tidak keberatan dengan keputusan anda, Tuan. Saya akan berusaha membahagiakan Maharani, dan bekerja keras untuk membahagiakannya."
__ADS_1
Keberanian Panji saat ini patut diacungi jempol, dia begitu percaya diri menyampaikan isi hatinya, dan melamar Maharani di hadapan semua orang, termasuk Pak Herlambang yang sangat ia segani selama mengenal keluarga Fatih.
"Bagus, kalau begitu kapan kalian akan menikah?"
"Secepatnya, Tuan."
Pak Herlambang mengangguk. "Baik. Persiapkan semuanya dalam satu minggu, dan kalau kamu memiliki uang untuk menggelar resepsi, maka lakukanlah, tetapi kalau kamu tidak sanggup menggelar resepsi, makan menikahlah di KUA. Kamu tidak keberatan bukan?"
"Tidak, Tuan. Sama sekali tidak," jawab Panji dengan senyum bahagia, akhirnya ia mendapatkan restu dari orang yang sangat berpengaruh di keluarga itu.
Rani yang begitu bahagia, langsung memeluk sang Kakek, seraya berterima kasih kepadanya. "Terima kasih, Kek."
"Sama-sama, Sayang."
Tidak lama Rani melepaskan pelukannya, lalu berlari menghampiri Azky, menangis bahagia dalam pelukan Azky.
"Apa kamu akan bahagia hidup sederhana dengan Panji?" batin Azky terus bergumam, "Tapi Umi tidak akan membiarkan kamu hidup dalam kekurangan, Nak. Umu akan selalu ada buat kamu.
Saat mereka bahagia, ada dua pasang mata menyaksikan momen itu dari kejauhan dengan hati yang terluka, siapa lagi kalau bukan Gilang dengan Aisyah.
"Jangan paksa gue nemuin mereka, dan tolong kali ini izinin gue mabuk, gue nggak tahan Isya, hati gue sakit."
"Nggak, Kak."
"Gue mohon, gue nggak kuat."
__ADS_1
"Kalau begitu, beli minumannya di luar, lalu bawa ke rumah, aku akan menemani Kakak."