Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 59


__ADS_3

Hai, hai. Othor yang bermimpi femes ini kembali datang, masih ada nggak sih yang nunggu kisah Twins Maharani? maaf ya kalau sudah lama nggak UP, semoga ke depannya bisa UP lagi setiap hari, kuncinya hanya satu. Jangan nabung bab ya, dan selalu berikan like, juga komentar di setiap bab nya, othor kan jadi semangat. Sudah dulu menyapanya. Yuk lanjut baca.


*******


"Ajarin gue sholat, dong!"


"Boleh, tapi izinkan aku salat dulu," ucap Aisyah yang hendak melaksanakan salat subuh, bahkan sudah mengenakan mukena.


Gilang mengangguk, lalu melangkah mundur seraya mendudukkan diri di sofa sambil memperhatikan Aisyah salat. Ada rasa lain yang ia rasakan, tetapi entah apa, yang pasti ia merasa lebih tenang tidak seperti semalam.


Selesai menunaikan ibadah salat subuh, Aisyah melipat mukena, lalu meletakkannya di dalam lemari khusus. Ia melihat Gilang masih setia menunggu, matanya terus mengikuti ke mana kaki Aisyah melangkah.


"Masih mau belajar salat?" tanya Aisyah setelah menutup kembali pintu lemari, lalu menghampiri Gilang, duduk di sebelahnya.


"Mau dong," jawab Gilang.


Aisyah tersenyum bahagia. "Alhamdulillah."

__ADS_1


"Sebetulnya gue nggak buta-buta amat sih sama gerakan salat, bacaannya aja yang agak-agak lupa," ucapnya sambil duduk menyamping dengan menaikan satu kakinya ke atas sofa.


"Kalau begitu malah enak, tinggal baca ulang, lalu diterapkan dalam salat."


"Iya, sih. Cuma gue bacanya di mana dong? gue nggak ada bukunya."


"Kakak punya handphone kan? tinggal cari di yuutube, atau di embah gugling juga ada, banyak malah."


"Iya, yah." Ia meraih ponselnya di atas meja, lalu mulai mencari bacaan salat yang pernah ia gunakan saat itu. Ia sangat ingat, terakhir melaksanakan salat itu saat ada praktek saja, selebihnya tidak pernah.


Keterlaluan memang, tetapi itu hanya masa lalu, kini ia memiliki istri solehah, dan entah datangnya dari mana, tiba-tiba hatinya tergerak ingin melaksanakan salat.


"Nah ini ada, bacalah!" titah Aisyah, Gilang pun mulai membacanya walau terbata.


"Kakak membutuhkan sesuatu?" tanya Aisyah di sela kegiatan Gilang yang masih coba menghapal kata demi kata, kalimat demi kalimat bacaan salat. Karena Gilang tidak menjawab, akhirnya Aisyah pun turun ke lantai bawah hendak mengambil air minum.


"Non Isya, sudah bangun?" tanya salah satu asisten rumah tangga yang sat ini sedang memasak, ada juga beberapa yang sedang merapihkan ruangan.

__ADS_1


"Iya, Bi. Mau ambil air minum." Aisyah menjawab seraya mengambil gelas, lalu menuangkan air putih ke dalamnya.


"Air minum di kamar Non Isya habis ya? maaf ya Non mungkin bibi kurang banyak mengisinya.


"Nggak apa-apa ko, Bi." Pasalnya bukan kurang banyak, hanya saja karena semalam Gilang mabuk, ia juga banyak menghabiskan air minum di sela-sela percakapan singkat yang pasti sudah Gilang lupakan saat ini.


'Nati malam biar bibi tambah airnya, Non."


"Iya, Bi," saut Aisyah sangat ramah sambil membuatkan teh manis untuk sang suami.


Asisten rumah tangga itu sekilas melirik ke arah Aisyah, memperhatikan hijabnya. "Non, kalau sudah keramas, sebaiknya rambut jangan dulu diikat, apa lagi diuntal di dalam kerudung, nanti banyak ketombenya loh," selorohnya membuat Aisyah terkikik lucu.


"Aku sudah biasa seperti ini ko, Bi. Lagi pula sekarang aku tidak sedang keramas."


Mendengar jawaban Aisyah membuat asisten rumah tangga itu terkejut. "Tidak keramas? apa merek tidak pernah melakukan hubungan suami istri," batinnya bergumam.


Meninggalkan kehebohan di dapur, saat ini Gilang masih membaca ulang bacaan salat, hingga akhirnya terdengar suara dering ponsel milik Aisyah yang kebetulan ada di atas meja.

__ADS_1


Ia meraih benda pipih itu, tertera jelas nama Rani dalam layar ponselnya, lalu Gilang pun menjawab panggilan itu.


"Halo."


__ADS_2