Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 47


__ADS_3

"Kiran bukan gak sisiran pak," saut salah satu teman Kiran yang memiliki tubuh gempal bernama Ajeng.


"Kenapa berantakan?" Adlan masih bersandar pada dinding Lift, tapi kali ini ia memasukan tangannya ke dalam saku celana.


"Di jambak," jawab Ajeng jujur.


"Jambak? kamu? ko bisa?" Adlan merubah posisinya berdiri tegak, menatap intens wajah Kiran.


Kiran menunduk tak menjawab, tapi Ajeng terus menjawab pertanyaan Adlan yang bertanya terus dan terus tanpa henti, dan akhirnya Adlan mengacungkan dua jempol untuk Kiran.


"Hebat. Jadi perempuan emang harus gitu. Kuat, gak boleh cengeng," ucap Aldan bangga, membuat Kiran tersenyum malu di depan Adlan, lain hal dengan Ajeng yang malah bengong atas jawaban atasannya itu.


"Ko Bapak malah ketawa sih pak?" kening Ajeng mengerut tidak mengerti.


"Kenapa emang?"


"Bapak gak marah?" tanyanya lagi?


"Marah kenapa?"


"Kiran kan tadi habis di jambak, ko bapak malah ketawa. Bingung..." Ajeng menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa mesti marah? toh Kiran juga anaknya kuat, bisa lawan orang-orang yang jahat. Ya gak Ran?" kata Adlan sambil menepuk-nepuk bahu Kiran.


Kiran meresponnya dengan senyum.


"Udah gede ya Ran, mesti kuat," Adlan selalu memberi semangat pada Kiran. Baik dengan ucapan, maupun tindakan.


Ucapan yang membuat Kiran semangat menghadapi perihnya kehidupan, dan tindakan yang membuat Kiran menjadi lebih kuat dan semangat dalam bekerja maupun menghadapi berbagai masalah ke depannya.


Contohnya kejadian saat tadi. Adlan pernah mewanti-wanti Kiran untuk jangan lemah di depan orang yang benci dengan kita, jangan juga jadi pemarah saat orang berusaha memancing emosi kita.


"Jangan nyentil, kalau bukan dia duluan yang nyentil."


Kata itu yang selalu ia ingat, dan masih banyak lagi nasehat yang Adlan berikan padanya. Membuat Kiran bisa menjadi gadis yang kuat.




Masih dalam perjalanan menuju apartemen. Kisya mendengus kesal mengingat kejadian tadi, saat Abiyu malah melerai perkelahian dirinya dengan Alesha.



"Kalau kamu gak misahin aku, udah aku jambak tuh rambutnya si Alesha, cakar mukanya sekalian. Kamu sih," terus ia bicara tanpa jeda karna kesal.



"Kamu itu kalau gak aku tahan, mungkin si Alesha bisa masuk rumahsakit Yank," sautnya sambil mengendalikan stir mobil, membawa mereka menuju kediamannya.



"Bunda sama ayah kamu kenapa sih Kay?" bisik Audy di telinga Kayla dengan suara khasnya sedikit serak.



"Mereka lagi ngobrol, Aunty.." jawab Kayla asal.



Kening Audy mengerut, "Ngobrol?"



Perdebatan antara bunda dan ayahnya, di anggapnya seperti ngobrol biasa, tidak jauh berbeda seperti dia dan Audy saat ini yang lebih banyak bercerita ketimbang bermain boneka.



Masih di hari yang sama. Hari minggu cerah membuat banyak orang melakukan kegiatan di luar rumah, demi menghabiskan waktu libur satu hari bersama keluarga mereka. Begitupun dengan Abiyu yang selalu bersedia mengantar sang istri kemanapun yang ia mau. Termasuk belanja bulanan, demi memenuhi kebutuhan selama satu bulan ke depan.


__ADS_1


Saat ini Abiyu sedang menemani sang istri belanja bulanan di sebuah Mall ternama, tapi sebelum belanja keperluan sehari-hari, Kisya mengajak Abiyu masuk ke dalam Butik untuk membeli beberapa baju untuknya, juga untuk putrinya.



Kisya masih memilah-milah pakaian yang di pasang pada manekin-manekin yang berbaris panjang ke dalam. Ia kebinguan sendiri akan membeli baju yang mana, karna semua baju yang di pajang, bagus-bagus semua.



"Abi... kamu lebih suka yang mana? merah, atau hitam?" tanya Kisya sambil menunjukan dua model baju yang juga memiliki warna yang berbeda.



Abiyu melipat majalahnya, lalu mengutarakan pendapatnya, sambil bersandar di atas sofa menatap ke depan di mana Kisya mengacungkan dua warna baju yang berbeda.



"Aku suka yang merah." jawabnya sangat teliti.



"Ok.. aku ambil yang merah."



Menyerahkan beberapa potong baju pada kasir, lalu Abiyu membayarnya menggunakan kartu keridit yang tidak memiliki limit itu.



Setelah berbelanja baju di butik, sekarang saat ya mereka masuk ke dalam supermarket untuk belanja kebutuhan harian.



Seperti yang banyak orng lakukan. Abiyu mengikuti langkah Kisya dari belakang sambil mendorong troli, juga Kayla yang berjalan di sebelahnya, terus menggandeng erat tangan Abiyu.



"Ayah... aku mau es cream," pintanya sambil berjalan, ia mendongakan kepalanya ke atas.




"Aku mau yang kenyal," pintanya, sambil menunjuk es cream moci berwarna coklat di bawah tangannya. Abiyu langsung mengambil es cream itu, dan langsung di nikmati oleh Kayla.



Selesai memasukan semua kebutuhan, Abiyu mendorong troli menuju kasir, sementara Kisya dan Kayla bermain wahana permainan yang letaknya satu tingkat di bawah supermarket.



Antrian panjang, Abiyu sempat membalas beberap pesan masuk dari teman, maupun rekan bisnisnya. Antrian tinggal dua orang lagi. Tapi tangannya masih sibuk membalas pesan sambil tertawa, juga sambil berjalan ke depan, mendorong trolinya.



"Siang pak," penjaga kasir menyapa ramah. Wajahnya tertutup mesin monitor di depan, yang terlihat hanya troli berisi penuh dengan belanjaan.



"Agak maju sedikit pak," titah penjaga kasir itu ramah.



"Oh... iya," Abiyu melangkah maju, dan langsung terdiam dalam sekejap.



"Kiran?"



"Kak Abiy..?" Kiran menatap tak percaya melihat Abiyu ada di depan matanya.

__ADS_1



Abiyu yang sama terkejutnya, sampai lupa untuk mengeluarkan semua belanjaan untuk di simpan di atas meja kasir. Untuk sejenak mereka saling berpandangan, dan antrian di belakang menegur Abiyu yang tak kunjung mengeluarkan belanjaannya.



"Pak...? mau di beli gak itu?" saut seseorang dari belakang.



"Oh..iya Pak," Abiyu mulai mengelurkan satu persatu belanjaan lalu menyimpannya di atas meja kasir tanpa ada yang mau mengeluarkan suara.



Hening... yang terdengar hanya gemuruh mesin AC yang letaknya tak jauh dari konter tempat Kiran berdiri.



"Dingin?" tanya Abiyu tiba-tiba memecah keheningan.



"Ng...nggak, Kak," jawabnya bohong. Pada kenyataannya hawa di sana sangat dingin, Abiyu yang mengenakan celana lepis, dan sweter pun merasa kedinginan, apa lagi Kiran yang memakai rok mini juga berdiri tepat di bawah AC dengan suhu 16°c pasti menggigil kedinginan.



"Kamu tau kan Om Adlan kerja di sini?" tanyanya lagi. Belanjaan milik Abiyu masih banyak, ia masih mengeluarkan isi dalam troli.



"Hhmm..." jawabnya tanpa berkata.



"Kamu minta aja sama Om Adlan jangan jaga konter yang ini, minta aja yang di tengah, biar gak terlalu deket sama AC," terus bicara tanpa sedikit pun melihat wajah Kiran.



"Gak perlu," jawabnya singkat.



Semua barang sudah di keluarkan, tapi masih menunggu karna masih di hitung melewati mesin scen.



Keheningan masih tercipta, tak lama Kisya dan Adlan datang menghampiri Abiyu.



"Abiy...?" panggilnya dari depan. Begitu melihat kalau kasirnya adalah Kiran Kening Kisya langsung mengerut tidak suka.



"Kamu...?"



"Kak..." Kiran kembali terdiam melihat Kisya juga ada di sana. Kayla yang sedang di gendong Adlan pun memaksa turun lalu berlari ke arah Kiran lalu memeluknya.



"Kakak..." Kayla memeluk Kiran sangat erat, menumpahkan kerinduan yang teramat dalam.



"Aku kangen kakak.."



"Kakak juga kangen sama Kayla."

__ADS_1


__ADS_2