Dia Maduku

Dia Maduku
Bab 91


__ADS_3

"Mas hanya membutuhkan jawaban iya atau tidak. Katakan,apa saat ini kamu sudah mencintai ku?"


Ia terdiam. "Apa maksudnya ini?" Batin Azky bergumam.


Sedangkan Frans dan Fatih saling menatap,tatapan mereka memiliki arti tersendiri,dan diamnya Azky membuat Fatih semakin terpojok,ia menghela nafas panjang sebelum bertanya kembali. "Azky,katakanlah. Apa kamu mencintai ku?"


"Aku akan berusaha mencintai mu mas,walaupun saat ini belum,tapi aku akan berusaha."


"Ungkapan seperti itu yang sering aku dengar,tapi kenapa saat ini terasa perih?" Fatih memejamkan matanya menghembuskan nafas kasar.


Dan Frans... Itu bukan jawaban yang ingin ia dengar,frans ingin mendengar ungkapan cinta dari bibir calon menantunya itu.tapi sayang,Azky mengatakan hal yang sejujurnya,seandainya saja Azky mau berbohong dengan perasaannya,Frans akan berhenti menjodohkan Fatih dengan putri rekan bisnisnya.


"Mas.. kenapa diam?" Suara Azky memecah keheningan di sana.


"A..aku.. tidak apa-apa." Jawabnya sedikit terbata.


"Oh iya.. aku mau memberitahu kamu kalau aku..."


"Azky.." Fatih memotong pembicaraan,dan Azky pun terdiam. "Nanti aku telfon lagi,aku...ada urusan sebentar."


"Oh..i..iya mas." ucapnya terbata.


"Assalamualikum."


"Waalaikumsalam."


"Mas Fatih kenapa ya?ko aneh gitu?" Batin Azky bergumam sambil menatap ponsel yang masih dalam genggamannya.



"Kamu dengar? Sampai saat ini dia masih belum bisa mencintai mu,dan kamu mau menunggu sampai kapan?" Kata Frans.



Fatih terdiam,menatap kosong ke depan. "***Kenapa kamu tidak berbohong saja Azky? Setidaknya untuk saat ini saja***." Batin Fatih bergumam.



"Pah sudah lah,yang penting dia mau berusaha mencintai putra kita."



"Sulit mah,karna di antara Azky dan Zahfran sudah terikat oleh anak,sampai kapan pun tidak akan bisa hati mereka terpisah."



"Pah.."



"Dan kalau kamu mau,tanyakan pada Zahfran,apa dia sudah bisa melupakan Azky? Mungkin jawabannya sudah,tapi kamu bukan anak kecil lagi yang dengan mudah di bodohi oleh kata-kata."



Fatih terus diam mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut papahnya. Semua yang di katakannya adalah benar,aku hanya membodohi diri ku sendiri,berpura-pura tidak tau,padahal semua jelas terlihat.



"Papah tau kamu kecewa dengan jawaban Azky nak,cobalah bersikap dewasa,jangan memaksakan kehendak sendiri?papah tidak mau kamu hidup dalam bayang-bayang orang lain. "Ucap Frans sambil menepuk bahu Fatih,lalu pergi meninggalkannya dalam kebingungan.



"Cepatlah,papah dan mamah menunggu di bawah,kita akan pergi satu mobil." Frans sedikit meninggikan suaranya sambil berjalan menuruni anak tangga.



"Ayo nak." Ajak bu Andini pada putranya.

__ADS_1



Namun Fatih masih diam membeku di depan pintu kamarnya.



Kediaman Malique.


Beberapa hari ini Shafiah di buat sibuk mengurus berkas-berkas perpindahan sekolah Abiyu ke Jakarta,bukan hanya itu,ia pun ikut mengurus penutupan butik miliknya di Sidney dan memindahkannya ke Jakarta,karna bukan hanya Abiyu,bu Melisa pun ikut bersama mereka.


"Sayang.. kamu mau ke mana?" Tanya Zahfran sambil mengancingkan satu persatu kancing kemejanaya,dan Shafiah nampak sedang berias di depan cermin.


"Aku harus ke sekolah Abiyu mas,masih ada berkas yang belum selesai." Saut Shafiah sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.


"Masih banyak yang belum selesai?"


"Tinggal beberapa,aku usahakan minggu ini selesai." Shafiah bangkit dari duduknya lalu menghampiri Zahfran untuk membantunya memasangkan dasi.


"Butik mu?" Zahfran kembali bertanya.


"Biar nanti sisanya asisten aku yang urus mas,mungkin kita jual aja kali ya? Daripada barang-barang kita di sini terbengkalai."


"Terserah,bagaimana baiknya saja."


Mata Zahfran tertuju pada bibir merah istrinya."Apa ini?"


"Apanya?" Shafiah mendongakan kepalanya.


Tiba-tiba Zahfran menarik pinggang sang istri lalu menci*m singkat bibirnya. "Mas.." Ia terkejut dengan serangan yang tiba-tiba.


"Hapus... mas gak suka sayang."


"Lipstik?" Tanya Shafiah.


"Hhmm.." Ucapnya tanpa berkata,lalu ia keluar dari kamar dengan menenteng tas kerjanya.


"Kenapa?" Tanya Zahfran tanpa menghentikan langkah kakinya.


"Boleh gak aku minta kita tinggal di apartemen aja."


"Memangnya kenapa?"


"Supaya kita tidak perlu pakai pembantu mas,kalau cuma apartemen,insyaallah aku bisa mengatasinya walaupun aku kerja."


"Nanti kamu cape sayang."


Zahfran yang baru hadir pun langsung mengambil posisi duduk di sebelah Abiyu. "Pagi mah,Abi.." Tanpa Sadar Zahfran memanggil Abiyu dengan panggilan Abi.


Deg...


Seketika mulut Abiyu berhenti mengunyah lalu menatap tajam sang ayah yang baru saja duduk di sebelahnya.


Ada apa sebenarnya dengan panggilan Abi? Haya Abiyu lah yang tau. "Jangan panggil aku Abi,aku gak suka ayah." Tegas Abiyu.


"Kenapa nak?" Zahfran tidak menyadari,kalau panggilan Abi itu adalah panggilan Azky padanya saat ia menjadi pengasuhnya dulu.


"Pokoknya aku gak suka."


"Baiklah." Sekilas ia melirik ke arah putranya sambil menikmati sarapan yang sudah tersaji di atas meja.


"Aku membenci panggilan itu." Batin Abiyu sambil mengaduk-aduk makanan di atas piringnya.



Dua minggu berlalu,tibalah saat di mana Azky harus meninggalkan kota Surabaya. Banyak kenangan yang harus ia tinggalkan,terutama kenangan perih saat mengandung dan melahirkan putri kembarnya tanpa di dampingi seorang suami di sampingnya.


__ADS_1


Ia sangat berterimakasi kepada keluarga Rafa yang sudah memberikan kasih sayang seperti keluarga sendiri,hingga kehangatan mereka membuat Azky mampu melangkah sampai sejauh ini.



Saat di bandara,Azky merasa sedikit kerepotan membawa dua koper besar dan dua anak kembarnya yang masih harus ia gandeng tangannya. "Umi..ayo..nanti kita ketinggalan pesawat." Ucap Aisyah dan Asiyah sambil menarik-narik tangannya.



"Iya sebentar sayang.." ia berlari kecil mengikuti langkah putri kembarnya.tiba-tiba "Brugh..ia terjatuh begitupun dengan koper miliknya.



"Anak-anak,bantu umi nak." Aisyah dan Asiyah berlari menghampiri uminya.



Tiba-tiba "Azky..?" Seseorang memanggilnya dari belakang.



Ia menoleh ke arah sumber suara,mendongakan kepalanya menatap pria itu. "Om..?om Herlambang?" mata Azky membulat sempurna saat melihat pak Herlambang berada tepat di depannya.



Ia membantu Azky untuk bangun sambil memegang tangan cucunya. "Kalian mau ke mana? bawa koper sebanyak ini?" Tanya pak Herlambang sedikit terheran.



"Aku pindah hari ini om."



"Hari ini? kenapa kamu gak bilang? kan kita bisa bareng."



"Memangnya om mau ke mana?"



"Om mau ke jakarta."



"Jakarta? .Bukannya om mau pulang ke Sidney?"



"Om mau jenguk dulu putri bungsu om,dia kan ada di Jakarta mengurus butik milik Shafiah."



"Ooh.."



"Kamu juga mau ke Jakarta kan?" Pak Herlambang kembali bertanya.



Azky mengangguk. "Iya om,aku juga mau ke Jakarta.



Author minta tanda cinta kalian dong...


Jangan lupa selalu tinggalkan like Vote dan komen setelah membaca ya,biar Author tambah semangat. 🙏🙏😘😘

__ADS_1


Jangan lupa untuk Follow juga ya.🙏


__ADS_2