
Maaf ya telat UP,hari ini karakter tulisannya aku banyakin loh..hampir 1200 karakter,bisa untuk dua BAB,tapi gak apa-apa,aku UP seligus aja.mudah-mudahan masih pada suka.
HAPPY READING**
Abiyu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. "Aahh..malam ini benar-benar menguras emosi ku." Masih berbaring,ia melepaskan kancing bajunya satu persatu,sudah terlepas semua,namun masih menempel di tubuhnya.
"Tok..
tok
tok..
Kiran mengetuk pintu walau pintu tidak tertutup.Tidak berani masuk sebelum pemilik kamar mempersilahkannya masuk.
Abiyu hanya menaikan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. "Oh..Ran." Lalu ia pun duduk di tepian tempat tidur.
"Aku bawa teh hangat kak."
"Bawa sini Ran."
Kiran pun masuk ke dalam,lalu menyerahkan secangkir teh hangat langsung ke tangan Abiyu. "Makasi ya Ran." Ucapnya.
"Iya kak." Kiran menjawab dengan memandang ke arah lain.
"Kenapa?" ia mulai menyeruput tehnya,namun matanya masih melihat ke arah Kiran.
"Itu kak.." Menunjuk dengan jarinya.
"Itu apa?" Ia melihat ke bawah. "Oh..sorry Ran,sorry." Buru-buru ia mengancingkan kembali bajunya. "Maaf ya,aku gak sadar."
"Gak apa-apa."
"Bunda ke mana?" Bertanya sambil mengancingkan kembali bajunya.
"Nyonya di kamar Audy,soalnya tadi nangisnya kenceng baget,takut ada apa-apa."
"Paling di isengin Kayla." Ucap Abiyu sambil tersenyum.
he..he.. "Mungkin." Saut kiran.
"Ya udah deh,aku permisi dulu kak,mau beresin baju Kayla."
"Kkhhmm." jawabnya tanpa berkata,Abiyu kembali menaikan kakinya ke atas ranjang,menyalakan ponsel yang baru saja berdering notifikasi pesan masuk. "Satu pesan Om Bram"
Membuka pesan yang berisi.
Bram: Proposal kita di terima.
"Proposal? Aku bahkan udah lupa sama proposal itu." Abiyu mengacak rambutnya frustasi. Harusnya saat ini ia senang kegirangan,tapi masalah dengan sang istri membuat mood nya benar-benar berantakan.
"Syukur lah Om,usaha kita selama ini gak sia-sia,secepatnya kita buka cabang di Semarang." Balasan pesan dari Abiyu.
Hari berganti,kepergian Abiyu dan Kayla,membuat Kisya terus menangis di setiap malam,ia merasa benar-benar kehilangan setiap kali ia pulang ke Apartemen tidak mendapati siapapun di sana. "Hanya aku sendiri,tak ada yang menyambut,tak ada senyum,semua membenciku,kamu yang membuat mereka membenciku Abiy." Ia menangis terisak di balik selimutnya yang tebal. "Aku sendiri Abiy,kamu jahat." Hikss..hikss..Kisya terus menangis sampai tertidur karna kelelahan.
Pagi hari,Kisya nampak kelimpungan karna bangun terlalu siang,ia bahkan melupakan sarapannya,ia pergi ke kampus dalam keadaan perut kosong. "Sarapan di kantin deh." Ujarnya.
Di tengah perjalanan Kisya mendapat pesan dari Nindy. "Dosen killer gak hadir,ketemu di bioskop yuk? Gue pesenin tiketnya."
Tidak langsung membalas,ia menutup ponselnya di atas pangkuannya. "Gak ada mata kuliah? apa aku ke rumah bunda aja ya? Abiyu gak larang aku juga kan? Aku kangen sama Kayla." Ia terus berfikir. "Tapi.. kalau ada Abiyu gimana? nanti dia kePDan lagi,besar kepala."
Karna tak mendapatkan balasan,Nindy menghubungi Kisya dalam sambungan telfon. Ponsel Kisya berdering,masih di atas pangkuannya. Menggeser icone hijau,lalu menempelkannya di telinga,ia menerima telfon sambil bersandar santai. "Kenapa Nin?" Ucapnua lemas.
"Chat gue gak di bales."
"Sorry Nin,gue lagi di jalan." Ia menatap ke luar jendela.
"Naik taksi ya?"
"Kkhhmm.."
__ADS_1
"Laki lo ke mana? masih kabur-kaburan?"
"Dia di rumah orangtuanya."
"Aduh Sya...gue heran deh sama lo,kenapa sih laki kayak Abiyu lo tahanin? Cape deh gue."
"Udah lah,jangan bahas masalah itu. Males gue."
"Mangkannya gue ngajak lo nonton bioskop,ada film baru nih,gue beliin deh buat lo. Gratis."
"Aduh..gimana ya?"
"Gimana apa maksudnya?" Sela Nindy memotong percakapan.
"Gue mau ke rumah mertua dulu,gue pengen ketemu Kayla."
"Ya udah,ketemu Kayla,sekalian ajak dia nonton bioskop." Kali ini Nindy terkesan memaksa seperti ada sesuatu yang di rencanakan.
"Gila,gue gak akan di izinin lah,Abiyu gak pernah ngajak Kayla nonton bioskop orang dewasa."
"Ya lo gak usah bilang dong Sya."
"Lo nyuruh gue boong lagi?"
Kisya terdiam seraya berfikir. "Gimana ya?"
"Kebanyakan mikir. Udah,pokoknya lo kirim alamat apartemen mertua lo,nanti gue tunggu di sana." Tanpa mendapat jawaban dari Kisya,Nindy langsung memutus sambungan telfon.
"Ko di matiin sih? Aku kn belum bilang iya." kali ini Kisya menyimpan ponselnya ke dalam tas,kembali bersandar menatap ke luar.
Perjalanan menuju aprtemen Shafiah tidak terlalu jauh,begitu ia tiba di sana,Kisya langsung menanyakan keberadaan Kayla pada sang mertua. "Bun..Kayala mana?" Ia bertanya setelah masuk ke dalam,dan berjalan cepat menuju ruang keluarga,berharap dia ada di sana.
"Kayla lagi mandi Sya.."
"Oh." Karna sedang mandi,ia pun memilih menunggu duduk di sofa bersama Shafiah.
"Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Shafiah menatap intens wajah sang menantu.
"Aku.. Aku..baik ko bun." ia sedikit gugup dengan tatapan mata mertuanya,hingga ia menjatuhkan ponsel yang sedang ia pegang.
"Hei..hati-hati Sya.."
Kisya buru-buru mengambil ponselnya,lalu memasukkan ke dalam tas yang ia simpan di atas meja. "Maaf."
__ADS_1
"Oh iya,kamu jam segini belum ke kampus? libur?"
"Nggak bun,ada jam mata kuliah tapi nanti siang,sekarang kosong."
"Wah..bagus,gimana kalau kamu datang ke kantor Abiyu,kebetulan bunda masak makanan kesukaan Dia."
"Mmm.. "
Belum sempat menjawab,Shafiah cepat-cepat bicara lagi. "Bunda tau hubungan kalian belum membaik,tapi kalau di antara kalian gak mau pada ngalah,mau gimana ke depan nya nak?"
"Aku gak tau bunda,aku..takut Abiyu masih marah."
Shafiah duduk mendekat di samping Kisya. "Kamu coba dulu,rayu dia,terus berusaha mendapat kepercayaannya lagi." Panjang lebar Shafiah memberi nasihat.
Kisya terus mencerna semua perkataan Shafiah,sepertinya ia berhasil menyentuh hati Kisya,hingga ia mengangguk setuju. "Makasi ya bun,bunda selalu kasih aku nasihat." Ucap Kisya sambil memeluk Shafiah.
"Tapi nasehat bunda jangan di jadikan angin lalu ya nak,berusahalah berubah,jangan pernah ada yang kamu tutup-tutupi dari Abiyu,supaya ia juga paham dengan keinginaa mu."
Tak terasa Kisya meneteskan air mata dalam dekapa Shafiah,ia melihat itu,lalu menyeka air mata Kisya dengan jarinya. "Udah,jangan nangis,semua pasti baik-baik aja ko. Ayo siapain dulu makanan yang mau kamu bawa."
Kisya melepaskan pelukannya,lalu mengangguk setuju.
Sudah di kemas dengan sangat rapih,Kisya meninggalkan apartemen setelah bertemu dan bercanda sebentar dengan Kayla.yang penting cukup untuknya melepas rindu,walau masih rindu.
Begitu sampai di Restauran,ia melihat Bram sedang berbincang dengan pelanggan seraya mengangguk ramah.
"Abiyu ada?" Tanyanya dari kejauhan,Bram yang hanya melihat dari gerak bibirnya Kisya pun mengerti
"Masuk aja." Ucapnya dengan menggerakan tangan ke arah ruang kerja Abiyu.
"Ok." Kisya pun menghampiri Abiyu di ruang kerjanya.
Masih berdiri di sana,enggan untuk mengetuk pintu karna rasa gengsinya. "Tapi mau sampai kapan aku berdiri di sini?" Akhirnya ia pun mengetuk pintu perlahan. "Tok..tok..tok.."
"Masuk." Suara Abiyu terdengar jelas.
Kisya membuka pintu,namun masih berdiri di sana sambil menenteng rantang berisi makanan tadi. "*Jangan bilang bunda yang masak,bilang kamu yang masak ya*." Ia teringat pesan dari mertuanya. "Abiyu bakal besar kepala nih,masa aku harus ngalah sih?"
"Kisya?"
Jangan lupa untuk selalu mendukung ya.
LIKE
KOMEN
VOTE
BUNGA
__ADS_1
LOVE U 💋💋😍