Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 62


__ADS_3

Hampir satu minggu Abiyu mendapat perlakuan dingin dari sang istri. Walaupun Kisya sedang mendiamkan suaminya, ia tetap melayani Abiyu sebagai mana mestinya seorang istri juga seorang ibu.


Saat ini Kisya sedang memasak di dapur bersama mertuanya, juga bu Melisa. Mereka sedang memasak menu sarapan sebelum para lelaki bangun juga anak-anak bangun.


Abiyu yang ia fikir masih tertidur pulas, ternyata sudah bangun dan ikut bergabung dengan para wanita di dapur. Ia mengambil kesempatan ini untuk mendekati Kisya, karna dia tidak berani mengelak kalau di depan sang bunda, apa lagi neneknya.


Abiyu yang baru datang langsung memeluk Kisya dari belakang, lalu mencium keningnya di hadapan nenek dan bundanya tanpa rasa malu. Shafiah dan bu Melisa cuma bisa menggelengkan kepala atas sikap manja Abiyu.


"Maklum mah, casannya belum full," kata Shafiah berbisik di telinga bu Melisan, membuat dirinya tertawa geli mendengarnya.


"Abiyu.. Abiyu. kayak siapa coba sifat manjanya itu?" tanya bu Melisa pada Shafiah.


"Siapa lagi kalau bukan dari biangnya, Mah. Iya kan?"


Mereka berdua tertawa lepas, membuat Abiyu melonggarkan pelukannya.


"Iih... pada ketawa. Pada ngeledek ya?"


"GR.." saut Shafiah, dan langsung menarik tangan Kisya untuk menjauh dari Abiyu.


"Kenapa bun?" tanya Kisya setelah tangannya di tarik.


"Jangan deket-deket Abiyu. Dia belum mandi."


"Bunda apa-apaan sih? belum mandi juga wangi. Iya kan Yank?" bertanya pada Kiran, dan kembali menarik tangannya. Seolah tak ingin terlepas.


"Abiy. Jangan kayak gini. Aku lagi masak."


Dia kembali memeluk Kisya, dan kali ini mereka berdiri menghadap bunda juga neneknya.


"Bilang sama mereka kalau aku wangi."


"Itu namanya fitnah Abiy. Mana ada orang bangun tidur wangi. Aku gak mau berbohong."


"Idiih.. gitu banget jawabannya. Siapa yang tau-tau udah ambil posisi di atas kalau.." ucapannya mengambang saat tangan Kisya menutup mulut Abiyu rapat-rapat.


"Abiy..iih... nyebelin deh."


"Loh.. kenapa?" dengan susah payah Abiyu menurunkan tangan Kisya yang menutupi mulutnya.


"Itu rahasia kita. Jangan di umbar dong," katanya sedikit kesal, Kisya berusaha melepaskan tangan Abiyu yang terus melingkar di perutnya, namun Abiyu malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Udah sana, layani dulu suami kamu. Manja banget Abiyu. kalau kayak gitu, kapan istri kamu masak," saut bu Melisa.


Abiyu merasa senang, istrinya di izinkan melayaninya lebih dulu ketimbang memasak. Dia langsung mencium pipi neneknya, tanpa melepaskan tangan Kisya dari genggamannya.


"Nenek memang terbaik."


"Bunda nggak ya?" saut Shafiah sambil mengiris cabe.

__ADS_1


"Bunda juga dong."


Setelah mencium dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Abiyu mengajak Kisya ke kamar, untuk melayaninya lebih dulu, sebelum menjalankan aktivitas di dapur.


"Tersiksa dia kalau tinggal ama kita." kata Shafiah, bicara dengan bu Melisa.


"Kenapa?"


"Ya begitu itu lah kelakuannya mah. Selalu minta di layani terus."


"Ya repot dong Kisyanya?"


"Mau gimana lagi. itu belum Kayla bangun. Kalau Kayla bangun repot lagi."


Bu Melisa menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum, "Mereka satu turunan sama kayak papah, ya Zahfran, sekarang turun ke Abiyu."


"Biarin. Habis acara pernikahan Adlan, mereka pulang lagi ko ke apartemennya. Sekarang karna mau pernikahan Adlan aja mereka di sini."


Mereka terus berbincang hangat sambil memasak, sedang Kisya melayani Abiyu di kamarnya. Bukan melayani di atas ranjang, melainkan menyiapkan minuman hangat, juga menyiapkan air hangat untuk mandi.


"Padahal tinggal nyalain keran, kadar hangatnya juga tinggal di atur dari Keran ko. Masa kayak gini aja mesti aku sih?" Kisya menggerutu sambil mengaduk-aduk air hangat, memastikan hangatnya pas saat Abiyu berendam nanti.


Setelah selesai mengisi bathtub dengan air hangat, Kisya mematikan keran, lalu berdiri. Dan ternyata Abiyu sudah ada di belakangnya berdiri polos tanpa mengenakan pakaian.


"Ya ampun Abiy. Ngagetin."


Kisya melangkah hendak pergi, namun langkah kakinya kalah cepat dengan tangan Abiyu yang langsung menarik tubuhnya sampai jatuh ke dalam pelukannya.


"Temenin aku ya?"


"Nggak," jawabnya sangat cepat, sambil memalingkan wajahnya.


"Gak bisa. Pokoknya kita mandi berdua."


Abiyu merasa gemas dengan penolakan sang istri yang tidak ada habisnya. Dia terpaksa menurunkan rel sleting baju Kisya, membuka baju secara paksa, lalu menggendongnya masuk ke dalam bathup.


"Abiy..."


Saat Kisya berteriak, saat itu juga Abiyu membungkam mulutnya dengan bibirnya tanpa ampun, tanpa memberinya jeda bahkan sampai tersendak sampai kehabisan nafas.


"Iih..nyebelin ih.." memukul dada suaminya kesal.


"Udah ah. Jangan ngambek terus Nanti aku serang lagi nih."


"Jangan," menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Balik badan!" titahnya pada sang istri. Kisya pun memutar tubuhnya membelakangi Abiyu, Abiyu memeluknya dari belakang.


"Udah gak marah lagi kan?"

__ADS_1


"Nggak tau," jawabnya ketus.


"Kisya..."


"Iya gak, Abiy. Ampun," Menyerah saat tangan Abiyu kembali jahil di dalam sana.


"Aku tuh gak bisa di diemin sama kamu Yank, dunia tuh serasa sempit, gelap, gak ada penerangan sedikitpun."


"Lebay."


"Tuh kan, kalau di bilangin gak percaya."


"Nggak lah. Buktinya kamu tidur, tidur aja, makan, makan aja, kerja juga kerja aja, gak sama sekali berpengaruh."


"Siapa bilang? kamu gak tau aja di tempat kerjaan aku banyak bengong, sampe Om Bram aja bingung liat aku diem terus."


"Dih kenapa?" melirik ke samping, menatap wajah Abiyu dari dekat.


"Pake nanya lagi," menggelitik perut Kisya di dalam air.


"Iya, iya Biy."


"Jangan marah lagi ya?" pintanya penuh harap.


"Tergantung. Kalau bikin kesel lagi, ya marah lagi lah."


"Lagian bikin kesel apa coba?"


"Kiran," jawabnya jujur.


"Dengerin aku Yank. Aku menentang hubungan Kiran dengan Om Adlan, tidak lebih karna aku malu punya tante yang usianya di bawah aku. Lagian Kiran itu masih kecil. Gimana coba kalau dia gak bisa ngimbangin sikap dewasa Om Adlan? bisa-bisa mereka berantem terus. Iya kan?"


"Aku rasa nggak. Kiran kayaknya cukup dewasa, biar usianya masih 19 tahun, aku bisa ko liat sisi kedewasaannya."


"Biy..!"


"Kenapa?"


"Jujur ya. Sebetulnya aku salut juga dengan kedewasaan Kiran. Di saat aku marah besar, di saat aku selalu memojokan dia, dia selalu bisa mengendalikan semuanya dengan tenang, tanpa membalas dengan emosi, padahal dia berpeluang besar untuk melawan."


"Dan satu lagi yang buat aku salut sama dia. Dia sanggup mengendalikan perasaannya sama kamu. Gak bisa aku pungkiri, itu sikap yang sulit loh."


"Jadi ceritanya sekarang kamu udah sadar, kalau Kiran sama sekali gak ada niatan merebut aku dari kamu?"


Kisya mengangguk, "tapi yang aku takutin sekarang adalah hati kamu. Aku takut kamu juga menyukai Kiran, di saat Kiran gak cinta lagi sama kamu."


"Nggak kan Biy?"


Jejak jejak jangan lupa 🥰.

__ADS_1


Akan UP lagi setelah banyak LIKE juga banyak Komentar 🥰🙏


__ADS_2