
Aisyah kebingungan saat Gilang ingin melihat wajah Rani, sedangkan Rani sudah tertidur pulas.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Gilang menghubungi Rani melalui sambungan telepon, akan tetapi ia tidak mungkin menjawabnya, karena suara mereka jelas berbeda.
Wajah mereka mungkin sama, tetapi hijab yang Aisyah kenakan jelas berbeda dengan sang adik yang memilih tidak berhijab.
"Nggak mungkin aku buka hijab demi berpura-pura menjadi Rani," bergumam, juga kebingungan karena Gilang terus menghubunginya tiada henti, juga mengirim beberapa pesan.
Gilang : "Sebentar aja, Ran!" pintanya sangat memohon.
Aisyah : "Ok. Tapi aku ngintip di jendela aja ya, Kakak liat aku lewat teropong aja. Jadi aku nggak usah keluar."
Gilang : "Ya udah nggak apa-apa."
Gilang segera mengambil teropong di dalam lemarinya, lalu kembali ke balkon ingin melihat wajah sang kekasih yang sangat ia rindukan.
Senyumnya mengembang begitu sempurna saat melihat wajah Aisyah yang ia pikir Rani, di balik tirai kamar untuk menutupi hijabnya, seolah ia Rani yang tidak memakai hijab.
Gilang kembali mengirim pesan kepada sang kekasih.
Gilang : "Senyum dong!"
Membaca pesan dari Gilang, Aisyah pun langsung tersenyum karena ingin segera mengakhiri semuanya, lalu Aisyah pun kembali ke dalam, lalu mematikan lampu utama, menghidupkan lampu tidur.
Gilang kembali mengirim pesan.
Gilang : "Besok aku antar ke kampus ya, pulangnya kita jalan-jalan ke pantai."
Aisyah : " Iya." jawabnya singkat, jelas, padat.
Gilang : "I love you, Sayang. Mimpi indah."
Sandiwara pun berakhir.
Pagi Hari, di kantor tempat Adlan bekerja saat ini sedang kedatangan Pak Herlambang setelah mengadakan rapat mengenai Getring perusahaan yang akan diselenggarakan akhir bulan ini di kota lombok, dia juga berencana akan memboyong semua karyawannya tanpa kecuali.
Karena ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan dengan putranya mengenai keturunan yang belum mereka dapatkan, Pak Herlambang memutuskan membahasnya hari ini.
"Papah rasa, sudah saatnya kamu sama Kiran melakukan program hamil." ujar Pak Herlambang coba memberi solusi, Krena dia sudah ingin sekali menimang cucu dari anak keduanya, yang sudah lebih dari empat tahun menikah, juga belum diberi keturunan.
"Nanti aku coba bicara sama Kiran dulu, soalnya kita udah lama nggak bahas masalah ini lagi, Pah."
Pak Herlambang mengangguk. "Kalau Kiran setuju, nanti biar temen Papah yang menanganinya."
"Iya, Pah."
"Secepatnya kamu kasih papah kabar, kamu bisa kan sekalian bulan madu yang kesekian kalinya di sana."
"Bulan madu yang kesekian kalinya? kapan?" protes Adlan kepada sang Ayah, saat ia tidak memberikan putranya izin untuk berbulan madu hanya berdua dengan istri tercinta, melainkan memerintahkan beberapa staf untuk ikut dengannya untuk urusan pekerjaan.
"Papah cuma nyuruh sekertaris kamu aja, sama beberapa staf." Pak Herlambang mencari prmbelaan.
"Beberapa staf? dengan adanya Maria aja, saat itu aku terganggu, Pah. Dan Papah bilang hanya beberapa?"
Adlan menggelengkan kepalanya, sambil menatap ke arah lain karena kesal belum juga diizinkan pergi berbulan madu berdua, dan sekarang malah suruh rame-rame ke lombok, semua karyawan pula.
"Kapan bisa enak-enaknya? tau gitu mending kerja sama mas Fatih, enak bebas." ujar Adlan mendengus kesal, sedang Pak Herlambang malah tertawa.
Ha.
Ha.
__ADS_1
"Enak banget sih ngetawain anaknya sendiri." terus saja Adlan menggerutu sampai pada akhirnya Pak Herlambang pun bangkit dari duduknya hendak pergi.
"Nanti Papah kasih kamu bonus, kalau kamu berhasil menghamili istri mu," ucapnya sambil berlalu, Adlan masih memalingkan wajahnya karena kesal.
"Nyebelin banget."
Seketika, rasa kesalnya hilang saat mendapat pesan dari sang istri.
Kiran : "Mas. Aku ke mall Mas Fatih ya. Boleh kan?"
Pesan yang Adlan terima dari istri tercinta.
Adlan : "Mau ngapain?"
Kiran : "Pengen ketemu ajeng temen ku waktu dulu."
Adlan : "Ya udah, nanti aku nyusul ke sana."
Kiran : "Iya, Mas."
Setelah mendapatkan izin dari sang suami, Kiran pun akhirnya bisa menemui Ajeng teman seperjuangan saat berada di masa tersulit dulu.
Beruntung dia masih memiliki nomer ponsel sahabatnya itu, sehingga dengan mudah ia mengatur jadwal pertemuan untuk memberikan hadiah berupa uang untuk sahabatnya, sebagai rasa terima kasih karena dulu Kiran banyak dibantu olehnya.
"Makasi ya, Ran. Kamu baik banget."
"Nggak banyak ko, Jeng. Tapi, mudah-mudahan bermanfaat buat kamu," ucapnya seraya mengusap bahu Ajeng.
"Kamu sendirian ke sini?" tanya Ajeng sambil berjalan mendorong troli Kiran, hendak berbelanja kebutuhan.
"Iya. Tapi, nanti suamiku nyusul datang," saut Kiran.
Asik mengobrol, tiba-tiba troli yang sedang didorong oleh ajeng, tidak sengaja menyenggol seorang wanita, sehingga ponsel yang sedang wanita itu pegang jatuh ke lantai, dan pecah.
"Punya mata nggak sih lo?"
"Maaf, Mba. Saya nggak sengaja." ucapnya dengan menunduk.
"Enak banget lo bilang maaf. Lo fikir dengan kata maaf bisa balikin handphone gue yang rusak?"
Wanita itu terus memaki Ajeng, lalu Kiran melangkah maju untuk membela. saat tangan wanita itu hendak menampar sahabatnya, alhasil tamparan itu mengenai pipi Kiran.
Plak.
Tamparan itu sangat keras, sehingga Kiran jatuh tersungkur.
Saat wanita itu akan melayangkan tamparan lagi, seorang yang kebetulan ada di sana langsung menarik tangan wanita itu, lalu menyerahkan kepada sekuriti yang ia bawa.
"Kak Abiy..?" Kiran sangat terkejut melihat Abiyu yang tiba-tiba ada di sana, datang untuk membelanya.
Abiyu mengeluarkan sejumlah uang yang ada di dalam dompetnya, melempar uang ke depan wanita itu.
"Hitung, dan kalau kurang, kamu bisa kasih tau saya."
Menyelesaiakan masalah dengan wanita itu, Abiyu menghampiri Kiran, menanyakan keadaanya.
"Kamu nggak apa-apa?"
Kiran menggelengkan kepalanya. "Nggak, Kak. Makasi."
"Kamu sama siapa?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Sendiri, tapi suami ku lagi diperjalanan ke sini." ujar Kiran.
"Aku permisi, Kak."
Saat Kiran akan pergi, Abiyu menarik tangannya, sehingga langkah Kiran terhenti.
"Kak..."
"Kamu menghindari aku, Kiran?" ucapnya tiba-tiba.
"Kak Abiy, lepasin tangan aku!"
"Kenapa kamu menghindari aku?"
"Aku tidak menghindar dari siapa pun, Kak. Lepasin tangan aku."
"Lepaskan tangan istri ku, Abiyu."
Selesai dengan kelasnya siang ini. Rani diajak oleh Gilang ke pantai sesuai dengan janjinya semalam.
Mereka berjalan menyusuri pantai sambil bergandengan tangan, bermain dengan gelungan ombak yang tidak terlalu besar, tetapi cukup membuat baju mereka kebasahan.
Gilang merasa bahagia bisa kembali melihat senyum di wajah kekasihnya, dia melangkah mendekat, memeluk tubuh itu penuh cinta.
"Aku sangat mencintai mu, Sayang."
Mereka saling menatap satu sama lain, lalu Gilang mencium keninganya singkat sambil mengeluarkan kotak kecil berisi cincin untuk sang kekasih.
"Cincin?" tanya Maharani.
Gilang mengangguk, "Iya."
"Apa arti dari cincin ini, Kak?"
Gilang meraih tangan Rani, hendak menyematkan cincin itu di jari manisnya. "Aku mau kamu kita menikah."
"Apa?" Rani mengerutkan keningnya tidak mengerti.
__ADS_1
"Kamu mau kan menikah dengan ku, Asiyah Maharani?"