Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 6


__ADS_3

"Kak Gilang ngeselin ya Kak? jelas-jelas dia ngacungin golok ke arah ayahnya, pake ngelak segala lagi," kata Rani sambil merapihkan rambutnya di depan cermin kecil di tangannya, cermin dan sisir yang selalu ia bawa di dalam tas.


"Kayaknya dia emang gak mau ngebunuh deh Ran. Masa sih gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba mau ngebunuh ayahnya. Mereka kan gak lagi berantem," kata Isya sambil mentap ke depan seraya berfikir.


Pak Broto yang mendengar obrolan dua anak kembar itu langsung menyahuti.


"Emang siapa Non yang mau bunuh-bunuhan?" tanya pak Broto penasaran.


"Itu loh pak. Tetangga kita yang kerjaannya berantem terus tiap hari," saut Rani.


"Siapa?" Pak Broto masih kebingungan.


"Gilang Pak. Anaknya pak Darwin, yang pengusaha batubara itu loh. Iih.. bapak masa gak tau sih?" kali ini Isya yang menyahuti.


"Kalau itu bapak tau neng. Tadi kan neng bilangnya yang suka berantem. kalau yang suka berantem mah bapak gak tau, kecuali neng Rani sama neng Isya." he.. he.. he..


"Ih Bapak mah. Ngeselin."


"Maaf, Neng. Maaf."


Pak Broto terus melajukan mobilnya mengantar Isya lebih dulu, lalu ke sekolah Rani. Mobilnya berhenti di depan gerbang sekolah setinggi 3 meter. Rani keluar dari mobil setelah pak Broto membukakan pintu.


"Terima kasih bapak," ucap Rani dengan senyum ramah. Rani pun berlari masuk ke dalam sekolah, mengejar temannya yang terlihat sedang menaiki tangga menuju kelas. Setelah memastikan Rani masuk ke dalam kelasnya, pak Broto pun pergi dari sana.




Setelah menikah dengan Adlan, Kiran sekarang tinggal di rumah yang baru saja Adlan beli di salah satu komplek elit kota Jakarta, yang letaknya tak jauh dari tempat Adlan bekerja.



Adlan saat ini adalah seorang CEO salah satu perusahaan ternama di kota Jakarta. Sudah sangat lama pak Herlambang ingin memberikan perusahaan itu pada Adlan. Namun, karna dia baru menikah, pak Herlambang baru menyerahkannya sekarang.



Dan hari ini adalah hari pertama dia masuk kerja. Belum terlalu banyak yang mengenal sosok Adlan, bahkan banyak yang belum tau kalau Adlan sudah menikah, apa lagi tau sosok istri adlan seperti apa.



"Aku sendirian di rumah?" Kiran terus memeluk Adlan, enggan untuk melepaskannya.



"Sebentar sayang. Nanti siang aku usahakan pulang, Ya?" mengusap rambut Kiran, lalu mencium puncak rambutnya. Mau tidak mau Kiran pun melepaskan pelukannya.



"Oh iya. Ibu kamu kapan berhenti bekerja?" tanya Adlan sebelum masuk ke dalam mobil.



"Gak tau Mas. Ibu susah banget di bilanginnya. Katanya kalau gak kerja, gak enak. Ibu gak mau minta-minta ke anak-anaknya.



"Nggak lah. Justru sekarang kita saatnya ngasih ke orangtua. Nanti coba kamu rayu lagi"


__ADS_1


Kiran mengangguk.



Saat Adlan akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Kiran menahan tangan Adlan.



"Kenapa?"



"Maaf ya Mas. Kamu pasti malu punya mertua pembantu," kata Kiran sambil menunduk.



"Tuh kan? kumat lagi deh. Aku gak pernah malu, cuma aku pengen kamu sama ibu kamu itu hidup enak, gak perlu kerja lagi."



Kiran menatap wajah Adlan lekat-lekat laku mencium bibirnya singkat.



"Makasi ya Mas. Aku seneng dengernya."



"Iya. Nanti siang kita jemput ibu kamu ya.'




Waktu terus berjalan. Sekitar pukul satu siang Kelas Rani sudah bubar. Dia menunggu di jemput di depan pos satpam sambil makan jajanan sempol yang ia beli dari salah satu pedagang sekolah.



"Belum dateng juga neng yang jemputnya?" tanya Satpam itu pada Rani yang saat ini sedang duduk di kursi luar pos satpam.



Rani menggelengkan kepalanya, "Kayaknya kejebak macet deh."



"Ya udah. Tunggu di sini aja. Jangan ke mana-mana ya!" satpam itu pun berkeliling melihat situasi sekolah agar selalu dalam keadaan aman.



Masih menunggu, jajanan Rani sudah habis, dia merasa haus. Karna air minumnya habis, Rani beranjak dari kursi hendak membeli air minum di warung sebrang sekolah.



Tepat saat Rani menyebrang, belum sampai ke ujung, dari kejauhan segerombolan anak sekolah SMA berlari ke arahnya sambil membawa senjata tajam seperti cakram motor yang runcing, juga rante motor yamg melilit di masing-masing tangan mereka.



Rani menjerit. Anak SMA yang sedang tauran itu melakukan aksinya tepat di tempat rani berdiri. Semua sibuk dengan lawannya masing-masing, melayangkan pukulan demi pukulan pada lawannya.

__ADS_1



Rani menangis, masih berdiri di sana tak bisa bergerak. Karna sedikit saja bergerak, mungkin dia akan terkena sabetan senjata tajam mereka. Mau lari pun, lari ke mana? jalanan penuh dengan anak-anak SMA yang sedang tawuran. Dua satpam yang berjaga pun tidak bisa menghentikan aksi mereka.



Rani menutup matanya rapat-rapat sambil menangis jongkok di tengah-tengah keributan.



"Rani awaaaas..." teriak satpam itu saat salah satu anak akan melayangkan senjata tajamnya ke arah Rani. Beruntung ada salah satu siswa yang mendengar teriakan pak Satpam, dia langsung berlari ke arah Rani, menghadang senjata tajam itu dengan lengannya.



Dia terluka, Rani belum tau siapa siswa yang sudah menolongnya. Tak lama polisi pun datang. Karna tak ingin tertangkap, siswa itu pun menarik tangan Rani untuk melarikan diri, karna kalau tidak, polisi itu akan menangkap mereka, termasuk Rani karna dia berada di sana, di tengah-tengah siswa yang sedang tauran.



Mereka lari sekencang mungkin. Siswa itu menggeng tangan Rani sangat erat. Entah dia di bawa ke mana, Rani memaksa Siswa itu melepaskan tanganya, tapi bukan melepaskan, dia malah semakin mengeratkan genggamannya.



Tidak ada cara lain, selain berteriak, walaupun ia sudah memasuki area perkebunan, Rani terus berteriak.



"Tolooong..."



Mereka masih berlari, Rani melihat tangan siswa itu bercucuran darah. Dia baru ingat kalau ternyata pria ini yang tadi menolong dirinya dari sabetan senjata tajam. Karna saat pak satpam berteriak, Rani sempat mengintip dari sela-sela jarinya, kalau ada salah satu siswa melayangkan senjata tajam ke arahnya, dan di saat itu juga dia memejamkan mata sampai tidak tau siapa yang sudah menolongnya. Tapi sekarang, setelah melihat darah yang mengalir di lengan siswa ini, dia langsung tau, kalau siswa ini sudah menolong dirinya tadi.



"Kak. Tangan Kakak berdarah. berhenti dulu!"



Siswa itu tidak mendengarkan, dia terus berlari karna kondisi belum aman. Tapi saat Rani tersandung akar pohon, mau tidak mau siswa itu pun menghentikan langkahnya.



"Rani? kamu gak apa-apa?" tanya Siswa itu. Rani terkejut, ternyata siswa itu mengenal dirinya.



"Siapa kamu?"



Siswa itu terus menunduk, menutupi wajahnya dengan topi.



Rani sedih. Karna sepi jejaknya.


SEPI LIKE


SEPI KOMEN

__ADS_1


SEPI semuanya.😭😭.


__ADS_2