Dia Maduku

Dia Maduku
Bab 40


__ADS_3

Setelah melakukan perjalan udara selama beberapa jam,akhirnya mereka sampai juga di bandara international Soekarno Hatta.


Shafiah dapat merasakan suasana yang berbeda saat menginjakan kakinya di tanah air. Ketidak sabarannya untuk bertemu suami tercinta membuat ia meneteskan air mata setiap kali ia melangkah keluar dari bandara membawa sejuta harapan untuk masa depan rumah tangganya.


Shifa yang menyadari akan hal itu,langsung menggandeng tangan Shafiah sambil berjalan seraya memberi kekuatan dengan apa yang akan di hadapinya nanti.


"Mba bahagia?" Tanya Shifa yang langsung mendapat anggukan dari Shafiah dengan senyum penuh kebahagiaan.


Langkah demi langkah membawa mereka keluar dari bandara lalu mencari taksi sebagai kendaraan sementara menuju aparteman yang mereka sewa.


Saat Shifa melambaikan tangan pada salah satu taksi yang ada di depanya,cepat-cepat Shifa dan Shafiah menarik koper masing-masing. "Ayo mba,nanti taksinya di serobot orang." Kata Shifa sambil berlari kecil.


Buru-buru mereka berlari,namun baru beberapa langkah,koper Shafiah di tahan oleh Fatih yang mengekor dari belakang. "Astagfirullah..." Shafiah terkejut saat koper yang ia tarik terasa sangat berat.


"Mas,lepaskan koper ku." Ucap Shafiah berusaha menarik koper yang di tahan oleh Fatih.


Shifa pun menghentikan langkahnya.


"Kamu liat mobil di sana?" Fatih menunjuk mobil hitam yang ada di hadapannya.


"Kenapa?" Tanya Shafiah masih kesal.


"Itu mobil kita sekarang." Fatih langsung menarik koper milik Shafiah menuju mobil yang baru ia beli dari temannya yang berada di jakarta.


"Tapi mas,tujuan kita berbeda." Shafiah mengikuti langkah Fatih yang sangat cepat. "mas..mas Fatih..." Teriakan Shafiah tak menghentikan langkah Fatih yang terus saja berjalan cepat menuju mobilnya.


"Sudah lah mba,kita ikutin dulu aja,dia juga gak akan menculik kita kan?" ujar Shifa.


Saat sudah berada di depan mobilnya.Fatih langsung menerima kunci dari seorang supir yang di tugaskan. Setelahnya ia langsung memasukan semua koper milik Shafiah dan Shifa ke dalam bagasi mobilnya.


"Ayo cepat masuk." Kata Fatih setelah ia menutup pintu bagasi,lalu ia masuk ke dalam mobil,Shafiah dan Shifa masih saja berdiri mematung enggan tuk masuk.terlebih Shafiah,ia terus menatap Fatih dengan tatapan tidak sukanya.


"Apa lagi yang kalian pikirkan? Ayo masuk."


"Ayo mba,kalau kita terus berdiri,urusannya gak akan kelar-kelar."


Shafiah menatap ke sembarang arah menahan kekesalannya kepada Fatih yang terus mengikutinya.


Terpaksa mereka pun masuk ke dalam mobil lalu duduk di bangku penumpang.


"Sha..." Panggil Fatih saat Shafiah sudah duduk.


"Aku gak mau duduk di depan." Sela Shafiah mendengus kesal,Karna ia tahu,pasti Fatih memintanya untuk duduk di sebelahnya.


Fatih tersenyum menatap wajah Shafiah yang menahan marah. "Kamu tetap cantik kalau lagi marah.bisa-bisanya Zahfran membagi hatinya dengan wanita lain." Batin Fatih sambil melirik Shafiah dari spion.


Tak ingin menambah kekesalan Shafiah,Fatih pun segera menyalakan mobilnya,dan membawa mereka menuju apartemen yang mereka sewa.


"Mas,aku harap mas tidak menyewa apartemen di tempat yang sama dengan ku ya" Ucap Shafiah masih dalam perjalanan.


"Gak,aku gak sewa apartemen di sana."


Shafiah pun menghembusakan nafas lega. "Syukurlah." Ucapnya sangat pelan.namun masih terdengar oleh Fatih.


"Aku tidak menyewanya,tapi membelinya." Tukas Fatih sambil tersenyum.


"Mas.." Shafiah sedikit meninggikan suaranya.


"Loh..apa yang salah Sha?"


"Mas itu..betul-betul ya."


"Mba..sudah mba.." Sifa mengelus-elus bahu Shafiah seraya menenangkan.

__ADS_1


"Gak bisa Shifa,dia itu menyebalkan,waktu di rumah dia bilang hanya akan mengantar sampai bandara,setelah sampai bandara,dia malah ikut dengan kita,dan sekarang.." Shafiah menghentikan sejenak ucapannya berusaha mengatur pernafasannya menahan amarah.


"Dia bahkan menyewa apartemen yang sama dengan kita." Lanjut Shafiah penuh dengan emosi.


"Aku tidak menyewanya Sha,aku membelinya."


"Sam saja mas. Awas aja kalau mas sampai mengganggu kegiatan ku selama di jakarta."


"Tenang lah,aku juga punya kesibukan sendiri di sini,kamu fikir aku gak punya kerjaan." Ucapnya sambil menatap Shafiah dari balik spion kecil yang menggantung.


Tak ingin merespon,Shafiah memalingkan pandangannya menatap keramaina ibu kota jakarta dari balik jendela mobil. "Menyebalkan." Bergumam.



Tak terasa,sudah hampir satu minggu Shafaih dana Shifa tinggal di jakarta. semua keperluan butik sudah hampir legkap,tinggal menunggu hari yang tepat untuk acara peresmian.



"Mba,kapan nih kita resmikan butik kita?" Tanya Shifa sambil membereskan beberapa perlengkapan butik.



"Sampai aku menemukan mas Zahfran."



"Kapan mba akan mulai mencarinya?"



"Hhmm....bagaimana kalau sekarang? Kata Shafiah sambil tersenyum simpul.




"Aku antar ya." Tiba-tiba suara Fatih memudarkan senyum Shafiah.



"Gak perlu mas,aku cuma pergi ke rumah ku yang dulu." Tolak Shafiah setenang mungkin.



"Ayolah Sha,siapa tau nanti kamu membutuhkan bantuan ku."



"Ya mba,selama ini juga kan mas Fatih selalu membantu kita." Bisik Shifa di telinga Shafiah.



Nampak berfikir sejenak sebelum mengiyakan tawaran Fatih.."Baiklah."



Akhirnya mereka bertiga pun pergi dari butik menuju kediaman Shafiah dulu.



Setelah 20 menit,sampailah mereka di depan gerbang rumah itu. "Shafiah,itu rumah mu?' Tanya Fatih setelah menghentikan mobilnya di bahu jalan.


"Ya,ayo kita turun." Mereka bertiga pun turun dari mobil.

__ADS_1


" Mba,rumah mu masih seperti dulu kah? atau sudah ada yang berubah?" Tanya Shifa sambil menghampiri Shafiah.


"Sepertinya rumah ini sudah banyak berubah,wana pagar rumah ku dulu berwarna Gold,sekarang berwarna Ungu."


"Jangan-jangan pemilik rumahnya pun sudah berubah mba." Kata Shifa sambil menatap Shafiah dari dekat.


"Aku gak tau Shifa." Mata Shafiah terus menatap ke depan.


Tak lama setelah itu,seseorang keluar dari rumah itu sambil mengendarai motor.


Segera Shafiah menghentikan motor itu. "Mas..mas tunggu."


Motor pun berhenti. "ada apa mba?" Tanya pria parubaya itu.


"Saya mau tanya nama pemilik rumah besar ini siapa ya?"


"oh..ini rumah majikan saya,namanya Natali.."


"Natali..? Lalu pemilik rumah ini yang sebelumnya tinggal di mana?" Shafiah kembali bertanya.


"Saya gak tau mba.1ada yang bisa aku bantu lagi?"


"Tidak mas. terimakasi.'


Seketika tubuh Shafiah terasa lemas saat mengetahui kalau Zahfran telah menjual rumah impian mereka dulu.


Tak sanggup menahan tangis,ia menutupi wajahnya dengan kedua tngannya,hikss...hikss.. Shifa yang mengetahui keadaan Shafiah langsung menghampirinya dan membawanya ke dalam pelukannya. "Tenang mba,kita masih banyak waktu untuk mencari mas Zahftan." Ucap Shifa sambil mngelus pundak Shafiah


Namun Shafiah terus menangis dalam pelukan Shifa. "hikss..hikss.. kemana aku harus mencari mas Zahfran Shifa?"


"Tenang mba,coba kita cari ke apartemennya,siapa tau dia di sana."


Shafiah langsung melepaskan pelukannya. "Kamu benar shifa,mungkin dia tinggal di apartemen.Cepat mas?kita harus ke sana."


"Baiklah Sha." Tak bisa berkata apa-apa lagi,saat ini Fatih hanya bisa mengikuti kemaun Shafiah untuk mencari suaminya.


Setelah sampai di apartemen,lagi-lagi Shafiah harus menelan kekecewaan karna bukan hanya rumah,bahkan ia telah menjual apartemen miliknya pada orang lain.


" Shifa..kemana lagi aku harus mencari mas Zahfran? Kantor mas Zahfran sudah bangkrut,ia menjual rumah,bahkan apartemennya." Shafiah nampak kebingungan,dadanya terasa sesak,ia menyandarkan diri pada dinding sebagai tumpuan agar dirinya tidak jatuh karna lemas.


"Mas..kamu di mana? aku kembali mas,aku kembali untuk mu,aku sangat merindukan mu. Hikss..hikss..." Batin Shafiah menangis menjerit.


"mba,Kita cari rumah istri kedua mas Zahfran,siapa tau mas Zahfran tinggal bersama istri keduanya."


"Kamu benar,mungkin mas Zahfran tinggal bersama Azky."


"Tapi..kalau mereka benar tinggal bersama? bagaimana mba?"


"Mereka suami istri,wajar kalau tinggal bersama."


"Maksud ku...perasaan mu..bagaiman?" Ucap Shifa ragu-ragu.


"Aku sudah ikhlas Shifa,apapun kenyataan buruknya,aku sudah ikhlas menerima mereka ."


~


~


~


Seperti biasa,jangan pergi tanpa meninggalkan jejak ya, seperti si Zahfran yang ntah pergi ke mana tanpa petunjuk.🤭🤭🤗


Like dan

__ADS_1


Komen sebanyak-banyaknya supaya Author lebih semangat lagi. 🤗😘😘🙏


__ADS_2