Dia Maduku

Dia Maduku
Twins Maharani part 17


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Azky langsung mengambil alih, membantu Aisyah masuk ke dalam rumah, sedangkan Panji jalan di belakang mengikuti langkah mereka menuju kamar Aisyah, sambil menenteng tas milik Aisyah.


"Mau tiduran atau mau duduk di sofa?" tawar Azky setelah masuk ke dalam kamar putrinya. Panji yang juga ada di sana, meletakan tas Aisyah di atas meja lalu berdiri di belakang mereka.


"Duduk aja, Umi."


Karna ia memilih duduk, Azky menuntun putrinya duduk di atas sofa, begitupun dengan dirinya juga duduk disana.


"kamu kenapa sayang? Ko bisa pingsan? kecapean?" tanya Azky sangat khawatir, seraya memegang tangannya sangat erat. Aisyah pun menggelengkan kepalanya.


"Gak tau, Umi. Kayaknya nggak deh. Kalau kurang tidur, mungkin iya."


"Tuh kan. Umi bilang juga apa. Jangan sering tidur malem-malem, Nak."


"Aku kan belajar, Umi."


"Umi tau, Sayang. Tapi semua ada porsinya. kamu sering banget tidur malam loh," saut Azky seraya memberikan nasihat dan Aisyah pun mengangguk paham.


"Iya, Umi. Maaf."


"Ya udah. Sekarang istirahat ya," Azky membawa Aisyah ke dalam pelukannya untuk sesaat, sementara Panji turun ke lantai bawa hendak mengambil air minum, bahkan tanpa di suruh oleh siapapun. Dia memang sangat cekatan.


Masih berada di dalam kamar Aisyah, tiba-tiba Abiyu dengan Kisya mengetuk pintu kamar sebelum masuk ke dalam. Azky dan Aisyah pun menoleh ke arahnya.


"Abiyu?"


"Tante. Aisyah kenapa?" tanyanya sambil berjalan ke arah mereka lalu duduk di sebelah Aisyah, sedang Kisya duduk di single sofa sebelah Azky.


"Pingsan tadi di sekolah," saut Azky bicara pada Abiyu. Abiyu pun meletakkan punggung tangannya di kening Aisyah untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Adem," ujarnya.


"Udah di kasih obat tadi di klinik sekolah, Kak."


"Ya udah, kamu istirahat aja." Tak lama setelah itu, panji pun datang membawa nampan berisi tiga gelas air putih, lalu meletakannya di atas meja.


"Apa anda membutuhkan yang lain, Nyonya?" tanya Panji sedikit membungkuk hormat.


"Kayaknya nggak deh."


Setelahnya Panji pun undur diri keluar dari kamar Aisyah, kembali melanjutkan aktivitasnya di taman belakang.


Waktu terus berjalan. Tepat pukul 14.00 bel pulang pun berbunyi, biasanya lima menit sebelum bel, Panji sudah menunggu di depan Gerbang. Rani bergegas merapihkan bukunya, lalu berlari keluar dari kelas menuju tempat biasa.

__ADS_1


Karna Panji belum ada, Rani pun masuk ke dalam warung, memesan secangkir minuman dingin sambil menunggu kedatangan Panji. Belum juga minuman datang, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya, dan ternyata itu Gilang, sontak membuat Rani terkejut.


"Kakak?" matanya membulat sempurna, menatap tak percaya. Gilang yang merasa gemas, mencubit hidung mancung Rani, dan Rani langsung mengibaskan tangan Gilang dari hidungnya.


"Iih.. Kakak mah. Ngapain coba?" ucap Rani kesal. Gilang pun tersenyum.


"Habis lo lucu."


"Kakak ngapain di sini?" tanya Rani ketus.


"Nyamperin lo lah, kan gue janji mau jemput lo pulang sekolah," saut Gilang dengan entenganya. Tak lama es yang mereka pesan pun datang.


"Ini neng esnya."


"Ibu mah lama bikin esnya, masa jadinya bareng sama orang ini sih? aku kan dateng duluan," ucap Rani melayangkan protes. Ibu itu pun tersenyum.


"Lah si neng, si Aa ini mah dongkap tipayun neng," saut Ibu warung itu dengan bahasa yang Rani tidak mengerti.


"Ibu ngomong apa sih? kebiasaan deh, Rani kan gak ngerti."


"Belajar atuh, Neng," selorohnya membuat Gilang semakin tersenyum, dan Rani semakin kesal melihat senyum Gilang.


"Gak lucu. Kayak Kakak ngerti aja."


"Bohong," sautnya, sambil menyeruput es sampai habis setengah gelas karna kehausan.


"Lo mah gak percaya."


"Emang apa artinya?" tanya Rani penasaran. Dia bahkan duduk menyamping menghadap Gilang, demi mendengarkan penjelasaan Gilang.


Memang dasarnya Gilang memiliki sifat jahil, bukannya menjawab pertanyaan Rani yang sebegitu penasarannya, dia malah memancing amarah, menjawab pertanyaan Rani dengan ejekan.


"Dih. Penasaran juga neng?"


Jelas itu membuat Rani semakin kesal. Ia langsung membetulkan posisi duduknya, memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Ngeselin," gumamnya sangat pelan.


Gilang mendengar itu, tak ingin membuat Rani semakin marah, ia meraih tangan Rani yang sedang memegang gelas es, dan tangannya begitu dingin saat ia genggam.


"Jangan megang gelas es, nanti tangannya beku loh," ujar Gilang, membuat Rani sedikit mengibaskan tangannya.


"Apaan sih?"

__ADS_1


Bukannya melepaskan tangan Rani, Gilang malah semakin menautkan jemarinya, membuat Rani tidak bisa berbuat apapun selain bengong melihat jarinya di genggam erat oleh Gilang.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, akhirnya Gilang pun menjawab pertanyaan Rani sebelum ia kembali marah.


"Nih. Gue kasih tau ya. Dongkap tipayun itu, artinya, datang duluan." Kali ini Gilang menjawab pertanyaan Rani dengan benar.


Masih tidak percaya, Rani pun kembali bertanya pada ibu warung untuk memastikan.


"Emang iya gitu, kalau itu artinya?"


Ibu warung itu pun mengangguk, "Bener tuh neng. Bisaan si Aa teh gening," sautnya sambil mengaduk-aduk mie pesanan siswa-siswi yang juga sedang jajan di sana.


Rani menatap tak percaya, "Emangnya Kakak di sini dari kapan?"


"Sejam yang lalu."


"Ngapain?"


"Gue gak mau keduluan sama si Panji, ntar lo pulang sama dia lagi," selorohnya sambil menyeruput es yang ia pesan tadi. Biar rasanya tidak semanis pertama, Gilang tetap menghabiskannya, karna kehausan.


Setelah menghabiskan minumannya, Gilang merogoh saku, megeluarkan uang satu lembar bernilai 20.000 untuk membayar dua gelas es teh manis.


"Kembaliannya, Jang."


"Udah buat Ibu aja."


"Beneran?"


"Iya."


Setelah itu, mereka pun keluar dari warung sambil bergandengan tangan. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Panji datang dan pandangannya langsung tertuju pada tangan Rani yang masih di genggam erat oleh Gilang.


Entah kenapa Rani merasa takut, dia berusaha melepaskan tangannya, namun Gilang malah sengaja semakin mengeratkan genggamannya.


Panji yang biasanya langsung menyerang Gilang saat dekat-dekat dengan Rani, kali ini dia tidak melakukan hal apapun, setelah menyaksikan kegiatan mereka di dalam warung tadi.


Mereka terlihat akrab, dan Rani terlihat mulai nyaman berada di samping Gilang, Panji yang hanya seorang tukang kebun juga seorang supir anak majikannya, tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah, dan membiarkan Rani dengan kebahagiaannya.


Bersaing? tidak. Dia cukup tau diri, siap dia? siapa Gilang? dan siapa Rani? Gilang merupakan anak seorang pengusaha batubara, sedangkan dirinya tidak punya kedudukan apapun, selain hanya seorang tukang kebun. Tukang kebun yang merangkap jadi sulit pribadi putri kembar majikannya.


Mustahil bukan? tidak ada yang bisa ia lakukan, selain menundukan kepalanya di depan Rani, lalu meminta maaf karna terlambat menjemput.


"Maafkan saya. Saya benar-benar meminta maaf."

__ADS_1


__ADS_2