
Plak.. penuh emosi Azky menampar pipi Adlan. "jaga sikap mu pada ku tuan Adlan." Tegas Azky menatap penuh amarah.
Adlan mendengus kesal.Sorot mata tajam menatap Azky. "Tinggalkan kakak ku,jangan rusak kebahagiaan mereka."
"Aku..? aku yang merusak kebahagiaan mereka? kamu meminta aku untuk meninggalkan kakak mu? Ciih..senyum Azky menyeringai sambil menatap ke sembarang arah. "Seharusnya dari dulu kakak mu tinggalkan aku Adlan."
"Lalu apa bedanya dengan kamu yang meninggalkan kakak ku?" Saut Adlan.
"Kakak mu sudah terlalu jauh menyeret ku masuk ke dalam kehidupannya,aku sekarang sudah bahagia Adlan,jangan coba runtuhkan pertahanan yang selama ini aku bangun." Ucap Azky dengan sorot mata tajam.
Adlan mencengkram kuat tangan Azky. "Kamu mencintai kakak ku?"
"Lepaskan tangan ku." Ucapnya penuh penekanan.
"Jawab aku,apa kamu mencintai kakak ku?"
"Itu bukan urusan mu, Kita tidak ada urusan lagi,Sekarang lepaskan tangan ku." Teriak Azky.
"Kalau kamu tidak mencintainya,untuk apa kamu bertahan Azky."
"Kamu mau dengar..?" Azky kembali berteriak.
Adlan terdiam,masih menggenggam kuat tangannya.
"Kamu mau tau bagaimana perasaan ku pada kakak mu? Baiklah. Aku sangat mencintai kakak mu,sekarang aku sudah bahagia hidup bersama kakak mu Adlan,aku tidak perduli lagi dengan status istri kedua kakak mu,jadi jangan ganggu hidup ku lagi."
Sangat kuat Adlan menghempaskan tangan Azky.hingga nampak merah di pergelangan tangannya. "Kamu wanita murahan Azky."
"Aku tidak perduli kamu mengatakan apa tentang ku,yang pasti sekarang aku bahagia hidup bersama kakak mu."
Tak ingin berdebat lebih jauh lagu, Azky memutuskan pergi meninggalkan Adlan. Ia melewati Adlan begitu saja. Adlan terus menatap punggung Azky yang melangkah semakin jauh menatap penuh amarah.
Sebelum pulang,ia memilih duduk di halte bis mencoba meredakan dulu emosi dan tangisnya,beberap kali ia menyeka air mata yang tak ada hentinya terus mengalir.
Namun tiba-tiba,seseorang memanggilnya dari kejauhan. "Azky..?"
Azky menoleh ke arah sumber suara. "Mas Fatih?"
Melihat keadaan Azky yang kacau,Fatih pun turun dari mobilnya dan menghampiri Azky yang sedang duduk di halte bis.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Fatih duduk di sebelah Azky. "kamu kenapa?" Tanya Fatih.
Azky menggelengkan kepalanya." Gak apa-apa mas."
"Kalau gak apa-apa kenapa kamu nangis?"
"Aku gak apa-apa,tolong jangan bertanya lagi,ini masalah pribadi ku." Kata Azky.
"Ok.Ok kalau kamu gak mau cerita gak apa-apa. Tapi izinin aku antar kamu pulang ya?"
"Aku bisa niak angkot."
"Ini sudah malam,ayo ikut aku."
"Tapi..?"
"Azky,ayo lah,aku cuma mau antar kamu pulang ko."
"Baiklah."
"Kamu gak suka aku beliin Handphone?" Wajah Shafiah berubah masam.
"Bukan begitu sayang,aku merasa malu kalau kamu memberikan ku barang mewah seperti ini." Zahfran menarik tangan Shafiah membawanya duduk di atas pangkuannya. Shafiah pun langsung menautkan kedua tangannya di bahu Zahfran. "Maaf ya,jangan marah." Kata Zahfran.
"Baiklah mas,lain kali kalau aku mau membelikan mu sesuatu,aku pasti bilang kamu dulu."
Mata Zahfran terus memandangi bibir Shafiah dari jarak yang sangat dekat,ia buka hujab itu lalu meletakannya di atas meja,Rambut Shafiah yang panjang terurai,ia singkapkan ke belakang hingga nampak tengkuk leher Shafiah yang sangat putih.
Shafiah ingin mengatakan sesuatu,namun bibir Zahfran dengan cepat membekam bibirnya,tak bisa berbuat apa-apa Shafiah membiarkan Zahfran menci\*minya sampai puas.
tangan kekar Zahfran mulai menyusuri punggung Shafiah,ia mengeratkan pelukannya,perlahan ia menurunkan sleting yang terletak di belakang baju,setelah terbuka,Shafiah dapat merasakan dinginnya angin menyentuh kulit punggungnya,saat Zahfran akan membuka bajunya,tangan Shafiah langsung menahannya. terkejut karna tangannya di pegang oleh Shafiah,Zahfran melepaskan ci\*mannya. "Kenapa sayang?" Tanya Zahfran sambil menatap intens mata sang istri yang memiliki bulat hitam yang sempurna.
__ADS_1
"Tidak di sini mas,kita kan sudah janji,akan melakukannya di rumah baru kita."
"Aku tau sayang,tapi biarkan sebentar saja seperti ini."
"Nanti kalau Azky pulang bagaiman?" Tanya Shafiah.
"Jadi aku harus menunggu lagi?"
"Hanya sampai besok mas,besok kan kita pindah ke rumah baru."
"Hhmm.. Baiklah sayang ku." ia mencubit hidung Shafiah yang mancung.
"Sekarang kembalikan baju ku ke posisi yang benar." Shafiah masih menautkan tangannya di bahu Zahfran.
"Baiklah." Ia menaikan baju Shafiah yang sempat terbuka hanya sampai batas dada,lalu ia kembali menaaikan sletingnya.
Shafiah bangkit dari pangkuan suaminya,namun tangan itu enggan untuk membiarkan Shafiah untuk berdiri. "Mas,turunkan aku."
"Beri aku satu ci\*man."
"Cup..sudah?" Sesuai permintaan,hanya ciuman singkat.
"Lagi."
"Lagi."
"Mas...!" merasa di kerjain,ia memukul dada suaminya.
"Baiklah." Zahfran membiarkan Shafiah turun dari pangkuannya.
"Aku buatkan kamu teh hangat ya."
"Boleh,tapi pakai lagi kerudung mu,adik ku tidak akan tidur kalau melihat mu seperti itu."
"Mas..apa sih..malu tau." wajah Shafiah berubah merah menahan malu.
"Malu sama siapa?di sini hanya kita berdua."
Shafiah kembali mengenakan kerudungnya cepat-cepat ia pergi ke dapur kalau tidak,suaminya akan menerkamnya kembali.
Saat Shafiah sedang berada di dapur,terdengar olehnya suara Azky dan Fatih mengucapkan salam. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Zahfran yang masih duduk di sofa.
Tak ingin terlihat wajah sedih oleh suaminya,Azky memilih langsung masuk ke dalam kamar,dan Fatih duduk di ruang tamu bersama Zahfran.
__ADS_1
"Kenapa dia?" Tanya Zahfran pada Fatih.
"Aku gak tau,tadi aku ketemu dia di halte bis,dan aku liat dia sedang menangis."
"Menangis? kenapa?" semakin penasaran.
"Siapa yang menangis?" Tanya Shafiah sambil membawa nampan berisi 3 gelas teh hangat.ia meletakan satu persatu gelas itu di atas meja.
"Azky,aku tadi menemukan dia sedang menangis di halte bis." Kata Fatih.
"Dia gak cerita apa-apa?" Tanya Shafiah semakin penasaran.
"Tidak,sepanjang perjalanan dia tidak berkata apapun."
"Aku temuin dulu Azky ya mas."
"Ya." Shafiah beranjak dari tempat duduknya,menghampiri Azky di kamarnya dengan membawa segelas teh hangat.
"Tok..tok.. Azky,aku masuk ya." Shafiah membuka pintu kamar pelan-pelan,nampak Azky sedang duduk di pinggiran tempat tidur beberapa kali ia keyeka air matanya.
"Mba,maaf.aku kurang enak badan,jadi aku langsung masuk ke kamar."
"Gak apa-apa,aku bawa teh hangat buat kamu,di minum ya." Shafiah meletakan gelas itu di atas nakas,lalu duduk di sebelahnya.
"Gak mau cerita ya?" kata Shafiah sambil menatap wajah Azky dari samping.
"Maaf mba." Ia menundukan wajahnya.
"Siapa tau aku bisa bantu,ayo lah." Shafiah membawa wajah Azky untuk menatap wajahnya.
Tak mampu lagi membendung air mata yang terus memaksanya untuk jatuh,akhirnya ia pun menangis dalam pelukan Shafiah. "Mba...." Hiks...hiks...
~
~
~
Sabar ya reader,masih on proses menuju puncak tujuan mereka,kita nikmati dulu alurnya ya.😘😘
Stay terus ya.love you Reader ku 😘😘
Seperti biasa,setelah baca,jangan lupa jempolnya di tekan 👍👍
Dan komentar sebanyak-banyaknya.
Author selalu menerima masukan dari para Reader.
Terimakasi banyak yang sudah memberikan Vote untuk karya author yang sederhana ini.
Vote dari yang lainnya Author tunggu ya.
__ADS_1
Semoga Allah mebalas kebaikan reader semua.😘🙏