
Shafiah tak sadarkan diri,Abiyu menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh sang bunda. "Bangun bunda.." hikss..hikss..
"Aby.. panggil ambulan." Seru Kisya yang tak kalah paniknya.
"Iya..ambulan." Abiyu merogoh sakunya,mengeluarkan benda pipih itu,lalu menghubungi no darurat yang ada di dalam ponselnya.
"Alesha,gimana niih..?." Timi dan Alesha panik melihat keadaa Shafiah.Mereka bersiri di belakang punggu Abiyu.
"Gue gak tau mi.." saut Alesha.
"Kalau ada apa-apa sama tante ini gimana? gue gak mau di tangkep polisi,gue gak terlibat dalam masalah ini."
"Enak aja,lo juga harus bertanggungjawab dong."
"Gue gak ngelakuin apa-apa,itu semua ide gila lo,udah gue bilang,tante ini lagi hamil,tapi lo kekeh."
"Aah..udah-udah..berisik lo.. lo juga ikut andil kan?"
Timi menggelengkan kepalanya. "Nggak,gue gak mau,apa lagi kalau..dia mati... gue gak mau." Timi melangkah mundur lalu pergi berlari meninggalkan Alesha sendiri.
"Timi..." Alesha berteriak,namun yang di panggil pun sudah tidak perdulu dengannya,ia terus berlari tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Sial.." Alesha mendengus kesal. "Gue juga harus kabur,sebelum mereka menyadari kehadiran gue di sini"
Namun sayang,saat akan melangkah,dengan sangat cepat Kisya menarik kaki Alesha hingga ia jatuh tersungkur. "Bugh..." "Aaww..." Alesha meringis kesakitan saat dengkulnya membentur lantai lebih dulu.
"Mau ke mana lo khak?"
"Lepas.." Alesha menendang tangan Kisya dengan kaki satunya
Kisya malah semakin menarik kaki itu lalu berteriak memanggil petugas keamanan
"Security..!"
"Lepasin gue." Alesha terus berontak.
"Jangan harap gue lepasin lo Alesha. Udah cukup lo ganggu hidup gue sama Abiyu. Kali ini gak ada ampun lagi." Ucap Kisya dengan tegas. "Security..." Kisya berteriak lagi dan lagi sampai Security benar-benar datang untuk mengamankan Alesha.
kondisinya Shafiah semakin lemah,ia mengalami pendarahan hebat,penanganan awal sudah di lakukan di dalam Ambulance,namun tetap tidak mendapat respon sedikitpun. "Denyut jantung ibu ini melemah,begitupun dengan janinnya." ujar salah satu perawat pada temannya.
"Berapa usia kandungan ibu mu?" perawat itu bertanya pada Abiyu yang duduk di sebelahnya.
"Aku gak tau persis,tapi..bunda bilang kurang dari dua bulan dia akan melahirkan." Saut Abiyu terbata.
"Gawat.."
Zahfran yang masih berada di kantor,begitu mendapatkan kabar kalau sang istri mengalami pendarahan,sudah tidak memikirkan apapun lagi,ia bergegas pergi meninggalkan kantor menuju rumahsakit
Sepanjang perjalanan ia tidak berhenti memikirkan kondisi sang istri,rasa takut menyelimuti dirinya,bahkan beberap kali ia sempat akan menabrak orang yang berlalu lalang di pinggir jalan.
Begitu sampai di rumahsakit,ia langsung berlari menuju ruang tindakan,ia berusaha menerobos masuk untuk melihat langsung kondisi sang istri,namun sayang langkahnya terhenti oleh dua Security yang berjaga di sana. "Anda tidak bisa masuk tuan,istri anda dalam penanganan dokter specialis." Ujar salah satu Secutity yang berusaha mencegar Zahfran masuk.
"Saya suaminya." Bentak Zahfran.
"Siapapun anda,kalau dokter tidak memberikan izin,maka tidak akan ada yang bisa masuk."
__ADS_1
"Zahfran.. sabar,Shafiah pasti baik-baik saja." Bu Melisa mencoba menenangkan putranya.
"Mah,aku takut...aku takut kehilangan mereka,aku takut kehilangan istriku." Ia meneteska air mata,bahkan semua orang dapat melihat bagaimama Zahfran sangat menghawatirkan istri dan calon bayinya.
"Mamah tau nak,tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan berdoa,kita doakan yang terbaik buat mereka."
Pasrah,karna memang tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa,dan menyerahkan semuanya kepada sang maha pencipta,dan dokter yang menanganinya.
30 menit lamanya mereka menunggu,akhirnya dokter yang menangani Shafiah keluar dari ruang tindakan. "Siapa di antara kalian yang menjadi suami pasien?"
"Saya dokter." Zahfran langsung berdiri menghampiri dokter itu. "Bagaimana istri saya dok?" Kepanikan nampak jelas di wajahnya,bukan hanya Zahfran,semua yang hadir di sana merasakan ketegangan yang sama.
"Kondisi istri anda semakin lemah,tuan. Dan kemungkinan bayi yang ada di dalam kandungannya tidak bisa di selamatkan."
"Apa..?" Zahfran mengernyitkan dahinya. "kenapa tidak bisa?" Semua panik,bahkan semakin panik saat mendengar kondisi Shafiah yang semakin melemah.
"Kami tetap akan berusaha menyelamatkan keduanya tuan,saya memberitahu anda kemungkinan terburuknya sebelum kami melakukan oprasi. Apa anda setuju?"
"Kalau begitu,ikut dengan saya,untuk mengurus berkas-berkasnya."
"Baik dok."
Setelah mengurus berkas-berkas,dokter segera melakukan oprasi,walaupun kemungkinan besar hanya ibunya saja yang bisa di selamatkan,dokter tetap berusaha untuk menyelamatkan keduanya.
2 jam berlalu mereka menunggu di ruang tunggu yang tersedia. Keluarga besar Malique,bahkan Rafa dan Dewi pun ikut hadir di sana.
Tak lama setelah itu,Dokter yang menangani oprasi sang istri akhirnya keluar dari ruang oprasi,dan memberikan kabar baik,kalau ibu dan bayi yang berjenis kelamin perempuan dengan berat 2kg dapat di selamatkan.
"Terimakasi ya Allah,engkau telah menyelamatkan mereka." Ucap syukur Zahfran dengan memeluk bu Melisa,kembali ia meneteskan air mata,di bahu sang bunda,namun kali ini bukan air mata kesedihan,melainkan air mata kebahagiaan.
Zahfran melepaskan pelukannya,kembali bicara dengan Dokter. "Bisa saya menemui istri saya sekarang dok?"
"Untuk saat ini belum bisa,karna beliau masih belum sadar,kita tunggu 2 jam lagi ya,kalau sudah sadar,anda bisa menemuinya."
__ADS_1
"Putri ku?"
"Putri anda berada di dalam inkubator,untuk sementara hanya bisa melihat di balik kaca."
"Tapi dia baik-baik saja kan dok?"
"Insyaallah baik,hanya berat badannya saja yang kurang,karna kelahirannya yang prematur."
"Setidaknya mereka selamat dok,terimakasi sudah menyelamatkan istri dan putri ku." Ucap Zahfran dengan menggenggam tangan dokter itu.
"Sama-sama,ini juga berkat doa keluarga besar,hingga oprasi berjalan sesuai dengan yang di harapkan."
Semua nampak bahagia,dengan keselamatam Shafiah yang sudah berhasil melewati masa kritisnya.
3 jam berlalu,akhirnya Shafiah sudah sadarkan diri,bahkan suster yang merawatnya,sudah beberapa kali keluar masuk ruangan menemuinya.
Namun sayang,saat Zahfran akan masuk menemuinya,suster yang bertugas melarang ia menemui sang istri. "Kenapa sus? kenapa saya tidak boleh mauk?" Kata Zahfran terheran.
"Saya tidak tau tuan,istri anda sendiri yang memintanya."
"Kalau begitu biar saya yang menemuinya." Timpal bu Melisa."
"Anda juga tidak bisa nyonya. Maaf."
"Kenapa?"
Suster itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Maaf ya telat UP,buka sengaja,Author di rumah ngurus yang sakit,kebetulan Anak sa Ibu sakit di waktu yang bersamaan.
Mudah-mudahan tidak banyak yang kecewa ya,mohon doanya juga untuk kesembuhan Ibu dan putri saya. 🤗🙏
Stay terus,jangan lupa jejaknya.
LIKE
KOMEN
__ADS_1
VOTE