Dia Maduku

Dia Maduku
Abiyu Kisya part 57


__ADS_3

"Ya. Emng gak masalah sih," saut Zahfran sedikit gugup


"Kkhhmm.." suara deheman Shafiah membuat Zahfran salah tingkah dan langsung memeluknya.


"Itu kan masa lalu sayang. Sekarang kan aku cuma milik kamu seorang," kata Zahfran sambil mencium singkat bibirnya di hadapan Adlan juga Abiyu.


"Skip ayah. Ada kita di sini," kata Abiyu.


"Tau iih... Mas. Suka hilang kendali deh," kata Shafiah.


"Lagian aneh-aneh aja. Nanya kayak gituan sama aku. Kamu urus masalah kamu sendiri, kamu udah besar Adlan. Bukan cuma sudah besar, udah tua juga. Kalau mau nikah, cepetan nikah. Gak usah di nanti-nanti, ntar malah gagal lagi."


"Tapi gak dengan Kiran. Aku gak mau punya tante anak kecil," timpal Abiyu terus kekeh menentang hubungan Om nya dengan Kiran.


"Om tetap bisa menikah, sekalipun itu tanpa izin dari kamu, Abiyu."


"Om.." Abiyu meninggikan suaranya, dan langsung mendapat teguran dari sang ayah.


"Abiyu! Ayah gak pernah ajarin kamu bersikap tidak sopan sama Om kamu."


"Om Adlan yang yang ngeselin, Ayah."


"Ngeselin gimana?" kata Zahfran.


"Lagian Om ke sini, cuma mau bilang, kalau Om akan segera menikahi Kiran. dengan atau tanpa persetujuan dari kamu Abiyu."


"Lagian. Kamu itu kenapa sih? kamu cemburu? atau... kamu marah karna Kiran udah gak cinta lagi sama kamu?"


"Om. Jangan sembarangan ya kalau ngomong. Sedikitpun aku tidak menyimpan perasaan untuk Kiran. Tidak sedikitpun."


"Tapi sikap kamu berkata lain Abiyu," tiba-tiba suara Kisya berada di tengah obrolan mereka.


"Yank..? belum tidur?"


Kisya menuruni anak tangga, lalu berdiri di depan Abiyu, menatap tajam dengan mata memerah menahan emosi, "Kenapa kamu sangat menentang hubungan Om Adlan dengan Kiran? kenapa sekeras itu? kenapa Abiy..?"


"Karna dia terlalu muda, Om Adlan gak cocok sama Kiran," kata Abiyu.


"Lalu apa urusan kamu? mau dia lebih mudah, atau lebih tua, toh bukan kamu kan yang menjalani hubungan?"


Kisya melangkah mendekat, "Kenapa sih Biy? kenapa kamu harus nunjukin perasaan cemburu kamu secara terang-terangan? kamu nyakitin aku, Abiy, kamu nyakitin perasaan aku." hiks.. hiks..


"Yank. Bukan gitu. Aku samasekali gak suka sama Kiran, apa lagi cemburu. Aku cuma gak mau aja punya tante anak kecil. Usia Kiran dengan kita aja, masih tuaan Kita, Yank," kata Abiyu menjelaskan.


"Biarin aja. Kalau mereka saling mencintai, kenapa nggak?"


"Iya, Nak. Adlan gak salah ko suka sama Kiran. Bunda rasa Kiran sudah cukup dewasa dan bisa mengimbangi sifat Adlan," timpal Shafiah.


"Nah... itu Mba Shafiah ngerti. Good Mba," kata Adlan sambil mengacungkan dua jempol untuk sang kakak.

__ADS_1


"Gak ada masalah ya kalau aku nikain Kiran bulan depan?" Adlan bertanya pada semua orang disana. Semua mengangguk setuju. Kecuali Abiyu yang lrbih memilih memalingkan wajahnya mematap ke arah lain.


"Asal bulan depan aja. Izin dulu sama papah," saut Zahfran.


"Iya lah Mas. Aku pasti minta restu mereka. Nanti aku telepon deh."


"Jangan telepon. Kamu pulang dulu ke Sidney. Kasian mamah pengen ketemu kamu. Sibuk pacaran mulu sih."


"Iya, iya. Nanti aku pulang."


Setelah mendapat izin dari keluarga Zahfran. Kini tinggal Adlan bicara dengan Fatih.


"Yang pernah jadi pengasuh Kayla?" tanya Fatih terkejut.


Adlan memgangguk, "Iya."


Berbeda dengan Fatih. Azky merespon perkataan Adlan biasa saja, ia malah cenderung tersenyum melihat Adlan.


"Kenapa ketawa?"


"Lucu," kata Azky sambil cekikikan.


"Lucu?" Adlan duduk bersandar di atas sofa. sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Ko semua orang ngetawain aku sih? karna Kiran masih anak kecil?"


"Kamu gak mengidap suatu penyakit kan Lan? atau. Kamu masih normal kan? masih bisa berdiri kan?"


"Wah...ini sih namanya penghinaan. Mas Fatih mau bukti? atau harus aku buktikan dulu sebelum menikah?" kata Adlan asal.


"Hus.. Adlan, sembarangan," kata Azky. Sedang Fatih malah tertawa terbahak mendengar ocehan Adlan.


"Udah. Mending sono cepetan pulang ke Sidney kalau mau serius nikahin si Kiran. Jangan lama-lama, ketuaan, keburu loyo lagi."


"Mas... Udh ah, ledekin Adlan terus."


Kasian juga Adlan jadi bulan-bulanan Fatih. Tapi dia juga ikut senang, akhirnya Adlan sudah menemukan kekasih hatinya, setelah dulu ia mencintai Azky cukup lama.


Setelah mendapatkan semua restu, dari kakak-kakaknya, Adlan mengirim pesan untuk Kiran yang berisi :


Adlan : Masalah dengan Abiyu sudah selesai.


Dia mengirim pesan sambil mengepak baju ke dalam koper, karna rencananya malam ini dia akan terbang ke Sidney dengan penerbangan terahir.


Kiran yang baru saja akan tertidur, karna mendengar notif pesan masuk, kembali duduk bersandar sambil membuka, lalu membalas pesan Adlan dengan senyum sumeringah.


Kiran : Alhamdulillah ( tak lupa juga menyertakan emotikon tersenyum ).


Adlan : Kamu lagi apa?

__ADS_1


Kiran : Duduk di atas tempat tidur. Om lagi apa?


Adlan : Lagi ngepak baju.


"Ngepak baju?" keningnya mengerut, "jangan-jangan Om Adlan mau pergi jauh?"


Kiran : Om mau ke mana? ko ngepak baju segala?


Adlan : Om mau ke Sidney. Malam ini.


Kiran : Sidney? malam ini? ko mendadak?


Adlan : Gak mendadak ko. Kan Om udah pernah bilang, kalau Om mau pulang dulu ke Sidney buat ketemu orangtua, setelah masalah dengan Abiyu selesai. Dan sekarang masalah dengan Abiyu sudah selesai, Om harus segera terbang ke Sidney, supaya bisa buru-buru nikahin kamu.


Balasan ingin segera menikahi dirinya, membuat Kiran tersenyum tersipu malu sambil memandang layar HP, kuga menulis kembali untuk balasan.


Kiran : Semoga orangtua Om kasih kita restu.


Adlan : Orangtua Om pasti kasih restu. Kamu juga bilang ibu kamu ya, nanti biar pas papah Om datang ngelamar, ibu kamu gak kaget.


Kiran :Iya Om, besok aku mau nemuin ibu.


Adlan : Tidur sana. Udah malem. Besok masuk kerja pagi kan?


Kiran : Bisa ketemu dulu?


Adlan : Kayaknya gak bisa deh. Udah mepet waktunya.


Ada rasa sedikit kecewa saat permintaannya untuk bertemu sebelum pergi tidak bisa di penuhi, tapi ia berusaha biasa saja, dan kembali membalas pesan Adlan.


Kiran : Ya udah. Gak apa-apa. Om hati-hati ya. Cepat pulang.


Adlan : Pasti.


Setelah banyak mengirim pesan, juga saling mengucapkan selamat malam, Kiran menyimpan ponselnya di samping bantal dekat kepalanya. Ia menyelimuti dirinya segera tidur.


Karna pikirannya terus melayang entah ke mana, Kiran kesulitan memejamkan mata sampai ia harus kembali bangun membuka kembali ponselnya.


"22.30 Ya ampun. Dari tadi jam gak bergerak, masih aja di situ," katanya seraya melempar HP ke bawah bantal. Ia kembali berbaring sambil meringkuk.


"Kiran..." suara tidak asing itu tiba-tiba terdengar.


"Ya ampun. Apa lagi sih ini? Kenapa harus denger suara Om Adlan?" ia mengacak rambutnya frustasi.


"Kiran..." lagi dan lagi suara itu kembali terdengar. Ia duduk, coba mendengarkan suara itu secara jeli.


"Om di luar Ran. Keluarlah."


"Om Adlan? di luar?"

__ADS_1


__ADS_2