Dia Maduku

Dia Maduku
Pergilah


__ADS_3

Semenjak kejadian saat di kantor,Fatih betul-betul mengurus kepulangan Tania ke Sidney,ia meminta bantuan sang ayah untuk menjelaskan pada orangtua Tania agar tidak terus menyalahkan dirinya atas hal buruk yang menimpa putri mereka.


"Papah sudah menjelaskan semua sama orangtua Tania." Ucap Frans dalam sambungan telfon.


"Mereka mau mengerti?" Tanya Fatih was-was.


"Belum sepenuhnya menerima sih,cuma..ada beberapa proyek yang ia batalkan dengan perusahaan kita."


Fatih merasa tak enak hati. "Perusahaan papah banyak ruginya dong?"


"Gak apa-apa lah,masih banyak perusahaan yang mau bekerjasama dengan kita. Yang penting,rumahtangga mu dan Azky baik-baik saja."


"Alhamdulillah pah,kita baik-baik saja,ya..sempet sih kemeren berantem..tapi..sekarang sudah baikan ko."


"Baguslah,dan cepat buat Azky hamil,papah juga mau gendong cucu dari keturunan mu." Pintanya penuh harap.


"Pah.. Aisyah dan Asiyah juga anak ku,cucu papah."


"Iya... papah tau,papah sayang ko sama mereka,papah gak akan membeda-bedakan mereka." Coba meyakinkan. "Emang kamu gak kepengen Azky hamil?"


"Ya mau lah pah.." Fatih bersandar pada sandaran ranjangnya.


"Mangkannya,senjata kamu di asah lagi,biar gak tumpul."


"Enak aja. Gini-gini tahan sampe 5 ronde pah."


"Tapi kopong?" ha..ha..


"Doain dong pah.. Supaya Azky cepet hamil."


"Papah pati doa terus,peran utamanya kan kamu."


"Iya..iya.."


"Sudahlah,papah lagi sibuk. Cepat urus pasport Tania."


"Siap pah. Assalamualikum."


"Waalaikumsalam."


Selesai mengakhiri sambungan telfon dengan Frans,Fatih meletakan ponselnya di dalam laci. Ia melihat Azky sedang sibuk mengurus surat pengunduran dirinya dari Restauran.


"Belum selesai sayang?" Tanya Fatih sambil berjalan menghampiri sang istri yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Sedikit lagi mas." Jawabnya tanpa menoleh ke samping,di mana Fatih sudah berada di sana sambil memeluknya.


"Besok ikut gak?" Tanya Fatih,tanpa melepaskan pelukannya.


"Kemana?"


"Apartemen Tania."


Sejenak ia menghentikan aktifitasnya,lalu menatap wajah Fatih yang saat ini sedang bersandar di bahunya. "Mau ngapain?"


"Eiissh..mukanya biasa aja dong." Ucapnya dengan mencubit gemas hidung sang istri.


"Iihh....mau ngapain ke sana?"


"Kita bicara baik-baik sama Tania,supaya dia gak berharap sama aku."


"Apa dia mau dengerin?" Kata Azky sedikit khawatit.


"Mudah-mudahan.. Aku yakin,dia pasti mau dengerin kita. Lagian,sebetulnya dia orangnya baik ko,cuma mungkin...karna iri aja."


"Muji cewek lain di depan istri sendiri." Ucapnya sinis,Azky kembali dengan pekerjaannya,kesal.


Ha..ha..ha.. "Aku paling seneng liat kamu cemburu." Ujar Fatih kegirangan.


Azky menutup laptopnya,lalau merubah pososi duduknya menghadap Fatih. "Sekarang aku yang tanya.." Serius.


"Tanya apa?"


"Tapi jawab jujur."


"Ok..siapa takut."


Mereka duduk di atas sofa saling berhadapan. "Apa mas pernah cemburu sama aku?"


Fatih mengernyitkan dahinya. "Cemburu?"


"Gak pernah ya?"


"Emangnya kamu ada interaksi sama cowok?" Tanya Fatih.


"Pernah lah,maksudnya untuk urusan kerjaan aja."


"Lah itu,urusan kerja kan? Kenapa aku mesti cemburu? Aku percaya sama kamu sayang." Ia menangkup pipi sang istri dengan kedua telapak tangannya.


"Mmm.. Gak asik ah.." Azky bangkit dari duduknya,namun dengan cepat Fatih menahan tangan itu,lalu ia pun menoleh ke arahnya. "Kenapa?" Tanya Azky.


"Ada satu yang membuat ku cemburu."


"Apa?"


Sejenak ia diam,lalu menggelengkan kepalanya. "Gak ada sayang,aku bercanda. Aku percaya ko sama kamu." Ucapnya dengan senyum.


"Isshh.."


__ADS_1


Sedang di tempat lain,seseorang sedang syok mendapati dua garis biru di tespeknya. "Aaaaa..."



Yang tengah tertidur pulas pun akhirnya terbangun. "Aduuh...apa sih, pagi-pagi berisik banget." Teriaknya sedikit kesal.



Hikss..


hikss..


Ia keluar dari kamar mandi dengan tangis terisak.menenteng benda berbentuk kecil mungil panjang berwarna biru itu. "Kenapa kamu nangis." Terheran.



"Ini." Hikss..hikss.. Masih menangis bahkan setelah menyerahkan benda yang berisi dua garis biru itu.



"Apa ini?"



"Aku hamiiiilll..." Teriaknya.



"Hamil? Alhamdulillah... terimakasih sayang." Ucapnya penuh kebahagiaan



"Abyyyy.....aku gak mau hamiiiilll.....aku mau kuliah" hikss..hikss..



"Biar hamil,tetep bisa kuliah ko." Saut Abiyu.



"Gak mau,aku mau ngadu sama bunda." Kisya merebut tespek itu dari tangan Abiyu lalu membawanya keluar dari kamar mencari ibu mertuanya.



"Kis.. ayo dong,jangan marah." Ia mengikuti langkah sang istri dari belakang.



"Aku kan udah bilang,pake helmnya." Ucap Kisya tanpa menghentikan langkahnya. Ia terus mencari keberadaan ibu mertuanya. "Bunda di mana sih? Ko gak ada di mana-mana?"




"Tapi kenapa aku hamil?" Ia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.



"Pas keluar aku lepas.." Ucapnya pelan,namun Kisya masih bisa mendengarnya.



"Kamu jahat,kamu jahat." Kisya terus memukul Abiyu dengan tangannya,hingga si pemilik pun meringis kesakitan.



Dari kejauhan Shafiah melihat pertengkaran mereka. "Abiyu..Kisya... Kalian kenapa lagi?" Ucapnya dengan berjalan cepat menghampiri mereka.



Seketika Kisya berhenti memukul,lalu menoleh ke arah sumber suara. "Bunda..hikss..hikss..."



"Kalian kenapa lagi sih?" Tanya Shafiah terheran,karna sering sekali mereka bertengkar seperti anak kecil.



"Ini.." Kisya menunjukan dua garis biru di tespeknya.



"Kamu hamil..?" Tanya Shafiah.



Kisya mengangguk. "Iya bun,gimana dong?" ketakutan.



"Loh ko gimana? emang kenapa? kan ada ayahnya juga."



"Tapi aku mau kuliah bun,gimana kalau aku hamil."



"Masih bisa ko,kalau nggak,kamu cuti dulu sampai melahirkan."

__ADS_1



"Tuh kan bisa." Timpal Abiyu.



"Lama dong?"



"Ya gak apa-apa,"



"Lagian umurku baru 19 tahun,apa gak rawan kalau hamil?"



"Kalau masalah itu bunda gak tau,kamu ke dokter kandungan aja sama Aby."



"Ayo..." Ajak Abiyu penuh semangat.



"Aki mau pergi sama bunda." Rengek Kisya.



"Ya udah,nanti sore bunda anter ya."



Kisya mengangguk setuju.



"Ya udah,bunda mau nidurin dulu Audy,kasian udah ngantuk."



"Iya bun,aku juga mau ke kampus."



"hati-hati ya. Inget,kamu lagi hamil."



"Iya bun."



Dan akhirnya mereka di sibukan dengan kesibukannya masing-masing.



Malam hari di kediaman Tania,Fatih betul-betul datang ke sana dengan Azky. Cukup mengejutkan bagi Tania. "Tumben,kalian ke sini?" Tanya Tania cukup heran. Matanya tertuju pada tangan Fatih yang terus menggengg erat tangan istrinya.


"Tania..aku bawa sesuatu buat kamu." Fatih meletakan paspor itu di atas meja.


"Apa ini mas?"


"Paspor kamu hilang kan?" Tanya Fatih.


Tania mengangguk.


"Aku buat yang baru buat kamu."


Tanpa menjelaskan,Tania sudah tau apa maksud dan tujuan Fatih datang membawa paspor. "Kamu memgusir ku mas?"


"Bukan Tania,tapi di sini kamu hanya akan terus tersakiti. Aku gak bisa nikahin kamu." Jawab Fatih langsung pada intinya.


"Kenapa? Kamu melarangnya Azky? Bahkan kalian bisa bersatu karna aku." Hikss..hikss...


Azky diam tak mampu berkata.




Mudah-mudah gak kecewa ya 😁🙏.



Stay terus,jangan lupa jejaknya.



LIKE


KOMEN


VOTE



Jangan lupa untuk Follow ya,supaya bisa mendapatkan notifikasi langsung tentang update terbarunya.💋🙏

__ADS_1


__ADS_2