
Gilang sangat mengkhawatirkan hubungannya dengan Rani akan seperti apa setelah kedatangan Panji. Saat Panji jauh pun, mereka sering kali bertengkar, juga salah paham, apa lagi sekarang Panji sudah kembali dan siap bekerja di rumah itu lagi, apa lagi dia pulang dengan membawa gelar S1.
"Om rasa sebaiknya kamu tinggal di sini dulu, Panji. Siapkan lamaran, kamu datang ke kantir HRD melamar seperti biasa. Setelah itu Om bantu kamu untuk naik jabatan secepatnya," kata Fatih yang saat ini sedang berbincang dengan Panji di ruang kerjanya.
"Baik, Tuan. Segera saya mengurus semuanya besok."
Panji menolak saat Fatih akan mempososikan dirinya sebagai manajer, karena dia ingin menjadikan dirinya lebih berkualitas, dan sukses atas hasil kerja kerasnya sendiri.
"Kamu sih nggak mau saya jadikan manajer. Gak usah pake acara ngelamar ke HRD segala," kata Fatih.
Panji tersenyum. "Terima kasih, Tuan. Terima kasih anda sudah banyak membantu saya, saya ingin semua bangga dengan prestasi saya, bukan karena jabatan yang dengan instan bisa saya dapatkan.
Fatih mengangguk paham. "Baiklah, saya mengerti, dan saya bangga sama kamu."
Tok.
Tok.
"Masuk!"
Jglek.
pintu itu terbuka secara perlahan. "Abi, umi nungguin di meja makan."
Rani diperintahkan oleh Azky memanggil Fatih di ruang kerjanya, karena makan malam sudah siap.
"Iya, Nak. Sebentar Abi nyusul."
Sebelum menutup kembali pintu, Rani sempat melirik Panji, lalu mereka saling melempar senyum canggung. Hatinya berdebar setiap kali mereka bertemu walaupun tidak saling menyapa, Rani menyadari itu. Akan tetapi, dia berusaha biasa saja, bersikap seperti halnya Aisyah kepada Panji.
Kediaman Adlan.
Pernikahan mereka yang sudah berjalan bertahun-tahun, tidak membuat hubungan mereka menjadi hambar, atau merasa bosan.
Adlan begitu mencintai Kiran, begitu pun dengan Kiran yang sangat mencintai suaminya. Mereka tetap romantis walaupun belum dikaruniai seorang anak, mereka juga belum merencanakan progam hamil, karena dirasa Kiran masih muda dan masih ingin menikmati masa-masa berdua, walaupun terkadang dia merasa jenuh sendiri saat sang suami bekerja.
"Hari ini siapa yang nemenin aku di rumah?" tanya Kiran yang saat ini berada di atas pangkuan Adlan dengan menautkan kedua tangannya di atas bahu sang suami.
"Keponakan ku banyak. Kamu tinggal pilih mau yang mana? mau Audy? Kayla, si kembar Maharani, ada..."
"Si kembar bukan anak kecil lagi, Mas. Mereka udah dewasa, mana mau main ke sini," sela Kiran memotong ucapan Adlan.
"Atau kamu mau ikut aku ke kantor?" tawarnya lagi.
"Nggak ah, kalau Kayla sama Audy nggak sekolah, boleh deh mereka ajak ke sini, Mas. Buat nemenin aku."
"Ok. Nanti aku hubungin mba Shafiah dulu ya."
Kiran masih berada di atas pangkuan sang suami, sementara ia menghubungi Shafiah.
Adlan : "Assalamualaikum, Mbak." ucap salam Adlan setelah sambungan telepon terhubung dengan Shafiah, sang Kakak ipar.
Shafiah : "Waalaikumsalam, Adlan. Ada apa?"
Adlan : "Audy sekolah nggak, Mbak?"
Shafiah : "Nggak, Lan. Lagi libur.
"Libur, Sayang." Bicara kepada sang istri.
"Ya udah, suruh ke sini."
Shafiah : "Ada apa, Lan?" tanya Shafiah.
Adlan : "Anterin Audy ke rumah, bisa nggak, Mbak?"
Shafiah : "Buat nemenin istri mu?"
Adlan : "Iya, Mbak. Pak Ujang suruh nganterin, sekalian ****** Kayla, aku mau telepon Kayla dulu, dia sekolah atau nggak."
Shafiah : "Kayla ada di sini, Lan. Kisya lagi sakit, jadi mereka nginep di sini."
__ADS_1
Adlan : "Kisya sakit? sakit apa?"
Shafiah : "Demem, kayaknya kecapean, kamu tau sendiri dia kayak gimana kalau kerja."
Adlan : "Tapi Kayla libur sekolah kan?"
Shafiah : "Iya, sekolah mereka kan sama."
Adlan : "Ya udah, suruh pak Ujang anter mereka ke apartemen ku ya, Mbak!"
Shafiah : "Pak ujang lagi cuti, Lan. Nanti biar Abiyu aja ya yang anter.
Adlan : "Oh. Iya deh boleh."
Setelahnya mereka pun mengakhiri percakapan.
Adlan : "Assalamualaikum."
Shafiah : "Waalaikumsalam."
"Mereka libur, Audy sama Kayla," ucapnya sambil meletakkan ponsel di atas meja.
"Kapan mereka ke sini?" tanya Kiran antusias.
"Nunggu Abiyu bangun, soalnya pak Ujang gak ada, lagi cuti."
Seketika itu juga Kiran langsung menolak. "Nggak."
"Kenapa?" tanya Adlan dengan mengerutkan keningnya.
"Kamu gak ada di rumah, Mas. Nggak enak kan kalau Kak Abiy ke rumah."
"Abiyu kan cuma nganterin anak-anak, Sayang. Dia gak akan lama, Kisya lagi sakit soalnya."
"Tapi..."
"Sayang..." Adlan menautkan rambut panjang Kiran ke belakang terlinganya, sebelum kembali bicara, menatap wajah cantik itu dengan sangat intens.
Kiran menghela nafas, dengan cepat ia menghembuskannya.
"Kalau begitu aku boleh berangkat sekarang?"
Setelah penahanan selama satu jam, akhirnya Kiran membiarkan Adlan untuk berangkat ke kantor, karena sudah ditunggu oleh pak Herlambang untuk meninjau proyek baru mereka.
Kediaman Zahfran.
Abiyu mengerjap bangun karena suara dering ponsel yang begitu nyaring berdering sampai beberapa kali. Ia meraih benda pipih itu di atas nakas, lalu menjawab panggilan sambil berbaring.
Abiyu : "Hhmm..?"
Bram : "Baru bangun?"
Abiyu : "Iya, kenapa, Om?"
Bram : "nggak berangkat lagi?"
Abiyu : "Kisya masih demam, Om. Om hendel dulu semuanya ya." kata Abiyu sambil mengecek suhu tubuh Kiran dengan punggung tangan yang ia letakkan pada kening sang istri.
"Masih demam," gumamnya.
Bram : "Kenapa nggak dirawat?"
Abiyu : "Kisya nggak mau, Om. Katanya dia nggak suka bau rumah sakit."
"Abiy..." dengan suara yang sangat lirih, Kisya memanggil suaminya yang saat ini sedang melakukan panggilan melalui sambungan telepon.
"Iya, Yank?"
"Aku demam lagi kayaknya. Bisa minta tolong ambilin aku obat?" pinta Kisya merintih sambil memeluk Abiyu.
"Iya, aku ambilin, tapi makan dulu, Ya! bunda kayaknya buatin kamu bubur."
__ADS_1
"Jangan bubur, Biy. Bau."
"Kalau nggak makan bubur, makan apa dong?"
Bram diam, menunggu Abiyu sedang bicara dengan Kisya.
"Aduh, aku nggak tau, Biy. Apa ke gitu yang agak enakan."
Bram : "Kasih nasi padang aja," sela Bram menyahuti obrolan mereka.
Abiyu : "Enak aja. Udah dulu deh, Om. Kisya udah bangun. Pokoknya restoran om hendel dulu ya, aku nanti masuk kerja kalau keadaan Kisya udah enakan.
Bram : "Ya udah deh. Assalamualaikum."
Abiyu : "Waalaikumsalam."
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan Bram, Abiyu keluar dari kamar hendak mengambil air hangat untuk sang istri.
"Abiy..."
"Iya, Bun?"
"Kisya udah bangun?" tanya Shafiah yang saat ini sedang menata makanan di atas meja makan.
"Udah, Bun," jawab Abiyu sambil menuangkan air ke dalam gelas, setelahnya ia duduk di kursi meja makan.
"Ayah belum bangun?"
"Belum."
"Nggak kerja?"
"Nanti siang, katanya pengen ketemu dulu si kembar."
"Bunda ikut?"
"Iya, lah. Kangen juga sama mereka."
Abiyu mengangguk. "Ya udah."
"Adlan minta tolong, Sayang."
"Minta tolong apa?"
"Anterin Kayla sama Audy ke rumahnya. Buat nemenin Kiran, katanya dia nggak ada temen."
"Masa aku disuruh nemenin Kiran?" ejeknya sambil mengunyah buah anggur yang sudah disajikan di atas meja.
"Nggak usah ngawur. Cuma nganterin, habis itu pulang lagi." Tegas Shafiah, membuah Abiyu tertawa lalu merangkulnya.
"Iya, Bunda."
He.
He.
Gilang : "Temuin gue di kafe, jangan bilang Rani!"
Pesan yang Gilang Kirim untuk Aisyah.
Yang mau membahas perihal cerita DIA MADUKU boleh ya masuk gabung group chat untuk sekedar sharing atau saling menyapa.
Di sana juga akan ada beberapa pengumuman kalau saya berhalangan UP atau gangguan sistem yang kadang timbul tenggelam seperti kapal selam 😅.
Pokoknya Happy reading ya semua 🥰🥰
__ADS_1